ORANG KASAR

Naskah Anton Chekov

Sutradara R. Eko Wahono

Lakon Orang Kasar merupakan momentum penting dalam pertumbuhan sejarah komunitas Teater Lho Indonesia. Sejak berdiri di awal, komunitas ini menempa diri dengan bersungguh-sungguh. Hal itu dibuktikan dengan penghargaan sebagai penampil terbaik serta mendapat gelar Aktor Terbaik yang diraih R. Eko Wahono.

Tentu saja keberadaan komunitas ini tak dapat dipisahkan dari beberapa tokoh teater diawal pendiriannya. Seperti Yudi Winanto, Lalu Bahrul Aen, Yadi, Sri Rahayu serta aktris berbakat Chairunnisa. Nama-nama tersebut di atas muncul sebagai tonggak berdirinya komunitas Teater Lho Indonesia yang didirikan pada 22 Oktober 1990.

Pemilihan lakon Orang Kasar karya Anton Chekov tentu saja bukan tanpa pilihan. Pilihan paling sederhana adalah soal materi pemain. Naskah ini hanya membutuhkan 3(tiga) orang pemain, yakni Nyonya, Darmo dan Tuan Baitul Bilal.

Pilihan kedua, lakon ini sangat memenuhi persyaratan untuk dimainkan kapan dan dimana saja. Sehingga para sutradara dan pemain dapat melakukan reinterpretasi cukup fleksibel. Dengan demikian, eskplorasi para pemain dapat belajar lebih cepat untuk menafsirkan peran dalam lakon tersebut. Meski, WS Rendra mengadaptasi lakon tersebut ke dalam kultur Jawa. Namun bukan berarti bahwa naskah ini tidak bisa diadaptasi ke bentuk tradisi lain di daerah Indonesia. Begitu lenturnya baik dari segi bahasa serta kompleksitas yang ada dalam unsur pernaskahan, membuat lakon Orang Kasar ini begitu digandrungi para sutradara dan aktor teater di Indonesia.

Demikianlah. Saya selaku sutradara dan pemeran tokoh Baitul Bilal pada naskah tersebut, saya bergairah memainkan dari awal hingga akhir. Imajinasi saya sebagai Tuan Tanah yang haus pada kebutuhan libido membuncah memperkaya gesture serta eksplorasi kata dalam ruang tersebut. Tentu saja ditunjang lawan main tokoh Nyonya yang diperankan Chairunnisa menjadi lebih berwarna. Ketajaman intuisi serta keluwesan ia bermain tidak saja membuat mata penonton terkesiap, namun ia melengkapi sebuah suguhan menarik sebuah konsep teater realis. Menterjemahkan tentang harkat wanita dan kedudukan seorang janda yang mendapat perlakuan dari seorang Tuan Baitul Bilal. Menagih hutang mendiang suaminya, atau upaya pendekatan dengan cara yang tidak masuk di akal (dual senjata) terjadi di akhir adegan.

Ketegangan perlahan mencair. Mata bertemu mata. Dan senapan itu, tergolek lemah di tangah keduanya. Naluri purba mereka perlahan muncul mengalahkan ego yang mereka kibarkan di awal pertemuan. Tuan Baitul Bilal melupakan semua hutang piutang mendiang suami Nyonya. Dan Nyonya sendiri juga telah mengikhlaskan si Toby untuk tak diberi makan. Karena, masih ada yang harus dituntaskan malam itu, baik Tuan Baitul Bilal maupun Nyonya. 

Komentar

Postingan Populer