Catatan Pentas Lakon Fragmentasi Matinya Demung Sandhubaya
#Teater Lho Indonesia
Potret Kekuasaan Raja Mumbul
Dimana-mana mayat. Beribu-ribu yang mati di sini tidak tahu apa arti peperangan. Beribu-ribu ibu kehilangan putranya. Beribu-ribu putra kehilangan ayahnya. Bukan, keganasan itu bukan di sini; di Sela Penyangir ini. Tapi bermula dari pikiran manusia.
Sela Penyangir menjadi saksi, betapa kekuasaan membuka peluang siapa saja untuk mewujudkan segala bentuk kerakusan serta ketamakan manusia.Sebagaimana lazimnya sebuah cerita, semua bermula dari kecantikan seorang Lale Seruni. Meski telah bersuamikan Demung Sandubhaya, ia tetap bersikukuh untuk mempersuntingnya.
Ia mengumpulkan seluruh siasat untuk mendapatkan apa yang menjadi keinginannya itu. Disusunlah sebuah rencana, yakni dengan menuyelenggarakan adu ketangkasan di hutan Larang Gebong.
Siasat untuk melenyapkan Demung Sandhubaya berhasil. Nyawa suami Lale Seruni berakhir diujung sang Penombak, atas perintah Ki Harya Brangsoka. Namun, keinginan Raja Mumbul bukan berarti berhenti sampai di situ. Kematian seorang ksatria tersebut memantik perpecahan perang.
Demung Brangbantun tidak menerima atas kematian saudaranya itu. Maka ia pun melancarkan serangan balasan. Pertikaian pun tak terelakkan. Perang berkorbar antara Brang Bantun dengan Kerajaan Mumbul.
Pasukan telah disiapkan. Tombak-tombak mengacung ke angkasa menantang setiap bahaya. Pedang pedang terselipkan dipinggang. Kuda meringkik tidak sabar. Sela Penyangir pada subuh buta telah ramai dipenuhi prajurit Brang Bantun dipimpin Tumenggung Harya Patih. Seorang panglima perang ditakuti dan disegani baik lawan maupun kawan. Sela Penyangir akan merupakan garis depan pertahanan Brang Bantun.
Kesetiaan Lala Seruni terhadap suaminya tetap terikat hingga akhir cerita. Di penghujung cerita, sesuai janjinya, mereka akan bertemu di Menanga Baris. Meninggalkan semua kecintaan pada hal-hal yang bersifat duniawi.
Pertunjukan fragmentasi Matinya Demung Sandhubaya, naskah alm. Max Arifin, disutradarai R. Eko Wahono dimainkan Teater Lho Indonesia pada, Kamis, 17 November 2022, di gedung teater tertutup Taman Budaya NTB.

Fragmentasi Dari Lakon
Catatan:
Naskah ini telah diedit untuk kepentingan pementasan
Oleh: Kongso Sukoco
Mataram, 2 Mei 1991
Babak I
Adegan Enam:
Pelaku:
DALANG
LALE SERUNI
INAQ EMBAN
MUSIK IN
CAHAYA FADE IN
DALANG : Ada banyak kisah, anakku
Ini salah satunya
Tentang Wanita cantik dan penguasa
Tentang raja yang kian buta
Penguasa yang hendak mengangkangi segalanya
MUSIK RITMIS
(LALA SERUNI DIIRINGAN INAQ EMBAN DAN PENGASUH BERJALAN RITMIS. MELINTASI SETAPAK DEMI SETAPAK SECARA DIAGONAL. WAJAHNYA TEDUH DI BAWAH PAYUNG KESEDIHAN. MERAMBAT KE SEGENAP PENJURU TAMAN)
LALA SERUNI : Aku tidak dapat tidur, Inaq Emban. Malam ini aku sangat tersiksa. Aku tidak mampu mengatasi kegelisahan malam ini.
