TE SEBOQ SIQ BEBORO
Te Seboq Siq beboro

(Disembunyikan Beboro)

Naskah : R. Eko Wahono
Naskah ini didedikasikan Teater Lho Indonesia pada Jambore Sastra 2015 di Kupang
Sinopsis
Te Seboq Siq Beboro
(Disembunyikan Beboro)
Genta menghilang dalam permainan Te Seboq Siq Beboro. Tak satupun mengetahui keberadaannya. Mereka telah mencari di semak-semak belukar. Disebalik pohonan rimbun. Di sudut kampung. Mereka juga telah menanyakan kepada orang tua. Bukan jawaban tetapi kemarahan mereka dapatkan.
Malam semakin pekat. Tetapi sosok Genta tak juga ditemukan. Ini malapetaka besar, kata salah seorang dari mereka.Jika mereka tak juga menemukan Genta. Karena permainan tanpa sosok Genta menjadi hambar. Setiap ada perselisihan ia menjadi jalan penengahnya. Kehadirannya lebih dari sekedar persahabatan. Gagasan pikirannya jernih. Tubuhnya seakan memenuhi ruang dan waktu. Suasana riang penuh cinta memeluk tubuh mereka dalam setiap permainan.
Tetapi kini Genta raib. Tubuhnya seolah ditelan bumi. Kawan-kawannya telah berusaha keras mencari. Dalam suasana genting itu, mereka mencari jalan untuk dapat menemukan kembali Genta. Satu persatu mereka mengeluarkan pendapat berdasarkan keyakinan serta kepintarannya. Semakin banyak pendapat bukan jalan keluar didapatkan. Justru ketegangan bahkan satu sama lain tak ingin terkalahkan.
Salah satu dari mereka berkeyakinan bahwa Genta disembunyikan Beboro. Sosok paling ditakuti anak-anak di kampung. Dengan peralatan sederhana, mereka berkeliling kampung sambil memukul kentungan. Tutup dandang berukuran besar. Kaleng-kaleng bekas. Berharap Beboro berubah sikap dan mengembalikan Genta ke dalam pelukan mereka. Bermain seperti sediakala dengan suasana riang penuh cinta.
Apakah usaha mereka berhasil menemukan Genta? Siapa sesungguhnya Genta? Demikian pula cara-cara paling demokratis ala kawan-kawan Genta untuk dapat menemukan jalan keluarnya? Mari kita simak pertunjukan teater anak-anak dalam lakon Seboq Beboro.
Te Seboq Siq beboro
Naskah : R. Eko Wahono
Para Pemain:
- Anak 1
- Anak 2
- Anak 3
- Anak 4
- Anak 5
- Anak 6
- Anak 7
SEBUAH LATAR PEKARANGAN
TEMPAT BIASA ANAK-ANAK BERKUMPUL DAN BERMAIN PADA SORE MENJELANG TERBENAMNYA MATAHARI. SUARA RIUH ITU TERKADANG TENGGELAM LALU SECARA BERSAMAAN SEAKAN HENDAK MEMANJAT DINDING SENJA. SUASANA SULIT UNTUK DITEBAK. KEGEMBIRAAN DAN SUASANA SEBALIKNYA BISA BERUBAH CEPAT.SECEPAT MEREKA BERLARI LALU BERSEMBUNYI.HINGGA SUARA LINDAP DI TANAH LEMBAB.
ENGKAU BEBAS MENENTUKAN DIMANA SAJA UNTUK BERSEMBUNYI. DISEBALIK POHONAN RIMBUN ATAU BELUKAR LIAR. SEMAKIN LAMA KAWANMU MENCARI, MAKA RASA GUSAR ITU MENJADI SUATU PERMAINAN TERSENDIRI DALAM SEBOQ BEBORO.
MENJAGA NAFAS DAN LANGKAH AGAR TAK TERDENGAR KAWAN YANG BERJAGA. BAHKAN UNTUK MENYEMBUNYIKAN BAYANGAN TUBUHMU AGAR TAK TERTANGKAP SAAT ENGKAU LENGAH. BUKANKAH BAYANGAN TUBUHMU SELALU GUSAR DAN INGIN TERLIBAT PENUH DALAM PERMAINAN ITU.
