Membaca Pikiran Beckett Melalui Idiom Lokal Sasak 'Bahle'



Lakon Beckett memiliki kecenderungan bergenre absurd. Dialog-dialognya pun cenderung linier. Kita akan kesulitan untuk menemukan gradasi emosi yang signifikan pada tokoh-tokohnya.

 

Demikian pula pada lakon 10 naskah pendek terbaik, salah satunya Catastrophe. Dimainkan 4(empat) orang pemain terdiri dari: Sutradara, Asisten Sutradara, Aktor dan Luke si Penata Cahaya. Dari keempat tokoh tersebut, setiap karakter lebih mengedepankan pada permainan pikirannya masing-masing.

 

Jika merujuk pada judul Catastrophe yakni bencana, kita tidak akan mendapatkan secuilpun tentang definisi yang berkaitan dengan disaster (bencana alam). Beckett, seperti pada kecenderungan naskah-naskahnya, terutama pada lakon 'Waiting for Godot' mengedepankan absurditas pikiran para tokoh-tokohnya. Bukan pada dialog yang mereka lepas secara verbal. Pergulatan pikiran yang berputar-putar pada hal-hal yang itu-itu saja dan berkutat pada lokus yang sama. Namun esensi absurditas pikiran Beckett sejatinya realitas yang kita hadapi sehari-hari.


Kita cenderung melakukan pengulangan dalam hidup kita. Sementara waktu terus bergerak. Tanpa terasa kita sudah diambang senja. Mendapatkan tubuh yang kian renta.

 

Pada lakon Catastrophe, pengertian bencana melalui diskusi dalam setiap proses melahirkan kekuatan idiom lokal. Para pemain harus terlebih dahulu menangkap esensi dari bencana yang dimaksud dalam lakon tersebut. Lalu bagaimana dengan idiom lokal Sasak 'Bahle' yang kerap mereka gunakan masyarakat suku Sasak dalam kehidupan sehari-hari. Dalam pergumulan yang intens itu, kata 'Bahle' digunakan sebagai sebutan bencana yang diakibatkan ulah dan pikir manusia. Semacam sebentuk regulasi yang dihidangkan para pejabat untuk mengatur sistem pengelolaan negara. Regulasi itu tentu saja diolah berdasarkan hasil pemikiran sekumpulan manusia yang mereproduksi gagasan dimasing-masing batok kepalanya. Tentu saja, hasil olahan dari pikiran itu yang kemudian menjadi regulasi. Seperti umumnya yang kita hadapi dalam kenyataan bernegara, semua hasil bentuk regulasi tidak selalu menguntungkan bagi warganya.

 

Mungkin juga, ada kaitan dengan peraturan atau awig-awig yang tidak sepenuhnya mengakomodasi semua kebutuhan dasar pikiran manusia. Maka, relevansinya terkait hal di atas, nampak pada 'keingininan' Sutradara untuk selalu merubah hasil olah pikir yang telah dibungkus pada pertemuan sebelumnya. Sutradara punya kehendak serta otoritas untuk mengukur serta mengeksekusi semua hasil yang ada di dalam pikirannya.

 

Otoritas tertinggi bahkan nyaris tak tersentuh itu fatalnya berasal dari seorang mulut Sutradara. Mungkin ia semacam 'Penguasa' pada sistem yang berada penuh dipundaknya. Meski dengan perasaan jengkel, Asisten Sutradara tidak memiliki kuasa untuk mencegah apalagi membantah apa yang menjadi produksi dari pikirannya.

 

Lalu bagaimana dengan tokoh Aktor?

 

Aktor tentu saja bukan sebuah boneka. Ia juga mampu menghasilkan hasil olah pikir atau sejenis regulasi kecil-kecilan. Sama seperti halnya Tokoh Asisten Sutradara yang membaca keinginan Sutradara dalam menghasilkan hasil regulasi. Tetapi Sutradara selalu mengatakan bahwa ini bukan di Patagonia. Ia mungkin tak perlu mengangkat kepala terlalu tinggi. Seperti yang dilukiskan memiliki tubuh hingga 1,80 m  di atas rata-rata bangsa Spanyol yakni 1,55 m.  Mungkin pula, Beckett sepaham dengan informasi orang Portugis seperti Ferdinand Magellan yang bertugas semacam kurir mencari daerah penghasil rempah-rempah. Hanya sekedar untuk menyenangkan hati si Charles.

 

Kita bisa sepakat untuk tidak sepakat, bahwa 'bahle' tidak harus disikapi sebagai pihak lawan. Untuk membuat sesuatu yang wajar menjadi kerdil. Karena, seperti halnya pada masa pandemik corona yang sedang terjadi saat ini, mau tidak mau, suka atau tidak kita harus mengubah pola atau cara hidup kita dari sebelumnya.

 

Dan, pada realitasnya kita membaca dengan penuh kehati-hatian bahwa masker jauh lebih mahal dan urgen tinimbang urusan hidup itu sendiri.

 

 

                                                                                            

Salam Takzim

 

 

R. Eko Wahono

Pendiri Teater Lho Indonesia

Komentar

Postingan Populer