INAQ EMBAN : Jangan terlalu menurutkan perasaan. Itu tidak baik, dendeku yang manis. Tenteramkan hati. Jangan sampai ia menjajah Dende.
LALA SERUNI : Sebab Inaq belum pernah merasakannya.
INA EMBAN : Inaq juga pernah muda, Dende. Tapi enak saja tidurnya. Lihat badanku ini.
LALA SERUNI : (SETELAH DIAM BEBERAPA SAAT)
Mimpiku sangat buruk. Dalam mimpiku aku melihat suamiku, Raden Sandhubaya terbang jauh. Mengenakan pakaian serba putih. Ia terbang dan terus terbang. Tapi tampak jelas airmatanya berlinangan. Kemudian dia hilang ditelan awan.
Aku terbangun. Dan suamiku tidak ada di sampingku. Ia berdiri depan jendela memandang kejauhan. Dari jendela aku melihat bulan diselimuti awan.
Raden Sandhubaya lama berdiri di sana. Ia menarik nafas dalam-dalam. Aku pura-pura tidur, padahal mataku nyalang memandangnya.
Sampai kokok ayam pertama ia masih berdiri di sana. Ketika ia berbalik, dengan cepat aku menutup mataku. Dan Ketika kubuka lagi, ia sedang mengelus-elus gagang kerisnya yang tergantung dekat jendela itu.
INAQ EMBAN : ya, namanya saja mimpi, Dende. Mimpi adalah bunga hidup. Waktu pertama kali bertemu Raden Sandhubaya, yang memikat Dende pertama kali adalah keris itu. Sudah wajar kalau hal-hal seperti itu sampai dibawa ke peraduan.
LALA SERUNI : Aku menerima Raden Sandhubaya karena pribadiya. Jiwa ksatrianya. Beberapa kali memenangkan pertandingan adu tombak di hutan Larang Gebong. Permainan yang hanya dilakukan para ksatria. Ia jujur. Patuh. Sabar. Ia pahlawanku, Inaq.
INAQ EMBAN : Lantas, kenapa Dende susah?
LALA SERUNI : Ada firasat buruk, Inaq Emban.
INAQ EMBAN : (MENGELUS)
Sebagai putri Rangga, Dende tidak bisa tidak kena imbas semua masalah yang menjadi pemikiran ayahanda. Tapi masalah-masalah seperti itu harus kita terima secara wajar. Sebagaimana kita menerima hidup ini.
LAMPU FADE OUT
Adegan Tujuh:
Pelaku:
LALE SERUNI
RADEN SANDHUBAYA
Dalang : Ki Pati nabuh tengeran
nulih mangkat saking wong
sanagari…
kentongan telah ditabuh menandakan besok pagi acara menuju Hutan Larang Gebong dimulai. Mereka yang ikut segera menyiapkan segala sesuatunya. Perbekalan disiapkan. Senjata diperiksa dan diperbaiki. Begitu pula dengan kuda tunggangan dan anjing-anjing perburuan.
Besok pagi kita bakal menyaksikan suatu arak-arakan panjang yang hanya terjadi setahun sekali.
Dari hutan Larang Gebong terdengar kegembiraan. Mereka akan menyaksikan adu ketangkasan para satria kerajaan Mumbul.
Tetapi,
Di sebuah puri kecil, suasana muram dan kelabu menghinggapi penghuninya.
MUNCUL LALU SERUNI DAN RADEN SANDHUBAYA
LALE SERUNI : Jadi, kanda tetap berkeras ikut lomba berburu di Larang Gebong?
SANDHUBAYA : Ya, begitulah.
LALU SERUNI : Apakah aku tidak punya wewenang untuk melarang?
SANDHUBAYA : (Merenung)
Aku adalah seorang Demung kerajaan. Adalah kewajiban para ksatria untuk hadir bersama sang Prabu. Tidak hadir berarti pembangkangan atau dicap sebagai pengecut.
