UZAIR MEMELUK MATAHARI


Cerpen : R. Eko Wahono




Di sebuah ketinggian tampak Ujair memeluk matahari. Sapuan jubah hitamnya mengejutkan sekawanan burung. Memaksa meninggalkan sarang untuk mencari rumah baru. Ujair melanjutkan langkah menuju kota. Kehadirannya sontak membuat gelombang panas. Sebagian dari mereka menyelamatkan diri. Mencari tempat lebih aman dan damai. Tetapi, dimana ada kedamaian di negeri ini jika Ujair menenteng serta memeluk erat-erat matahari?

  
Semuanya berlangsung hanya dalam mimpi. Tetapi kehadirannya seakan-akan nyata, ayah. Aku juga lihat Ujair berkacak pinggang meninggalkan reruntuhan gedung habis terbakar. Lantas, mengangkat kedua tangannya tinggi-tinggi di atas sebuah bukit.  Seperti Musa yang dielu-elukan ummatnya. Matanya yang sipit itu ternyata bisa juga menghardik. Memaki serta menakuti mereka di bawah bukit. Air liurnya menggenangi tanah-tanah suci bila yang dikehendakinya tak sepadan. Jubah hitam ia kepak hingga malam tampak pucat.
Syairmu terlalu pekat bahkan lebih gelap dari segelas kopi ayah. Mengapa orang dewasa tak pernah memahami keinginan anak kecil, ayah. Ini mustahil, anakku. Siapa pun akan setuju mengatakan hal ini. Apa yang tidak mustahil di dunia ini, ayah? Siapa yang berani mengaku salah satu diantara kita keturunan anak Adam. Yang menyimpan rahim kebencian menjadi bola-bola api menyusup ke jantung perempuan berhati iblis. Perempuan berhati iblis itu telah mencangkok bola-bola api berjuta-milyar tahun lalu, hingga kita merasa menjadi manusia sempurna. Ini bukan mimpi atau dongeng.
Kau tak mengerti, anakku. Kebencian tak pernah memaksa dirinya terlahir di dunia. Justru keberadaannya untuk mengimbangi makna cinta yang sering disalahtafsirkan. Bukankah keduanya saling membutuhkan. Saling memanfaatkan untuk menguatkan salah satunya. Sungguh sayang, saat ayah mendongeng kau terlelap sambil memeluk sipoa. Jika kau menyimak pasti kau tak akan meminta sesuatu yang di luar akal sehat, seperti yang dilakukan Ujair dalam mimpimu. Engkau masih ingat mitos Phoenix. Pasti sudah kau dengar dari guru atau rekan-rekanmu tentang si ‘burung sakti’ itu, yang selalu mengepak sayapnya di puncak-puncak gunung. Tubuhnya lantak terkena jilatan lidah matahari. Setelah itu, ia jadi binatang yang paling durjana sedunia. Apa yang ia cari setelah kebanggaannya itu sirna oleh kekuatan yang tak ia duga sebelumnya. Aku yakin, kau sendiri tak akan kuat berlama-lama menatapnya.
Jangan tanya itu lagi. Ayah tak senang? Tidak. Atau mungkin takut? Pada apa? Matahari. Kenapa diam saja. Jawab pertanyaanku. Aku lebih senang di sini. Merasakan angin yang terjebak dalam kamar. Mendengarkan kidung nyamuk yang berputar-putar di atas rambut yang lama tak tersentuh air dan shampo. Mereka pasti menyangka aku bangkai seekor kuda kiriman paman Karl dari pulau Sumba. Kau pasti masih ingat, pamanmu itu sering meneror siapa saja yang merasa dirinya lebih jantan dari dirinya. Aku rasa, seratus lebah atau bahkan seribu pantas jadi teman tidurnya yang setia. Serangga-serangga itu dengan ikhlasnya memberi sengatan yang mematikan. Lantas, menjilati dengan perasaan riang inci demi inci setiap kepongahannya. Tetapi, sungguh di luar dugaan ia selalu berhasil menghindar. Dan celakanya lagi, ia menganggap bahwa dirinya adalah lelaki yang paling beruntung di dunia ini. Sementara di rumahnya ia seperti seekor anjing yang melihat hantu. Udha, istrinya itu, selalu menunggu dengan mulut setengah terbuka. Sepasang matanya mengisyaratkan sesuatu, tentu mereka berdua saja yang memahaminya. Tapi, apa yang dilakukan pamanmu itu. Ia menghindari sebuah kenyataan yang pahit sambil meninggalkan istrinya mengerang di atas ranjang karena merasa tidak diperlakukan lagi sebagai wanita. Ah, aku rasa lebih baik kau melihat serta mendengar hal-hal yang lebih bermanfaat.
Benar ayah. Aku akan mendengar dan melihat hal-hal yang bermanfaat. Kini, apa yang tampak di matamu, anakku. Aku hanya lihat mayat-mayat berpakaian rapi mengenakan jas dan parfum import berduyun-duyun menuju ke suatu tempat. Kemana tujuan mereka, ayah? Aku tak tahu. Yang pasti tempat yang menyenangkan. Di sana mereka istirahat sambil ditemani perempuan-perempuan cantik. Tidur-tiduran sambil mengencangkan otot-otot yang kendur. Mereka tampak sangat sibuk. Ya, mereka memang tampak sibuk. Dan memang harus sibuk. Jika tidak, dalam waktu relatif singkat tubuh mereka akan segera jadi fosil. Dengarlah anakku, mereka hidup dalam alam terjajah. Mereka pun mengikrarkan diri sebagai manusia yang telah merdeka. Mereka membutuhkan deklarasi itu sebagai air yang mereka minum setiap saat. Tapi, sesungguhnya hidup mereka tergantung sepenuhnya pada kebaikan hati matahari. Jika seandainya matahari tak terbit selama satu abad maka mereka akan tidur selama satu abad pula. Apa yang bisa mereka lakukan selama masa itu. Tak ada. Mereka hanya tidur, makan dan bereproduksi seperti sekelompok kelinci. Mereka berkembang biak dengan kemampuan yang sangat mengagumkan. Dengarlah anakku, mereka yang bergantung penuh pada matahari belum bisa dikatakan sebagai orang yang merdeka.