DAN, KETIKA PERMAINAN USAI SENJA TELAH REBAH. MEREKA KEMBALI BERKUMPUL. KEMBALI MERAJUT PERISTIWA YANG BARU SAJA USAI. MEREKA BARU TERSADAR, BAHWA SALAH SATU DARI MEREKA BELUM KELUAR DARI PERSEMBUNYIANNYA. GENTA, TAK TERMASUK DALAM KERAMAIAN ITU. SALAH SATU DARI MEREKA MEMUTUSKAN UNTUK MENCARINYA. HINGGA LANGIT BENAR-BENAR PEKAT, TUBUH GENTA BELUM JUGA MEREKA TEMUKAN.
Adegan 1
LAMPU FADE IN DI BELAKANG LAYAR (MEMBENTUK SILHUET)
TAMPAK DI BELAKANG LAYAR MEREKA MENCARI GENTA. MEREKA ADA YANG BERTERIAK SAMBIL MEMUKUL KENTUNGAN. TUBUH-TUBUH SILHUET ITU BERGERAK TAK BERATURAN DI BELAKANG LAYAR.SEPERTI TAMPAK SEDANG TERJADI KEKACAUAN.SEMENTARA LAINNYA MEMBANTU MENCARI DI SEMAK-SEMAK BELUKAR. DI SEBALIK POHONAN.
EXIT.
LAMPU DI BELAKANG LAYAR FADE OUT
LAMPU FADE IN DEPAN LAYAR
MUSIK INTRO
CAHAYA TIPIS DEPAN LAYAR.
CAHAYA MENGIKUTI SALAH SEORANG PENEMBANG YANG BERJALAN DIAGONAL. IA MELANTUNKAN SEBUAH TEMBANG MENUJU SATU SUDUT PANGGUNG. TEMBANG ITU MENCERITAKAN TENTANG BETAPA SEDIHNYA IA KEHILANGAN SEORANG KAWAN DALAM SEBUAH PERMAINAN TE SEBOQ SIQ BEBORO.
Gadis Penembang (IA BERJALAN SAMBIL MEMBUNYIKAN GENTA/TRIANGLE)
Tembang:
Genta...oh Genta...
Mbe kamu Genta sang jaga te seboq siq Beboro
Mbe gamaq kamu Genta, sang te seboq siq Beboro....
Ni baturm lelah memete
Becat gamaq badaqk mbe gamaq tauq Genta
Selapuq baturm lelah berangen
(diucapkan secara repetitif (berulang)
DARI SUDUT PANGGUNG LAINNYA, BERMUNCULAN ANAK-ANAK DALAM SEBUAH PERMAINAN ANAK DI LOMBOK. SEUSAI PERMAINAN SALAH SEORANG DARI MEREKA ANGKAT BICARA TENTANG GENTA YANG TAK KUNJUNG DITEMUKAN.
Anak 1
Ini hanya buang waktu. Semuanya sudah cukup jelas. Beboro telah menyembunyikan Genta. Anak kecil seperti kita yang tidak bisa berbuat apa-apa. Apa kalian masih tidak mengerti.
Anak 2
Jangan bicara seperti itu. Kita semua berusaha menemukan Genta.
Anak 1
(Seperti sedang berpikir keras) Beboro. Kenapa hanya suka pada anak-anak. Bukan orang dewasa. Apa karena kita tidak berdaya. Tidak bisa melawan. Dan menuruti kehendaknya.
Anak 3
Jangan ngomong sembarang.
Anak 1
Kalau bukan karena Beboro, pasti dia sudah bersama kita lagi.
Anak 4
Belum tentu. Mungkin dia sedang menguji kita.
Anak 1
Menguji? Memangnya dia guru kita?
Anak 4
Kata-katamu berbau kecemburuan.
Anak 1
(Mengikuti akting Anak 4) Siapa cemburu siapa? Lagi pula, memangnya dia pantas untuk dicemburui? Sory layaou.
Anak 2
Sebaiknya kita cari lagi ditempat lain. Siapa tahu dia ada di sana.
Anak 1
Dimana? Dimana lagi kita harus cari. Di sana? Di sana ? Memangnya kamu berani?
Anak 4
Memangnya disana ada apa? Kamu berani?