LALE SERUNI : Mimpiku sangat buruk. Kanda tidak boleh pergi ke hutan Larang Gebong. Ada firasat tidak baik.
SANDHUBAYA : Dalam batas-batas tertentu memang kita harus memikirkan jalan hidup pribadi.
Mungkin kita adalah korban ketidakbenaran tindakan orang lain. Mungkin, tapi aku tidak takut menghadapi nasib. Sebab nasib adalah urusan Sang Hyang Batara. Kau tidak perlu bersedih.
LALE SERUNI : Aku membayangkan hidup selama-lamanya disisi kanda. Betapa bahagianya.
SANDHUBAYA : Hidup itu bukan panjangnya yang penting. Tapi apa arti yang kita berikan padanya. Jadi tak ada yang perlu dirisaukan.
LALE SERUNI : Kedamaian itu ingin kurasakan selamanya.
SANDHUBAYA : Kau tidak salah, Dende. Yang kumaksud, kebahagiaan itu yang wajar saja. Pertemuan sama wajarnya dengan perpisahan. Hukum alam yang harus kita terima.
Kita
tidak mampu menolak datangnya nasib. Kita diajarkan sejak kecil macam-macam
kebaikan lewat agama, tata Susila, tata pergaulan, tata krama, arti jiwa
satria, semuanya meminta kita berbuat baik.
LALE SERUNI : Kanda, apakah kau masih mencintaiku?
SANDHUBAYA : (Tersenyum dan memegang Pundak Lale Seruni)
Tentu, dende. Aku sangat mencintaimu. Selama. Kata itu sering kau bisikkan ke telingaku. Aku seperti dialiri kekuatan gaib. Hati seperti terluka bila kata itu menginggalkan kita. Dan hati yang luka bisa berbalik menjadi dendam.
Oleh sebab itu, kita harus tetap memberi isi suci padanya. Agar kita tidak terluka bila ia meninggalkan kita. (PAUSE)
Besok pagi aku harus berangkat menuju Hutan Larang Gebong. Aku akan bertanding penuh kejujuran. Memperlihatkan darah ksatria yang mengalir dalam tubuhku. (PAUSE)
Malam telah larut. Kita perlu istirahat untuk memulihkan tenaga.
LALE SERUNI : Aku ingin malam ini tanpa akhir.
Ah, firasat ini, betapa menakutkan. Rasanya ini malam terakhir kita bersama. Sekiranya sesuatu terjadi yang mengakibatkan kita harus berpisah, kita akan bertemu lagi di Menanga Baris. Di alam yang lebih abadi. Jemputlah aku di sana.
SANDHUBAYA : Aku akan menjemputmu, Lala Seruni. Percayalah.
(KEDUANYA BERPANDANGAN. SANDHUBAYA MENUNTUNNYA)
DALANG : hing tembeh maleh hatumewa
hing lautan hangambil hika mirah ….
INSERT:
DALANG NEMBANG.
ADEGAN SANDHUBAYA MASUK DALAM PERANGKAP PERBURUAN. MATA LIAR DAN UDARA PANAS MEMBUNTUTINYA. DARI ARAH BELAKANG, PENOMBAK MENDEKATI MANGSA. ANTARA PEMBURU DAN DIBURU MENYATU DALAM DEBU. AMUK. MATA NYALANG DAN AROMA KEBENCIAN MENJADI HUJAN MENAKUTKAN.
LAMPU FADE OUT
Adegan delapan:
Pemain:
DALANG
PENOMBAK
Setting:
SUATU TEMPAT
PANGGUNG BERWARNA PUCAT.
MUSIK RITMIS IN
(ANSAMBLE VOICE)
TAMPAK SILHUET ORANG-ORANG SEPERTI PULANG DARI MEDAN PERANG. PARA PEREMPUAN MEMBAWA PAYUNG BERGERAK RITMIS. MENGHINDAR DARI HUJAN ISAK TANGIS. SERTA RASA KECEWA PARA KSATRIA YANG MEREKA PIKUL DARI LEMBAH SELA PENYANGIR.
