LAKON CATASTROPHE

Catatan Ringan Pasca Pentas Lakon Catastrophe







Pentas lakon Catastrophe karya Samuel Beckett, disutradarai R. Eko Wahono dan dimainkan Teater Lho Indonesia dipentaskan dalam situasi pandemik covid 19 pada 24 Juli 2020 di gedung teater Taman Budaya NTB pada pukul 10.00 Wita. Pertunjukan berlangsung dengan protap standar yang diterapkan pemerintah yakni penonton yang hadir harus menggunakan masker pelindung dengan jumlah terbatas. Pertunjukan dapat disaksikan secara live streaming bagi penonton yang tidak dapat hadir atau memilih menonton di luar gedung pertunjukan. 




Lakon Catastrophe merupakan pentas perdana komunitas Teater Lho Indonesia di tahun 2020 sejak 2014. Pemilihan naskah Catastrophe sendiri berawal dari diskusi pendek menyikapi situasi sosial di dalam masyarakat berhadapan dengan virus corona. Tentu saja apa yang dialami masyarakat saat ini juga terjadi dibeberapa negara lainnya. Situasi chaos dan dalam ketidakpastian hidup menimbulkan banyak ketegangan serta kecemasan baik personal maupun komunal. 



Dampak dari virus corona yang masif menyebabkan pemerintah baik pusat maupun lokal mengeluarkan kebijakan khusus. Mulai dari pembatasan secara besar-besaran, menutup hotel-hotel, membatasi jam buka untuk pertokoan hingga meliburkan para pelajar dan mahasiswa dalam waktu yang tidak ditentukan. Penutupan hotel tentu saja menimbulkan dampak pengangguran dalam jumlah yang krusial. Karena banyak yang terdampak maka ekses terjadi di masyarakat adalah pada berkurang atau hilangnya pendapatan untuk keberlangsungan hidup mereka. 




Dampak psikologis yang terjadi di tengah masyarakat menimbulkan situasi yang oleh masyarakat suku Sasak dengan sebutan Bahle. Semacam bencana yang hadir di tengah keberlangsungan hidup manusia. Bencana dimaksud bukan pada anatomi disaster yang menyebabkan tanah longsor, kemarau berkepanjangan ataupun gempa. Melainkan lebih pada psikis yang menimbulkan dampak luas. Mulai dari rasa tidak percaya pada kekuasaan hingga kriminalitas. 





Rasa tidak percaya pada kekuasaan muncul lantaran pemerintah seakan tidak memiliki opsi untuk memecah kebuntuan yang terjadi di tengah masyarakat. Disatu sisi masyarakat butuh kepastian hidup lantaran tidak memiliki pemasukan. Mereka butuh uang untuk membeli kebutuhan hidup. Ketimpangan sosial serta kecemburuan muncul dari efek bantuan sosial (bansos) yang tidak tepat sasaran. Kericuhan tak dapat terelakkan di tengah masyarakat. 

Lalu bagaimana dengan kriminalitas?

Kriminalitas hadir sebagai dampak dari kebuntuan pemerintah dalam menyelesaikan persoalan ekonomi di tengah masyarakat. Disatu sisi masyarakat butuh uang sementara pemerintah lebih kepada berupa barang/sembako. Pada posisi ini, pemerintah seakan memosisikan diri seperti pelaku niaga. Mencari keuntungan ditengah terpuruknya kondisi ekonomi masyarakat. Daya beli merosot. Perputaran uang mengalami kemandulan akut. 



Catastrophe atau malapetaka dalam pemikiran Beckett, tentus saja tidak secara vulgar mengupas konteks persoalan manusia seperti di atas. Namun, apa yang dialami manusia sebagai mahluk sosial di muka bumi seakan tidak berdaya. Covid 19 muncul di tengah hiruk pikuk agenda manusia yang sangat padat. Mereka bergerak dengan sistem serta kendali yang mereka rancang sebagai aturan. Dan virus ini mendadak menjadi sentral dari lalu lintas hiruk pikuk itu. 

Ada kekuatan besar dibalik covid 19, begitu yang kita dengan dan viral di tengah masyarakat. Tetapi mereka tidak dapat menyebut atau memperjelas siapa tokoh atau kekuatan sebenarnya dibalik semuanya. Keberadaan virus corona telah membuat satu pergerakan massal di belahan muka bumi. Secara serentak mereka menutup mulut serta melakukan sterilisasi pada organ tubuh. Membatasi hubungan sosial hingga pelarangan berkumpul di tempat ibadah. Dalam sekejap, mulai dari mesjid, gereja, pura, vihara dan tempat ibadah lainnya menjadi sepi. 