Anak 1
Tentu saja berani. (Dengan nada serius) Dengar, lelaki yang pemberani itu adalah (Berhenti sejenak) lelaki pemberani.
Anak 2
(Setengah berbisik) Jadi, kamu benar-benar nggak takut?
Anak 1
(Juga mengikuti cara berbisik Anak 2) Takut? Takut pada apa? Takut pada siapa?

Anak 2
Saya hanya tanya, kamu takut nggak?
Anak 1
(Dengan lagak berani) Dengar, di kampung ini siapa yang tidak kenal bapak saya. Seorang veteran. Dia pemberani. Waktu jaman Jepang dulu, hanya dia yang berani tampil di medan pertempuran. Dengan pedang di tangan kanannya, seratus tentara jepang bersenjatakan samurai dia hadapi. Semuanya mati ti..ti.. ti.. Tanpa tersisa satu pun. Selebihnya lari tunggang langgang.
Anak 2
Yaok, saya tanya, kamu takut nggak? Bukan tanya siapa bapakmu. Memangnya kamu berani kesana sendirian?
Anak 1
(Dengan lagak berani) Hahahahaha.... siapa takut (Memukul dadanya sendiri)
ANAK LAKI 1 MELANGKAH KE SUDUT PANGGUNG DENGAN GAYA GAGAH BERANI. NAMUN BARU BEBERAPA LANGKAH IA SUDAH BERBALIK DAN BERTERIAK : "Ada beboro....."
SPONTAN MEREKA BERLARI BERHAMBURAN. ADA YANG TERJATUH KARENA KESENGGOL TEMANNYA. MEREKA LARI TERPONTANG-PANTING SEAKAN ADA MAHLUK YANG AKAN MENERKAM TUBUH MEREKA.
Anak 1
(Menghentikan larinya) Memangnya kalian percaya?
Bersama-sama
Percaya apa?
Anak 1
Ya jawab dulu. Percaya atau tidak?
Bersama-sama
Bagaimana kami bisa jawab, kalau tidak tahu pertanyaannya.
Anak 1
Yaoq. Makanya percaya apa tidak?
ANAK LAKI 2 BERTANYA KEPADA KAWAN-KAWANNYA DENGAN BAHASA TUBUH. TEMAN-TEMANNYA MENGGOYANG-GOYANGKAN BAHUNYA.
Anak 2
Lihat. Mereka saja bingung mau jawab apa.
Anak 1
Kalau kalian tidak percaya, kenapa kalian ikut lari tunggang langgang.(Tertawa) Tertipu.
ANAK LAKI 1 HENDAK KELUAR PANGGUNG.
ANAK-ANAK LAINNYA COBA MENGIKUTI ARAH KELUAR ANAK LAKI 1.TAPI SEWAKTU ANAK LAKI 1 BERBALIK, MEREKA TURUT BERBALIK PULA. SEAKAN SEDANG MENGERJAKAN SESUATU.
Anak 3
Dari pada percaya pada dia, lebih baik kita main yuk. Tapi, main apa ya?
Anak 4
Main Bendere Tumpukan Geres.
Embuk embang - embuk embang telage rempung sisoq,
Dedare bukaq kembang maraq jelo baruq tiwoq
Leeq ilas tole kejebol maten sampi, engat julu mudi,
Bawaq tipah jaje ruti
Ijik ijik ijang lembokeq dalam aiq,
Loq sidik bau udang siqne seboq leq pendaiq.
(Permainan Bendere Tumpukan Geres di atas yakni anak-anak berusaha untuk tidak menjatuhkan sebuah bendera yang ditancapkan di atas tumpukan pasir (geres).Jika salah satu dari mereka menjatuhkan, maka akan dijatuhkan hukuman sesuai kesepakatan bersama sebelum permainan).
MEREKA BERMAIN UNTUK MELEPASKAN KELELAHAN SETELAH MENCARI GENTA. DALAM PERMAINAN BENDERE TUMPUKAN GERES ITU, SALAH SATU DARI MEREKA TAK MAU DIJATUHKAN HUKUMAN. KARENA MERASA DICURANGI KAWANNYA.
Anak 6
Dia curang. Saya tidak terima.
Anak 4
Yaoq, kan kamu yang jatuhkan bendera.
Anak 6
(Mulai menangis) Pokoknya saya tidak terima. Dia curang.
