Kota Tempat Aman Memelihara Binatang Buas
Tubuhnya tak lebih besar dari poison dart frog, si katak cerdas dari Amerika Selatan. Licin. Singsat dalam kelipatan gerak. Mangsa tak berkutik dalam sekejap. Lipatan lidah melipatmu secepat kilat hingga tak terlihat. Sebelum jiwamu lenyap dalam hitungan keempat, kau tak sempat mengumpat apalagi menggertak. Geletar halilintar menutup seluruh tragedi itu dipenghujung kitab.
Walikota menutup kitab tebal berwarna coklat tanah. Poci, si ajudan hanya manggut-manggut. Antara setengah mengerti dan satu kepatuhan melebur dalam paru-parunya.
"Kota ini tak terlalu muda. Tetapi tidak pula terlalu tua. Aku hafal benar setiap jengkal jalan berbatu dan licin itu. Tak terkecuali terhadap buruan sekelas saltwater," dapat kau jumpai di kota ini.
Mungkin kau tak berselera untuk sekedar menyentuhnya. Apalagi mengundang secara khusus untuk bercerita. Si katak itu tentu saja bukan berasal dari dongeng Grimm. Dimana seorang anak terlibat permainan paling sadis. Ia membunuh rekan bermain yang berperan sebagai seekor babi dengan pisau sungguhan. Itu dongeng yang pernah engkau dengar dari seseorang yang pernah diceritakan oleh ibunya.
Tetapi, sebuah kota kecil, dengan jumlah penduduk padat dapat dikatakan bersaing dengan pertumbuhan keluarga kelinci. Kota ini berbiak sedemikian cepat. Walikota sempat berpikir untuk hal-hal sangat teknis dan tentu juga taktis. Bagaimana mengatasi satu dua persoalan yang menumpuk di atas meja tanpa mengganggu istirahat bersama istri di rumahnya.
Walikota, kebetulan tertarik pada kejenakaan kedua binatang buas itu. Coba, sekali lagi, apa yang kau katakan tentang kedua hewan itu tadi? Kejenakaan? Bukankah kata itu sangat tidak sepadan dengan bahasa teror atau bentangan spanduk kaum buruh di depan kantor walikota?
Walikota, kebetulan tertarik pada kejenakaan kedua binatang buas itu. Coba, sekali lagi, apa yang kau katakan tentang kedua hewan itu tadi? Kejenakaan? Bukankah kata itu sangat tidak sepadan dengan bahasa teror atau bentangan spanduk kaum buruh di depan kantor walikota?
Kau teramat pintar untuk memahami setiap diksi, Poci. Kota butuh pengaman dalam waktu yang tak terbatas. Engkau tahu Poci, perangai cuaca mudah berubah. Bukankah, beberapa hari lalu kau katakan, istrimu kerap marah-marah hanya persoalan sepele. Susu kedelai tak kau habiskan. Lalu tumpah dalam sekejap karena taplak meja itu tertarik salah satu jarimu. Ia minta cerai. Anak-anak ikut istrimu. Rumah itu jadi sepi. Kedua kupingmu mendadak jadi benda asing menempel di kedua sisi kepalamu yang botak. Kau mengigau setiap malam, lantaran teror kesunyian mencekik lehermu. Sisi gelap tak pernah berkonspirasi dengan Bram Stoker's sebelum roti dan darah menjadi kesepakatan semu.
Baiklah. Jadi apa maumu, Walikota?
Tentu saja aku menginginkan kedua hewan binatang buas itu masuk dalam anggaran kota. Peliharalah ia baik-baik. Jangan kau anggap keduanya binatang, meski mereka benar-benar binatang. Berikan makanan berkelas. Suatu hari kita sangat membutuhkan mereka untuk menyatakan bahwa kota ini masih waras. Kecantikan kota tak mesti dimeriahkan ribuan lampu warna-warni. Apalagi karnaval yang bikin anggaran keuangan membengkak. Kecuali, parade perempuan dengan buah dada sebesar melon berdiri di atas dodge tua.Kalkulasi politik terlalu rawan untuk membicarakan keindahan. Mereka cukup berada di luar pekarangan menyaksikan akrobatik parlemen. Juga senyum para amtenar di surat kabar lokal.
Pak Walikota, anda belum sadar sepenuhnya jika kita benar-benar memelihara kedua binatang buas itu. Poci, si ajudan Walikota berusaha menjelaskan lebih detail manfaat serta kerugian jika ia memelihara kedua bintang buas itu. Bahkan, ia mencoba memberi suatu gambaran peristiwa miris menimpa para penguasa yang mati secara tragis diujung karir politiknya. Walikota tak menjawab penjelasan si ajudan. Ia hanya duduk serta sekali-kali menarik garis senyum di ujung bibirnya.
Kota ini akan terus tumbuh mengikuti perkembangan jaman. Pintu gerbang yang kau bangun bersama para arsitek dari rezim terdahulu, sudah tak mewakili semangat pertumbuhan ekonomi.
Tentu saja aku menginginkan kedua hewan binatang buas itu masuk dalam anggaran kota. Peliharalah ia baik-baik. Jangan kau anggap keduanya binatang, meski mereka benar-benar binatang. Berikan makanan berkelas. Suatu hari kita sangat membutuhkan mereka untuk menyatakan bahwa kota ini masih waras. Kecantikan kota tak mesti dimeriahkan ribuan lampu warna-warni. Apalagi karnaval yang bikin anggaran keuangan membengkak. Kecuali, parade perempuan dengan buah dada sebesar melon berdiri di atas dodge tua.Kalkulasi politik terlalu rawan untuk membicarakan keindahan. Mereka cukup berada di luar pekarangan menyaksikan akrobatik parlemen. Juga senyum para amtenar di surat kabar lokal.
Pak Walikota, anda belum sadar sepenuhnya jika kita benar-benar memelihara kedua binatang buas itu. Poci, si ajudan Walikota berusaha menjelaskan lebih detail manfaat serta kerugian jika ia memelihara kedua bintang buas itu. Bahkan, ia mencoba memberi suatu gambaran peristiwa miris menimpa para penguasa yang mati secara tragis diujung karir politiknya. Walikota tak menjawab penjelasan si ajudan. Ia hanya duduk serta sekali-kali menarik garis senyum di ujung bibirnya.
***
Kota ini akan terus tumbuh mengikuti perkembangan jaman. Pintu gerbang yang kau bangun bersama para arsitek dari rezim terdahulu, sudah tak mewakili semangat pertumbuhan ekonomi.
Kita butuh dana besar untuk membangun kota ini. Orang-orang kaya itu terlalu pelit untuk mengeluarkan sepertiga kekayaannya untuk memperindah sudut-sudut kota. Aku benci sepak bola. Maka, mulai minggu depan perintahkan pada petugas kota untuk menutup alun-alun kota. Lalu kita jadikan sebuah taman satwa.
Untuk mereka berdua? Iya. Kenapa. Kau kira kota ini tak mampu untuk membangun sebuah taman satwa?
Komentar
Posting Komentar