Lakon Arsitektur Kata naskah/sutradara R. Eko Wahono

Perubahan Kota dalam Lakon Arsitektur Kata




Tak ada yang tidak berubah di muka bumi yang kita pijak ini. Suatu saat semuanya akan berubah baik secara perlahan maupun secara drastis. 

Mulai dari perubahan tata kota, masyarakat dalam bersosialisasi hingga karakter yang membungkus jiwa yang hidup. Dinamika dalam pertumbuhan itu pun juga turut menyertai transisi dari sepi menuju ramai. Percepatan dan kecepatan irama pun terjadi baik dari desa menuju kota. Nyaris tak ada yang terlewatkan. Maka, jika kita memilih untuk tetap berada dalam rotasi yang lama, kita akan jauh tertinggal. 

Dalam lakon Arsitektur Kata, saya coba sedikit menggambarkan secara personal lewat tokoh Abu. Tokoh yang ingin masuk dan mensejajarkan secara utuh dalam pertumbuhan di atas. Namun, karena keterbatasan baik ilmu pengetahuan dan keterampilan, maka ia hanya menjadi mesin dalam sebuah sistem. 

Perlawanan seperti apa yang hendak ia tawarkan untuk merubah sebuah sistem? Hanya kedunguan yang kerap menampar wajah sehari-harinya. Bahkan ia tak mampu untuk berlari kencang mengimbangi rotasi perubahan yang terjadi di tempat kerjanya. Untuk itu, ia harus masuk secara total untuk menjadi pemain utama. Setidaknya, ia harus cakap untuk mempersonifikasikan dirinya di tengah kepalsuan hidup. Tak ada alasan kemajuan perusahaan untuk keluarganya. Semuanya hanya omong kosong. Seluruh jerih keringatnya seutuhnya untuk kemajuan perusahaan. Bukan untuk kemakmuran keluarga yang selalu ia banggakan. 


Lakon Arsitektur Kata naskah/sutradara R. Eko Wahono dipentaskan di gedung remaja Bulungan, Jakarta Selatan 27 November 2012.









Komentar

Postingan Populer