ARSIP CATASTROPHE (1)

Percakapan kita malam ini sangat berharga. Banyak hal yang bisa kita pertimbangkan. Demikian pula hal-hal teknis mulai dari keaktoran, substansi naskah Beckett serta pengembangan interpretasi kita terhadap Catastrophe.

Apa yang menarik dari lakon Catastrophe karya Samuel Beckett?

Jika kita membuat sedikit kalkulasi terhadap Catastrophe dan End Game, maka secara populis lakon Catastrophe tidak termasuk di dalamnya. Khalayak di media sosial lebih cenderung untuk mengupas serta membuat pertunjukan lakon End Game.

Dari segi performance, naskah ini memang nampak sangat menarik. Memiliki beberapa daya tarik tersendiri. Mulai dari segi penokohan/keaktoran hingga alur yang cukup dinamis. Para sutradara dan aktor akan lebih memilih naskah ini untuk eksplorasi pada kekuatan aktor yang memiliki kadar gradasi cukup variatif serta ekspresif. Belum membicarakan setting serta kedalaman substansi pada lakon End Game.

Lalu, apa lakon Catastrophe tidak cukup seksi untuk digunjingkan sebagai lakon drama?

Sejak mengenal cara penyutradaraan, saya tidak mengenal lakon baik atau sebaliknya. Semua lakon (apalagi lakon standar) di mata saya sama-sama memerlukan penanganan berbeda. Mulai dari kiat mengulik substansi naskah hingga tubuh aktor dan pemanggungannya. Dalam studi kasus lakon Beckett Catastrophe dan End Game memiliki daya pikat yang tidak bisa diseragamkan. Saya mengatakan ini, karena aktor saya sangat penasaran. Mengapa saya memilih Catastrophe bukan End Game. Menurutnya, di tayangan youtube, lakon End Game begitu digandrungi masyarakat.


Saya tidak memiliki alasan yang kuat untuk mengatakan mengapa saya memilih Catastrophe hari ini. Karena saya disibukkan pikiran tentang pandemik. Saya merasa dipaksa untuk menjadi berbeda menjadi orang lain di luar kehendak saya. Namun, setelah saya bertanya kepada orang-orang di kampung saya, apa yang saya cemas dan rasakan terjadi pula pada mereka. Mereka setuju bahwa pandemik corona semacam bencana. Namun bukan seperti kebanyakan disaster yang kita alami sebelumnya seperti gempa hingga 7 M, kekeringan, banjir serta tanah longsor. Bencana yang kita hadapi hari ini benar-benar dirasakan ummat manusia se dunia. Semua berita seakan dipaksa untuk membicarakan perihal corona setiap saat. Di dunia rill, hampir setiap saat mobil ambulans menjerit sepanjang jalan.

Bagi saya ini melebihi teror bom yang terjadi di Bali atau Amerika. Saya yakin, meski Beckett tidak lahir di era milenial, bencana yang dimaksud lebih kepada destruksi pikiran manusia. Lalu muncul jargon menuju tatanan baru. Atau new era yang kerap diperdagangkan baik televisi maupun media sosial.

Saya merasa benar-benar dikerdilkan dalam situasi yang tidak jelas. Dan pada lakon Catastrophe menangkap semua sinyal itu.  

Komentar

Postingan Populer