ZIARAH HUJAN


Cerpen : R. Eko Wahono





SUATU HARI KAU BERDIRI PADA MESTIZA YANG TIPIS; Kaukah itu lelaki bertubuh gerimis? Masuklah. Kenapa tak kau perangkap aku lalu hisap tubuhku seperti serangga lapar. Atau hyena betina yang lolongnya kerap melompat di dinding batu. Lalu, kau tawan hingga seribu bulan jadi malam yang rawan. Kuingin pula menjerang jari-jemarimu di dalam baskom. Hingga tangis matahari menjelma jutaan rintik cahaya yang luruh di undak-undak yang gelap.
Jika kau lelaki bertubuh gerimis itu maka aku ikhlas hanyut dalam penantian musim yang panjang. Lantaran jari-jemarimu mengusap putikku hanya sesaat. Selebihnya kau hanyut dalam gemuruh suka cita yang semu. Percakapan panjang selalu membuat dirimu terlena dan segera melupakan diriku. Segelas arak dan perjamuan pura-pura, apalagi. Hingga tak ada yang mampu menduga atas kesalahpahaman yang terjadi di antara kita. Aku selalu cemburu katamu. Memang. Karena aku tak tahu apa saja yang kau lakukan di kedalaman bersama tunas-tunas yang padat dan ranum itu.
“Siapa yang telah menoda sesungguhnya, aku ataukah ada sesuatu yang mesti kita pertanyakan. Kau tak bisa menuding semuanya menjadi mata pisau yang tajam. Tubuhku hanya sekumpulan cahaya yang tunduk pada satu kekuatan yang Maha. Kau lihat, betapa rapuhnya diriku saat menyentuh punggung bukit-bukit tandus. Belum tuntas kurasakan keindahan putikmu segera mereka menghisap tubuhku ke bilik-bilik kamar mereka yang muram. Takkan pernah kau temukan nyala api, didih air, serta segalon ethanol dalam tubuhku. Kau sebut itu sebagai pelampiasan dari tak keberdayaan? Aku memahaminya sebagai bagian dari kesempurnaan. Masihkah ada yang kita pertautkan jika rahasia Tuhan menguap dari pikiranmu?”
Kami sama-sama menunggu kata-kata selanjutnya. Tetapi lelaki bertubuh gerimis itu tetap saja segumpal niscaya. Aku tak bisa membendung keyakinan yang mengalir deras di antara tanah-tanah basah. Bau humus yang menyengat di pagi hari. Sebilah kapak terhunus di batang yang lara.
“Kau telah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari sebuah keluarga besar pepohonan. Yang menghisap tubuhmu di musim hujan dan memberi kesuburan sepanjang tahun. Kau juga memberi mereka anak-anak nakal dan lucu. Mereka menjelma pohonan generasi baru bertubuh jangkung bahkan melebihi para leluhurnya. Ranting-ranting serta dahan yang kuat. Daun-daun yang rimbun lebat. Kelak, manusia mendifinisikannya dan memberi nama pada masing-masing keluarga pohonan tersebut.
Hanya deru jigsaw yang membuat nyali mereka jadi ciut. Gerigi-gerigi besi serta raung yang kasar memanjati langit biru hampa. Tak satu pun jenis elang berputar-putar di sana. Gaduh bulldozer hentakkan canda serta gurau para penghuni rimba. Mulut bus memuntahkan tubuh-tubuh berseragam kuning. Mereka bergerak serentak membawa senjata dan kampak. Roda-roda dipenuhi mur, rantai dan pegas melindas tegas. Lantas meninggalkan isi rimba secara bergegas. Keluarga karnivora dan herbivora berkemas menjinjing cemas. 