Dalang : Matahari tampak lesu di Barat. Kelelahan menghinggapi seluruh jagad. Para satria dan rakyat bergegas pulang untuk istirahat. Namun, di saat keremangan menjelang malam, mereka menumpuk dendam dan hati seperti berkecamuk. Antara bayangan gagal dan keberhasilan. Sementara bumi masih berpeluh oleh hentakan kaki ratusan ekor kuda. Awan mulai gelap dan gelap terus untuk menutup tindakan jahat yang gentayangan dimana-mana.
(DALAM KEREMANGAN MUNCUL DEMUNG SANDHUBAYA DAN DIHADANG DUA ORANG TAK DIKENAL. PADA SAAT ITU DEMUNG SANDHUBAYA DIBUNUH DAN MAYATNYA DIBAWA PERGI)
Sang hyang Batara!
Kau sempurnakan pembantaian itu,
oh, Sandhubaya perkasa tiada menghindar bahaya
karena ia berjalan bersama kepercayaan dalam dada
baginya bumi adalah kekasih
yang telah dihafal tapi yang harus menjadi korban
ketidakbenaran orang lain.
tanah lombok akan bergetar lagi
seperti dijanjikan sejarah untuk
menepatkan wajah manusia di dalamnya.
senjata akan diangkat lagi sebelum
sampai ke tempat penyimpanan.
api akan menyala dan berkbar lagi
membakar kampung dan harta.
kedamaian dan ketenteraman menjadi
suatu impian yang kosong.
(MUSIK)
debu masih mengepul di udara
ringkik kuda dan derit roda pedati
menjadi satu pengiriman pesan
suasana liar
matahari sudah hampir sekarat
terbulir di perbukitan sebelah barat.
PENOMBAK : (MUNCUL. MATANYA LIAR. WAJAHNYA KAKU)
Diam… Diam semua!
(TIBA-TIBA SUASANA MENJADI HENING MATI)
Lihatlah diriku!
Aku menginjakkan kaki kuat-kuat
Di bukit dan dengan dendam dan amarah
Telah mencoba menampik kodrat
Sang Hyang Batara!
Dengarlah gemuruh amarahku.
Di ujung keris ini masih ada bekas
Darah seorang ksatria.
Telah kubunuh Sandhubaya
Atas perintah Ki Harya Brang Soka!
Sandhubaya
tiada merintih
dan menghayati sempurnanya pembunuhan
terhadap dirinya
apakah dendam, apakah pengabdian, takdir dan kesatriaan?
ya, untuk sementara tak ada gunanya diperbincangkan
tugasku sebelum matahari terbenam
adalah membunuh Sandhubaya.
Tak perduli apakah dewa-dewa akan rugi atas kematiannya.
Dewa-dewa, ramalkan terus
Apa akan terjadi setelah pembunuhan ini!
Oh, Lala Seruni yang cantik jelita,
Kecantikanmu telah mampu membina dendam
Dan meluncurkan ribuan derap langkah
Kaki manusia dan kuda
Dendam itu sempurnalah sudah,
Ya, dendam itu sempurna sudah!
LAMPU FADE OUT
Adegan Sembilan
PEMERAN:
LALA SERUNI
INAQ EMBAN
SETTING:
SUATU TEMPAT
Lala Seruni : (DALAM KEADAAN SEDIH. RAMBUTNYA TERURAI. BAJUNYA KUSUT)
Inaq Emban, pulanglah. Hiduplah dengan tenteram bersama anak dan suamimu. Aku harus pergi memenuhi janjiku. Suamiku akan menjemput aku di Menanga Baris.
Inaq Emban : Pikirlah baik-baik, dende manis. Nasib manusia memang telah ditentukan Sang Hyang Batara.