Anak 7
Ya sudah.Namanya saja permainan. Tidak boleh ada yang disakiti. (Memanggil Anak 4) Kemari. Ayo bersalaman dulu. Tidak boleh ada dendam diantara kita. Oke.
ANAK 4 DAN ANAK 6 SALING BERSALAMAN.MESKI AWALNYA SALING MENJAGA GENGSI.TAPI AKHIRNYA KEDUANYA SALING MENERIMA. MEREKA BERSORAK BERGEMBIRA.
MEREKA BERLARIAN (MENYEBAR) DALAM ARAH BERLAWANAN. ADA KE KIRI.ADA KE KANAN. MEREKA MASUK KE BELAKANG LAYAR PANGGUNG.
Adegan 2
CAHAYA FADE IN (DEPAN LAYAR)
ADEGAN INI MENCERITAKAN TENTANG USAHA MEREKA MENCARI GENTA. DARI TEMPAT YANG MEREKA KENAL SEHARI-HARI HINGGA BENAR-BENAR ASING.PANGGUNG DISIRAMI CAHAYA BIRU MENDEKATI SUASANA MURAM.
DENGAN LAMPU BADAI MEREKA MENCARI GENTA. BANYAK PERISTIWA TERJADI. KETEGANGAN. PERDEBATAN SENGIT. TAK ADA YANG MAU MENGALAH DALAM MENYELESAIKAN MASALAH.
DENGAN KUDA TUNGGANGANNYA, ANAK 4 MEMIMPIN PENCARIAN GENTA. MEREKA TAK KENAL MENYERAH MESKI ANGIN, HUJAN DAN BADAI MENGHALANGI SETIAP KERJA KERAS. MEREKA HANYA MENGENAL SATU KATA: GENTA HARUS DITEMUKAN.
Ilustrasi Musik
Anak 4
Kita tak punya waktu lagi. Genta harus kita temukan. Jika tidak, kita akan mendapatkan masalah besar. Jangan menyerah kawan, meski hujan, angin dan badai menghajar dari segala penjuru. Kita tidak boleh tertipu lagi.
Semua
Benar.Semua hanya tipuan murahan.
Anak 4
Di balik hujan badai itu, di antara hujan dan halilintar, sebuah jawaban akan kita dapatkan. Aku yakin, beboro bersembunyi di sana. Kita harus segera temukan Genta sebelum matahari terbit. Ayo, lebih bersemangat lagi kawan-kawan.
Bersama-sama
Benar. Semua hanya tipuan murahan.
Anak 4
Beboro telah menguasai jagad raya. Beboro telah menguasai ruang dan waktu. Tempat gelap dan lembab adalah perkara musabab. Orang-orang menyerahkan diri masuk perangkap. Mereka menyukai tipuan murahan Beboro. Mereka nyalakan cahaya ditempat gelap untuk berpesta. Menghamburkan uang sambil berdansa. Tanah lembab mereka sulap jadi tempat maksiat. Meski berulang mereka baca kitab hingga suara mereka lindap.
Bersama-sama
Benar. Semua hanya tipuan murahan.
Anak 3
Sampai berapa lama lagi kita bertahan. Anginnya semakin keras.
Anak 6
Aku tak dapat melihat dengan jelas. Hujan terlalu deras.
Anak 1
Kita benar-benar telah diperdaya Beboro. Ini hanya buang waktu.
Anak 2
Kedua kakiku mulai keram.
Anak 5
Napasku mulai sesak. Kita hentikan saja permainan ini.
Bersama-sama
Ya, kita hentikan saja permainan ini.
Anak 4
Bertahanlah. Ini hanya tipuan murahan Beboro. Kita sudah terlanjur basah. Dan permainan ini baru saja dimulai.
Anak 2
Perutku mulai lapar
Anak 3
Kerongkonganku terasa kering.
Anak 5
Aku mau pipis. Boleh nggak?
Anak 4
(Berteriak) Bersiaplah kawan-kawan. Di depan badai topan akan menyambut kedatangan kita. Aku telah mencium aroma Beboro dari sini.
MENDADAK ANGIN, HUJAN DAN BADAI MENGHAJAR MEREKA. MEREKA SALING BERPEGANGAN SATU SAMA LAIN.