Setahuku, memang belum pernah ada manusia yang tertarik pada seputik kembang di tengah hutan. Mereka lebih tertarik pada khuldi atau apel yang telah tersedia di halaman. Seraya mempertegas keyakinan bahwa mereka adalah makhluk-makhluk yang tolol dan konyol. Yang tak luput dari setiap tindakan yang keji dan merugi. Aku kira, kenyataan itulah yang pada akhirnya harus mereka terima sebagai kutukan. Seperti dosa dan pahala yang tumbuh di setiap batok kepala mereka menjadi harapan di antara doa-doa mereka. Menjadi imaji yang subur di tengah padang yang tandus.
Seperti juga halnya besi atau logam yang menjelma ke dalam tubuh mereka menjadi mata pedang yang tajam. Adam bilang, itu juga bukan sikap permusuhan seperti yang dilakukan kedua anaknya. Itu hanya salah satu pilihan untuk menancapkan tonggak kebenaran di antara sekian kebenaran lainnya. Tapi Adam juga akui bahwa proses perdamaian ibarat air yang mengalir dari hulu hingga muara. Takkan pernah menelikung hanya lantaran sebongkah batu hitam yang teronggok sejak letusan gunung-gunung api ratusan jutaan tahun yang silam.
Demikianlah. Aku hanya seputik kembang di tengah hutan yang kerap menunggumu di setiap musim hujan. Aku cemas jika kemarau terlalu banyak mencampuri setiap masalah menjadi urusannya. Tak ada hal yang penting selain tinggal untuk berlama-lama dengan meniadakan perasaan yang jengah atau bosan. Karena pada saat itu pula setiap yang hidup merasa lebih berkuasa, lebih memiliki, lebih penting dibanding yang lainnya. Apakah kau masih setia bersama kereta angin seperti musim yang lalu?
Tahukah kau, penantian panjang itu seakan telah mencampakkan tubuhku seperti kertas koran yang koyak dan tergeletak begitu saja di kursi tunggu stasiun kereta api. Suatu kali tubuhku teronggok di halaman peron yang sepi. Tak ada apa-apa di sana. Tak ada siapa-siapa. Kecuali kecemasan yang telah membusuk di keranjang sampah berhari-hari, berminggu-minggu. berbulan-bulan hingga hitungan tahun. Lalat hijau menamakannya sebagai keberuntungan di hari kemerdekaannya seraya mengibarkan bendera kebangsaannya. Dan orang-orang sirik segera membungkam, dan membuang sejauh mungkin hingga hidung dan mata seperti radar yang telah ringsek. Lantas musnah laksana kertas yang koyak oleh segumpal api. Dan baranya ia serakkan menjadi debu-debu panas yang menutupi kedua mata mereka. Mungkin kau sendiri telah lupa, bukankah mereka tak lebih dari sekawanan hewan liar yang selalu suntuk di siang hari. Biarlah. Biarkan mereka puas dengan dirinya sendiri sambil belajar mengeja namanya sendiri. Bermain ular tangga atau halma karena secara perlahan-lahan waktu akan membunuh mereka tanpa disadari.
“Seperti cuaca?”
“Logika cuaca adalah hukum tata surya.”
Dengarlah. Kau pasti tak menduga, seorang penyair sejak tadi menunggumu di ujung senja. Mulutnya tak henti bergumam sementara kepalanya ia antuk-antukkan di sebuah tiang listrik. Ia rasakan semua itu seperti kesetiaan gelombang laut pada pantai. Lalu sebuah puisi ia teriakkan di tengah guyuran hujan dengan suara lantang. Guruh berseteru di langit; halilintar menghardik. Tetapi lelaki penyair itu tak peduli.