Lala Seruni : Tidak, inaq Emban.
Apakah yang lebih kuat dari cinta? Kalau kau melarang aku Inaq Emban, dimanakah aku akan hidup?
Inaq Emban : Apakah itu satu-satunya jalan yang harus ditempuh, dende manis. Sampai dimana kita dapat mengandalkan akal kita? Dendeku, jangan hanya menuruti perasaan belaka.
Lala Seruni : Entahlah. Ia tidak kubiarkan mati sendiri. Kematiannya karena aku. Ya, akulah penyebab kematiannya. (Menahan tangis)
Aku tidak tahu apakah perasaan atau akal yang kupergunakan selama ini. Betapa pun, aku ingin memberikan isi yang suci pada cinta kami.
Aku harus pergi, Inaq Emban. Terima kasih atas kesetiaanmu selama ini. Kau telah mengabdi pada keluargaku sejak puluhan tahun lalu.
Aku tidak tahu bagaimana nasib kerajaan ini sepeninggalku. Aku berharap selalu damai. Kalau ada yang menuntut balas, rakyatlah yang akan menderita.
Aku tidak mampu menyaksikannya, Inaq Emban, sebab itu sebaiknya aku pergi.
Di sudut kamarku ada bungkusan. Ambillah, peliharalah dan selalu ingatlah padaku. Aku sebenarnya mencintaimu, Inaq Emban.
Sungguh. Maafkan kesalahan-kesalahanku selama ini. Aku pergi.
(LALE SERUNI BERJALAN TERUS, SEMENTARA INAQ EMBAN MENANGIS DAN MEMANGGIL NAMA LALA SERUNI BERKALI-KALI. LALA SERUNI MENGHILANG DI TELAN MALAM).
LAMPU FADE OUT
BABAK II
Pemeran:
DEMUNG BRANG BANTUN
TUMENGGUNG HARYA PATIH
KI MANDALA
KI JANGGA
Settingg:
KEDIAMAN DEMUNG BRANG BANTUN
DEMUNG BRANG BANTUN : (BERBALIK MEMANDANG SEKITAR. KEMUDIAN PADA PELAYANNYA. LANTAS MEMANDANG KEJAUHAN. NAFASNYA TURUN NAIK. IA SEDANG MENANTI SESEORANG)
Tercium bau amis darah. Ditelingaku terdengar rintihan kesakitan. Hatiku berdebar. Akan terjadi pembunuhan sia-sia dan betapa palsunya apa yang disebut kepahlawanan.
TUMENGGUNG HARYA PATIH : Salam sejahtera. Paman Demung Brang Bantun, maaf kami terlambat. Sangat sulit mencari keterangan tentang Raden Sandhubaya. Perjalanan kami selalu terhalang. Dimana-mana orang berdiri mengawasi penuh curiga.
DEMUNG BRANG BANTUN : Katakan segera kabar adikku.
TUMENGGUNG HARYA PATIH : Maafkan pamanda. Raden Sandhubaya telah mereka bunuh. Prabu Mumbul berkeinginan mempersunting Lala Seruni. Pembunuhnya adalah penombak ulung kerajaan.
(SUASANA HENING. SEMUA MENUNDUK. MENANTI TANGGAPAN DEMUNG BRANG BANTUN)
Maafkan, pamanda, berita ini menghancurkan hati pamanda.
DEMUNG BRANG BANTUN : Sang Hyang Batara. Kesewenang-wenangan terjadi. Inilah yang kutakutkan. Akan terjadi pembunuhan yang sia-sia. Bagaimana pendapat kalian?
TUMENGGUNG HARYA PATIH : Itu penghinaan, pamanda. Kita harus menuntut balas.
KI MANDALA : Saya sependapat. Kalau kita berdiam diri, tidak mustahil mereka akan menginjak-injak kita lebih hebat lagi.