Anak 4
Berpeganglah yang kuat kawan-kawan.
ANGIN, HUJAN DAN BADAI TERLALU KUAT UNTUK MEREKA. DALAM HITUNGAN PENDEK, TUBUH MEREKA TERHEMPAS KE TANAH. SALING BERPENCAR SATU DENGAN LAINNYA.
PANGGUNG MENDADAK GELAP.
DENGAN SENTER, MEREKA MENCOBA MELANJUTKAN PERJALANAN MEREKA UNTUK MENCARI GENTA.
Anak 3
Kalian mendengarku?
Anak 2
Aku tak melihat apa-apa.
Anak 4
Kalian melihat Genta?
Anak 6
Aku hanya mencium bau anyir.
Anak 5
(Menemukan sesuatu. Berteriak) Eureka! Aku menemukan sesuatu.
MEREKA SEGERA BERGEGAS MENUJU ANAK 5. CAHAYA SENTER MEREKA BERLARIAN DI DINDING-DINDING GOA. SEPERTI MEMBENTUK LUKISAN CAHAYA.
Anak 7
Aku tak mendengar suaramu.
Anak 5
Aku menemukan sesuatu...
Anak 4
Dimana?
Anak 5
Di sana!
Anak 3
Di sana mana?
Anak 5
Di sini...
MEREKA BERGEGAS MENUJU ANAK 5. CAHAYA-CAHAYA ITU MENYATU DI DINDING. SEPERTI TUBUH MEREKA KEMBALI BERSATU.
CAHAYA FADE IN
Anak 3
Apa yang kau lihat?
Anak 4
Apa kau melihat Genta?
Anak 2
Apa dia bersama Beboro?
Anak 7
Genta baik-baik saja?
Anak 6
Apa kau benar-benar melihat Genta?
ANAK 5 TERDIAM SESAAT.
Anak 5
Aku tak melihat apa-apa...
Bersama-sama
Haaa... Jadi kamu tidak melihat Genta?
Anak 5
(Menggeleng)
Anak 4
Kenapa tadi bilang melihat sesuatu.
Anak 5
Saya takut.Sumpah, takut beneran.
Bersama-sama
(Ketawa terbahak-bahak)
Anak 4
Ini gila.Kita sedang melakukan tamasya yang edan.
Anak 1
Sudah aku bilang.Tak ada gunanya. Dengan kompas atau GPS kita belum tentu bisa menemukan Genta.
Anak 2
Menurut saya, Genta tidak disembunyikan melainkan bermain bersama Beboro. Ini menurut saya.
Anak 5
Sebaiknya kita pulang saja. Nonton Bo boboi lebih asyik. Sambil makan keripik.
Anak 7
Pikirannya makanan melulu.Tapi menurut analisis saya, Genta sedang melakukan sebuah proyek besar bersama Beboro.
Anak 6
Sok tahu...
Anak 7
Yaoq... ini masih menurut analisis saya. Kalau tidak percaya buktikan saja sendiri. Kalian lihat daerah pariwisata, itu kan tempat kesukaannya Beboro. Banyak tempat-tempat yang gelap dan cahaya remang. Tapi, anehnya ramai.
Anak 5
Boleh juga analisis kamu...
Anak 7
Masih menurut analisis saya, dalam dunia kuliner misalnya. Mana lebih ramai bakso Karunia atau mie setan? Pasti lebih ramai pembelinya mie setan. Itu karena muslihat Beboro. Itu analisis saya lho.
Anak 1
Itu kan analisis kamu. Tapi tidak ada hubungannya dengan hilangnya Genta.
Anak 7
Saya menegaskan bahwa itu analisis saya. Bukan untuk mempengaruhi pikiran kalian.
Anak 4
Tapi dengan mengatakan analisis itu, setidaknya kamu telah mempengaruhi kami.
Anak 7
Saya tidak setuju. Saya protes.
Anak 4
Saya juga tidak setuju. Saya protes.
Anak 3
(Ia Membaca Puisi Dengan Suara Lantang):
Sajak Orang Lapar
Karya: Ws. Rendra
kelaparan adalah burung gagak
yang licik dan hitam
jutaan burung-burung gagak
bagai awan yang hitam
…….