Virus corona tidak memandang bulu dalam pergerakannya. Tidak saja menghancurkan psikis secara destruktif melainkan mempreteli eksistensi manusia itu sendiri. Semua menjadi begitu vulgar. Menjadi tidak berdaya di tengah situasi pandemik. Sirine ambulan meraung sepanjang jalan hampir tidak mengenal waktu. Membawa tubuh malang tanpa mengenal pangkat atau jabatan. 

"Mengangkat kepala? Kau pikir dimana kita. Di Patagonia?" 

Demikian salah satu dialog yang dilontar Tokoh Sutradara kepada Tokoh Asisten Sutradara. Dalam konteks dialog di atas, kita mesti membedah satu persatu; mulai dari "Mengangkat kepala" dan "Di Patagonia". 



Baiklah. Dua suku kata itu terasa begitu ringan. Dan saya yakin semua orang paham pada kalimat mengangkat kepala. Maka absurditas yang dimaksud tentu saja dalam konteks pemikiran Beckett pada kedua suku kata tersebut. Karena secara kebahasaan, kalimat mengangkat kepala bisa diterjemahkan dengan sederhana yakni pergerakan seseorang pada kepala. Dan dalam konteks metafora, mengangkat kepala bisa saja kita terjemahkan dengan simbok perlawanan. 

Lalu bagaimana dengan dua suku kata "Di Patagonia". Saya sempat berselancar untuk mencari literasi tentang Patagonia. Bagi Magellan, si penjelajah dari Portugis, yang mendeskripsikannya sebagai raksasa. Memiliki ukuran tubuh di atas rata-rata orang Spanyol sehingga mereka harus mendongak untuk melihat wajah suku Tehuelche. Sebutan untuk penduduk asli orang Patagonia. Pada konteks ini kita dapat menarik sedikit kesimpulan bahwa kalimat mengangkat kepala dan di Patagonia sangat relevan dengan situasi chaos yang tidak membutuhkan orang-orang untuk mengeluarkan pendapatnya. Kekuasan absolut dan kepatuhan sedemikian rupa menjadi benang merah yang kuat. 



Tokoh Sutradara, bisa saja yang dimaksud Beckett dalam relevansi maksud di atas. Tetapi, bukankah setiap yang bergerak memiliki relevansi atau ketegangan saling berkaitan. Kita lihat mulai dari Tokoh Protagonis. Ada sedikit pertanyaan, mengapa Beckett tidak menyebut Tokoh Aktor pada lakonnya. Mengapa harus Protagonis atau bukan sebaliknya Antagonis. Saya hanya sedikit berargumen dalam hal ini. Protagonis di sini bisa saja dimaksud Beckett mewakili tidak saja orang baik, melainkan sosok yang selalu berada dalam tekanan kekuatan  lebih besar serta absolut. Presure yang begitu kuat itu telah benar-benar membuat sosok kemanusiaan dalam dirinya terkuliti inci demi inci. Bukankah suara rakyat adalah suara Tuhan. Begitu yang kerap kita dengar sejak dulu menjadi jargon dalam setiap pemilihan suara. 

Mengangkat kepala, kita akan setuju sebagai bentuk perlawanan. Dimanakah bentuk perlawanan yang dimaksud Beckett pada lakon Catastrophe? Sebelum menjawab, kita lihat petikan dialog :

Tangannya. (A BINGUNG CEPAT MARAH) Kepalan. Kepalan tangannya. Terus... (A MAJU.  MELEPASKAN KEPALAN. MUNDUR) Dan diputihkan.

Ya Tuhan! Keranjingan betul pada kejelasan! Semua kutandai kearah kematian. Sumbat mulut! Ya Tuhan!

Kontras dan begitu tegas Tokoh Sutradara memberi instruksi kepada Tokoh Asisten Sutradara untuk menguasai organ vital mulai dari kaki, tangan hingga kepala: Putihkan! Dalam konteks putihkan memang terkesan sangat multiinterpretable. Begitu sangat metaforis untuk mendedahkan menjadi kalimat yang dapat kita gunakan sebagai acuan dalam naskah Catastrophe. Saya hanya menangkap kesan sangat halus pada seorang Beckett untuk "mematikan" dengan mengganti idiom itu dengan mengecat bagian tempurung kepala, kedua lengan tangan serta kedua kaki. Putih yang mendekatkan kita pada sosok manusia yang telah mati. Pucat. 

Namun, secara umum bahwa tokoh-tokoh dalam lakon Catastrophe bukan hanya Tokoh Protagonis yang dalam tekanan. Semua yang bermain juga masuk perangkap yang sama baik Asisten Sutradara yang dibawah tekanan Tokoh Sutradara. Dan Tokoh Sutradara berada dalam tekanan penonton. Lalu bagaimana dengan penonton, apakah anda termasuk bagian di dalamnya. 








Komentar

Postingan Populer