KI JANGGA : Saya juga berpendapat demikian. Saya akan menyiapkan perbekalan yang dibutuhkan.
DEMUNG BRANG BANTUN : (SEPERTI BERBICARA PADA DIRI SENDIRI) Alam akan rusak. Itukah yang diinginkan manusia?
TUMENGGUNG HARYA PATIH : Maafkan, pamanda. Kita harus bersikap tegas terhadap Prabu Mumbul yang bertindak sewenang-wenang. Terhadap penguasa yang bertindak sewenang-wenang kita harus berani mengatakan “tidak!”
DEMUNG BRANG BANTUN : Perang tak dapat dielakkan. Apakah Sang Hyang Batara akan membenarkan kita?
TUMENGGUNG HARYA PATIH : Bukan di situ masalahnya pamanda. Perang memang mengerikan. Penuh korban. Tapi di atas semuanya, kita mendambakan zaman baru. Zaman lama adalah kesewenang-wenangan yang dilakukan Prabu Mumbul dan kawan-kawannya. Zaman baru adalah zaman damai, saling menghormati, saling menghargai, rakyat mempunyai kesempatan lempang menuju ke kemakmuran dan kesejahteraan.
KI JANGGA : Prabu Mumbul sudah lupa diri, pamanda. Beliau memerintah kerajaan hanya untuk pribadinya serta kerabat kerjaan, bukan untuk rakyatnya. Tanpa tindakan, kami tidak tahu kemana harus membuang muka. Atau kami akan bersembunyi sebagai petapa.
(PAUSE)
DEMUNG BRANG BANTUN : (SETELAH MERENUNG) Baiklah. Aku sudah mendengar isi hati kalian. Kita didesak mengangkat senjata. Untuk mempertahankan harkat manusia kita dipaksa mengorbankan manusia. Kedengarannya aneh.
(PAUSE)
Aku menyerahkan pimpinan pasukan Brang Bantun kepada Tumenggung Harya Patih.
(TUMENGGUNG HARYA PATIH BERLUTUT)
Ki Mandala kuserahkan tugas menjaga kenteraman di Brang Bantun.
(KI MANDALA BERLUTUT)
Ki Jangga akan menyiapkan perbekalan selama peperangan.
(KI JANGGA BERLUTUT).
Dan Lurah Kemawon selalu berada di sampingku.
(LURAH KEMAWON BERLUTUT)
Baiklah. Kita mengangkat senjata karena tak punya pilihan lain. Selamat berjuang.
Lampu FADE OUT
Adegan dua
Pemeran:
DALANG
PRABU MUMBUL
DALANG : (PANGGUNG GELAP)
Tak terelakkan. Perang berkorban antara Brang Bantun dengan Kerajaan Mumbul.
Pasukan telah disiapkan. Tombak-tombak mengacung ke angkasa menantang setiap bahaya. Pedang pedang terselipkan dipinggang. Kuda meringkik tidak sabar.
Sela Penyangir pada subuh buta telah ramai dipenuhi prajurit Brang Bantun dipimpin Tumenggung Harya Patih. Seorang panglima perang ditakuti dan disegani baik lawan maupun kawan. Sela Penyangir akan merupakan garis depan pertahanan Brang Bantun.
(BEGITU LAMPU MENYALA, TUMENGGUNG HARYA PATIH BERDIRI MEMBELAKANGI PENONTON DI UC. IA SEPERTI MEMANDANG DARI ATAS PERBUKITAN. MEMANDANG KE BAWAH MELIHAT PRAJURIT-PRAJURITNYA. IA TAMPAK SEPERTI MENGERAHKAN TENAGA DALAMNYA. MENGGELIAT-GELIAT)
Dari atas perbukitan, Tumenggung Harya Patih memberi perintah pada prajuritnya. Barisan terdepan maju menyongsong musuh. Menghamburkan diri ke tengah-tengah prajurit kerajaan Mumbul. Mereka dipukul mundur dan menarik diri ke Sela Penyangir. Musuh tidak tahu di sana menanti ribuan prajurit Brang Bantun siap untuk menyergap. Prajurit kerajaan Mumbul masuk perangkap.
