ARSIP CATASTROPHE (2)


 

Lalu, diam-diam saya curiga jika Becektt ini orang Lombok asli. Karena orang-orang di kampung saya menyebut bencana dengan sebutan Bahle. Dalam situasi pandemik sangat kontras berbeda dengan peristiwa bencana gempa atau bentuk disaster lainnya di bumi. Pada situasi sekarang, setiap kota memiliki impresi berbeda terhadap corona. Televisi dan media sosial sibuk menggaungkan betapa bahayanya virus di 2020 ini. Sebegitu bahayanya, mereka para penguasa mengeluarkan kebijakan yang nyaris tidak masuk akal. Semua benda seperti masker atau alat pelindung muka menjadi mainan yang nilai dan jumlahnya diakrobatik menjadi permainan kapitalisme.




Lalu, bagaimana dengan nasib manusia?

Tak ada yang berubah. Bahkan nyaris terpedaya. Anda bisa lihat hari ini, betapa orang sibuk dengan menggunakan masker ketimbang bagaimana mempertahankan hidup itu sendiri. Jika anda tergolong tidak mampu secara ekonomi maka anda sudah sadar diri memposisikan diri di masa pandemik.

Bahkan, dalam lakon Catastrophe si Tokoh Sutradara menegaskan pada dialognya: "Mengangkat Kepalanya. Apalagi? Kau pikir dimana kita. Di Patagonia. Mengangkat kepala? Baiklah. Disitulah letak bencana kita."

Dari sini kita mesti melucuti satu persatu agar tidak bias. Mulai dari mengangkat kepala, Patagonia hingga konklusi yang menegaskan bencana kita.





Pada frame kalimat "Mengangkat Kepala" dan "Patagonia" memiliki ikatan tersendiri. Mengangkat kepala bisa diterjemahkan sebagai bentuk perlawanan atau ketidaksetujuan. Namun, kita harus melihat kalimat berikut yang menyebut Patagonia. Secara umum, lewat google kita bisa mendefinisikan dengan gamblang. Kota indah yang memiliki suhu yang sangat ekstrem. Tentu saja jika anda penyuka gletser tidak akan pernah melewatkan untuk berlibur ke tempat ini. Tapi, jika anda mundur jauh ke belakang, maka kita tak ada salahnya mengenal si Magellan. Orang bangsa Portugis yang menjelajah belahan dunia hingga menemukan daratan Patagonia. Mungkin lewat percakapan singkat dan kopi pahit, si Magellan mendapatkan satu catatan kecil bahwa orang Patagonia dipercaya bagian suku Tehuelche, yang memiliki postur tubuh di atas rata-rata orang bangsa Spanyol yakni 1.80 m.

Tak ada pengingkaran pada karakter tokoh Aktor. Kecuali berdiri secara masive menatap ruang hampa. Juga tidak hanya pada persoalan mengangkat kepala. Bencana itu baru saja dimulai. Melalui perpanjangan tangan Asisten Sutradara dan Luke si Penata Lampu, sutradara bergerak lebih eksploratif untuk melucuti satu persatu atribut yang ada pada tubuh aktor. Mungkin agak terkesan keranjingan. Tetapi untuk mengkerdilkan kemanusiaan harus dilakukan satu upaya yang signifikan. Tiada lain, menelanjangi perangkat otak sebagai tumpuan visi hidupnya.

Kaki. Sebelahnya. Tulang kering. Lutut. Putihkan. (Tokoh Sutradara)





Bagian vital dari organ mahluk hidup. Beckett mendedah bagian itu secara detail. Bukan sekedar melucuti kemanusiaan saja. Bahkan untuk melucuti satu persatu perangkat pembungkus ideologi dari pikiran kita.


Komentar

Postingan Populer