Anak 1
(Menghardik) He! Apa yang kamu lakukan. Kami sedang berpikir keras menemukan Genta.
Anak 3
Saya hanya mau baca puisi.
Anak 1
Ini bukan waktu yang tepat. Sekarang kita sedang berpikir keras bagaimana cara menemukan Genta. Memang, dengan caramu Genta bisa ditemukan. Jawab.
ANAK 3 KEMBALI MASUK DALAM KERUMUNAN KAWAN-KAWANNYA.IA MERASA KECEWA.
Anak 5
(Ia memainkan biolanya)
Anak 1
Ini apalagi. Setop... setop... Apa kupingmu budeg?
Anak 5
(Tetap main walau dilarang)
Anak 1
Kamu ngerti kata setop nggak!
Anak 5
(Menjawab dengan suara biolanya)
Anak 1
Suaramu. Aku minta suaramu. Bukan suara biolamu.
Anak 5
(Menjawab dengan suara biolanya)
ANAK 5 JUGA MELAKUKAN HAL SAMA SEPERTI ANAK 3.MASUK KE DALAM KERUMUNAN KAWAN-KAWANNYA.
CAHAYA BERANGSUR-ANGSUR SURUT.
Anak 4
Kita tak punya waktu banyak. Sebentar lagi matahari terbit.
Anak 1
Tak ada bulan. Pohonan. Waktu. Kita harus bergegas.
Anak 2
Sungai berwajah pucat. Jalan-jalan seperti ditinggalkan waktu.
Anak 6
Kita seperti sedang menebak cuaca. Baik atau buruk. Terang dan gelap. Tetapi di sini tak ada jendela. Rongga udara.
Anak 5
Kita sedang berjudi di meja waktu. Apa yang terjadi jika kita tidak menemukan Genta?
Anak 4
Yang pasti kita kehilangan seorang kawan baik. Kedua, ini jauh lebih penting, sejauhmana kita mampu memelihara empati dalam peristiwa ini. Jika tidak, maka aku meragukan kita sebagai manusia.
MENDADAK HUJAN, ANGIN DAN BADAI KEMBALI MENGHADANG PERJALANAN MEREKA UNTUK MENEMUKAN GENTA.
Anak 4
Berpeganglah yang kuat. Sebentar lagi kita akan sampai...
Anak 7
Kita tidak akan pernah sampai kemana-mana. Cahaya itu terlalu terang untuk kita arungi.
Anak 2
Ini bukan jalan menuju rumah kita.
Anak 5
Ini jalan menuju cahaya.
Anak 6
Mataku tak kuat memandang cahaya itu.
Anak 1
Genta dan cahaya itu bukan tujuan kita kawan-kawan. Sebaiknya kita kembalikan keyakinan kita untuk menemukan kebenaran yang satu. Kebenaran yang hakiki.
Anak 4
Berpeganglah yang kuat kawan-kawan. Semua perjalanan pasti ada batasnya. Aku melihat satu harapan disana.
Anak 5
Dimana harapan itu?
Anak 4
Di sana. Sebentar lagi kita akan sampai ke sana dan menemukan apa yang kita cita-citakan.
MEREKA EXIT
SUARA ANGIN, HUJAN DAN BADAI PERLAHAN SURUT.
CAHAYA PANGGUNG KEMBALI GELAP.
Adegan 3
CAHAYA FADE IN (TIPIS)
DARI SUDUT PANGGUNG, BERMUNCULAN ANAK-ANAK DENGAN MEMBAWA LENTERA BADAI.
MEREKA BERGERAK SECARA RITMIS KE SATU TITIK PANGGUNG. SUARA GENTA MENGIRINGI LANGKAH-LANGKAH MEREKA.
CAHAYA FOKUS DI WAJAH ANAK 1
Anak 1
Ini hanya buang waktu.Semuanya sudah cukup jelas. Beboro telah menyembunyikan Genta. Anak kecil seperti kita yang tidak bisa berbuat apa-apa. Apa kalian masih tidak mengerti.
CAHAYA DI WAJAH ANAK 1 PERLAHAN-LAHAN SURUT.
PANGGUNG KEMBALI GELAP.
HANYA TERSISA SUARA GENTA.
- SELESAI -
Mataram, Mei 2015
Komentar
Posting Komentar