(musik)
Dan berjatuhanlah prajurit-prajurit kerajaan Mumbul. Mayatnya bertumpuk dan berserakan memenuhi lembah Sela Penyangir.
Udara gelap oleh debu yang berterbangan ke angkasa. Sorak sorai prajurit Brang Bantun membelah membahana menandakan kemenangan. Api menyala berkobar diselingi ringkik dan derap kaki kuda. Dunia seperti tercerabut dari akarnya. Terbalik dan menjadi dunia yang lain. Dunia asing yang tak dikenal manusia. Mayat dari kedua belah pihak memenuhi lembah membangkitkan kengerian tiada tara. Dada terbelah. Kaki tangan terpotong. Otak berhamburan dari kepala yang pecah. Amis bau darah memenuhi udara. Berbaur dengan bau keringat.
(MUSIK MEREDA. ASAP DUPA BERHAMBURAN KE UDARA. SEPI. MUSIK MEMBAWAKAN LAGU SEDIH. PADA SAAT ITU MUNCUL PRABU KERAJAAN MUMBUL DENGAN PARA PEMBESAR KERAJAAN)
PRABU MUMBUL : (DENGAN PENUH KESEDIHAN)
Bukan sekali dua aku menyaksikan peristiwa seperti ini. Tapi yang satu ini menimbulkan kengerian tiada tara.
Dendam. Telah sanggup menggerakkan mereka datang kemari, hanya untuk mati.
(PAUSE)
Dimana-mana mayat. Beribu-ribu yang mati di sini tidak tahu apa arti peperangan. Beribu-ribu ibu kehilangan putranya. Beribu-ribu putra kehilangan ayahnya. Bukan, keganasan itu bukan di sini; di Sela Penyangir ini. Tapi bermula dari pikiran manusia.
(BERBALIK MEMANDANG PEMBESAR-PEMBESAR KERAJAAN)
Kalau melihat korban ini, yang bertumpuk dan berserakan di sini, aku ingin menghancurkan kejahatan itu dengan tanganku sendiri.
(IA MENUSUK DIRINYA. YANG HADIR TAK MENYANGKA AKAN TERJADI BUNUH DIRI. SEORANG PENGAWAL DENGAN CEPAT MENANGKAP TUBUH YANG REBAH ITU. PRABU MUMBUL MATI SEKETIKA. MAYATNYA DIGOTONG KELUAR)
(MUSIK TRAGIC)
Babak II
Adegan enam
Pemeran:
DALANG
DALANG : (MENGACUNGKAN TANGAN)
Ini harus kau mengerti, anakku.
Semuanya telah berlalu. Semuanya menempatkan dirinya di belakang kita. Kita harus terus maju menantang hidup itu.
Kau mempunyai kewajiban untuk memulihkan kerusakan-kerusakan yang disebabkan tangan-tangan manusia. Itu lebih baik. Pengabdian pada Tuhan Yang Maha Esa dan kemanusiaan.
Malam makin larut. Kepekatan akan meliputi jagad ini. Besok juga adalah hari. Hari yang cerah. Hari yang selalu dijanjikan. Kewajibanmu masih banyak.
(KI DALANG BERGEGAS. MENUTUP LONTAR DI DEPANNYA. MEMPERBAIKI LETAK KACA MATANYA. BERDIRI. MEMBETULKAN BAJU DAN KAINNYA. KEMUDIAN BERJALAN LANGSUNG MELEWATI TENGAH PENTAS. TURUN DAN LANGSUNG BERJALAN MELEWATI PENONTON. SEMENTARA LAMPU SAAT ITU MAKIN MEREDUP)
Komentar
Posting Komentar