                                      aku cari fosil tuhan
                                                  di jeda nafas
                                                  punggung batu-batu padas
                                                  humus pagi di padang ranggas
                                                                                               
                                                  kau dekap matahari di beranda kamar
                                                  dedaunan kering sarat keluh
                                                  sudut-sudut taman gaduh
                                                  jamah suraimu yang masai
                                                  membujur landai;
                                                  tangan-tangan-Mu bisu
                                                   
Wajah penuh warna itu hiasi malam sampai sudut-sudut yang tak terjamah siang. Tapi langkah-langkah itu, yang ia rasakan sebagai sebuah pencapaian ritus yang panjang. Sisa letih seseorang mencari sesuatu di malam yang suram. Sehelai handuk urung mampir di wajahnya. Ia tengadah kepalanya; hingga langit tak berkata apa-apa. Kecuali gaduh kepak elang mencari mangsa di tepian danau yang diriuh sekawanan angsa. Ia tetap gusar kendati tangannya memegang seputik kembang di tengah hutan.
Ingin kukatakan padanya bahwa aku bersedia menolongnya. Tapi, lelaki penyair itu, telah pergi. Jika saja ia bersabar sedikit saja maka ia akan menemukan seseorang yang dengan segenap kesetiaannya akan menemaninya hingga ajal datang menjemput. Tak ada yang saling tercampakkan. Dan, bukankah tubuhku lebih terbuka terhadap siapa saja. Aku bilang, kalian saja yang terlalu pilih-pilih kasih. Pilih-pilih teman. “Apa keuntungan yang kuperoleh jika aku berkoalisi denganmu,” aku benar-benar tersinggung berat ketika seorang kawan bertanya secara akrab serta kekeluargaan. Secara tak sadar ia telah menebas leherku dengan pedangnya yang tajam dan dingin. Ia menyiksaku dengan cara yang tidak pernah kurasakan. Semuanya berjalan begitu saja dan tanpa kau sadari sesuatu sedang terjadi dan bergerak secara cepat. Sejak saat itu aku tak berminat lagi untuk mencantumkan nama dan tanggal lahirnya di dalam pikiranku.
Mereka juga cerita banyak tentang lelaki bertubuh gerimismu. Setelah tubuhmu melantakkan dam serta bendungan di bawah lereng gunung. Mengusung konser tangis massal di bawah reruntuhan puing-puing bangunan. Meratakan gedung-gedung berkaca yang tingkahnya kerap membuat mata kita silau dan suasana gerah. Kau lakukan itu semua dalam hitungan detik hingga senyap lindap sekejap.
Kemana saja kau setelah itu. Setelah musimmu bermigrasi ke ruang mimpi dan anak-anak kecil riuh mencampakkan telapaknya di permukaan sungai. Jika musimmu tiba aku ingin segera mencumbuimu seperti perampok dungu yang kelaparan di musim paceklik. Mengulangi kenakalan masa kanak-kanak yang penuh canda gurau. Bermain petak umpat. Ular tangga dan halma, dimana para lelaki menapaki ketinggian hingga peluhnya jadi magma. Memacu jantungnya setelah ritual arak hingga mukanya merah api, dan berlari sekencang kuda sumba yang memangsa perawan di balik rimbunan lumut-lumut hijau. Dan gadis-gadis telanjang dada itu, menghisap peluhnya seperti budak yang tersesat di semak-semak belukar. Aku terengah-engah mengejar semua itu bagai seorang pelari marathon. Bagaimana dengan dirimu? Apakah kau juga merasakan hal yang sama.
Kini, mereka butuh seorang penyair untuk mencat gunung-gunung kelabu menjadi sekumpulan warna eksotis. Ajarkan pula kepada mereka bagaimana caranya membuka dan memasang kaos kaki dengan sopan dan teliti. Jangan ajarkan sikap gegabah yang telah menjadi darah daging di setiap tubuh batok kepala mereka. Agar petualang tak tersesat jika kelam selimuti punggungmu yang kerap terjangkit reumatik. Parasmu yang silau dan (terkadang) menjungkirbalikkan keadaan seolah-olah terang-benderang. Lihatlah, di luar langit masih tampak gelap dan lengang. Tidurlah kembali. Tunggu sampai matahari esok mengajakmu bercanda di beranda rumahmu. Bermain ayunan hingga matahari sore lumer di balik dinding cakrawala.
Jangan lagi bicara. Jangan. Nanti suaramu membangunkan jasad Merlin yang kerap sibuk mencari sapu lidi sambil teriak lantang, “Akulah tuhanmu! Yeihaa.. Aku lebih suka mencangkok tubuhmu. Atau mengutukmu jadi seekor serangga hijau berlendir dan lidah yang bercabang. Nah, kesombongan apalagi yang hendak kau pertontonkan kepadaku. Ini era kompetisi yang ketat, bung. Yeihaa.. Dan aku lemparkan jutaan onak untuk hidangan pencuci mulut di sore yang bergetar. Setelah itu, tanpa malu kalian tegaskan bahwa kalian adalah bangsa predator yang akan mengancam setiap kehidupan. Bahkan, lebih ganas dari seekor singa betina yang berburu untuk makan siang anak dan suaminya di hutan Serengeti. Kau tegaskan tanpa ragu bahwa ini adalah peperangan terbesar sepanjang abad milinium. Inilah dunia lelaki..”
Baiklah. Kau boleh sesuka hatimu berteriak. Karena aku tak lagi menyimpannya seperti album tua.  Atau  sesuatu yang harus dibolak-balik seraya mengusap air mata. Telah kurelakan segalanya tanpa rasa pamrih. Seperti awan cumulus yang menyergap dusun-dusun tanpa nama jadi puisi gelap. Bersijingkat meninggalkan kegaduhan dan rasa cemas yang berangsur-angsur jadi payau. Mereka tak lagi membedakan sebagian yang  rahmat karena bagi mereka surga dunia lebih nikmat.
Kukira aku harus rela melepaskan lelaki bertubuh gerimis untuk menziarahi dusun-dusun yang jauh serta terpencil.  


Denpasar – Mataram, Desember 2003 – Januari 2004

Komentar

Postingan Populer