Lihat saja, jika kelam menyisir senja mereka tak ubahnya kedebong1] pisang yang direbahkan di atas ranjang. Sementara yang lainnya mati dan bereinkarnasi menjadi sekawanan binatang. Wajah mereka bahkan bisa lebih tebal dibandingkan badak yang hidup di Ujung Kulon. Tapi, dari mana uang dan kekuasaan datang jika matahari tak terbit selama satu abad, ayah. Aih, kau membuat ayah bugil di depan jutaan penggemar Frank Sinatra. Kalau sampai tahu, kakek dan nenekmu akan menghajar ayahmu habis-habisan dengan penggaris kayu dan menyuruhku menyanyikan lagu, nenek moyangku - orang pelaut dengan suara lantang di depan kerbau dan sapi mereka. Itu sungguh tindakan yang kejam serta memalukan. Ooo, aku malu, anakku. Aku malu menyanyikan lagu itu. Karena sejak kecil aku sangat takut terhadap deru gelombang dan birunya laut. Aku tak pernah selesai. Mungkin juga tak akan pernah mampu menerjemahkan makna sunyi di balik birunya laut. Tapi jangan beritahu ibumu perihal ini. Lupakanlah segala sesuatu yang menyangkut perkara malam ini. Seakan-akan kita tak pernah bercerita apapun tentang ini-itu.
Baiklah. Jangan paksa ayah untuk merubah sesuatu yang mustahil. Biarkan ayahmu seperti ini. Jangan minta yang aneh-aneh. Dunia sudah cukup membuat kepalaku pening. Para penghuninya lebih aneh lagi. Aku tidak minta yang aneh-aneh, ayah. Aku hanya ingin memeluk matahari seperti yang Ujair lakukan dalam mimpiku. Koq, dianggap aneh. Bukankah keinginan ayah terkadang juga aneh. Tiga hari lalu ayah ingin mengubur siang jadi malam. Bukankah itu hal yang aneh. Ayah benci cahaya api dalam tungku ketika ibu sedang menanak nasi. Bukankah itu aneh juga. Sudahlah, yang praktis saja ayah. Kita hidup di jaman yang serba komputerisasi. Segalanya serba konkrit. Ada uang ada barang. Apa yang harus kujawab jika seorang guru bertanya padaku, apa pekerjaan ayahku? Seorang penulis. Kalau mereka paham. Seorang penghayal. Lebih runyam lagi. Lantas, kawan-kawanku yang dungu itu akan berteriak kompak: “kemarilah! Pandanglah dengan seksama wajah dan anatomi anak seorang penghayal.” Ha.. ha.. ha..  Ah, sudahlah!  Untung saja tidak kau katakan aku sebagai pembunuh bayaran. Akan kuberi pelajaran mereka malam ini juga. Dengan cara apa, ayah? Aku akan memotong kemaluannya saat mereka tidur. Lantas menggantungnya di pusat pertokoan atau di tengah keramaian kota. Dan di bawahnya ada satu tulisan: AKU SUDAH KEHILANGAN SEGALA-GALANYA. Mereka pasti akan terkekeh-kekeh menatapnya.
Dengar ayah, firasatku menegaskan matahari Ujair tidak hanya satu. Mungkin dua, tiga atau lebih. Aku tak dapat mengelak seringainya yang sungguh-sungguh menjijikkan. Siapa yang dapat menghentikan tawanya yang kerap membuat gaduh. Siapa ayah? Aku tak tahu, anakku. Tak ada kepastian dalam hidup ini. Juga tentang Ujair-mu itu. Ia tak lebih dari pengikut Musa yang berlindung di balik jubahnya dengan seringainya yang sombong, yang ingin menampakkan betapa dirinya sepenting nabi-nabi terdahulu. Tetapi itu tak mungkin. Ia tak mungkin merubah sejarah hanya dengan memeluk satu-dua atau seribu matahari sekalipun.
Lihatlah ke atas sana anakku. Dari balik selimutnya yang kelam, berjuta-juta bahkan trilyunan matanya berkedip-kedip mengawasi kita. Siapa ayah? Allah. Allah? Ya. Apakah ia tak pernah lelah dan mengantuk mengawasi kita. Allah tak akan pernah lelah dan mengantuk. Dan, ia tak akan pernah marah jika kita lelah dan mengantuk. Mengumpat atau melupakannya. Juga tak akan murka jika kita ingkar dan tak patuh kepadanya. Kenapa kita musti patuh kepadanya? Karena ia pemilik segalanya. Tubuhmu. Tubuh ayah. Termasuk matahari yang ada dalam genggaman Ujair. Kapan kita akan ke sana, ayah? Ouw, apakah selama ini kau tak lihat ayah sibuk menciptakan sebuah perahu. Perahu, ayah? Iya. Hampir seratus malam ayah merajut tanpa mengenal jemu atau lelah. Aku rasa ia sudah siap untuk mengantar kita melayari aras demi aras.
Sebelum berangkat, aku telah menulis surat kepada seorang kawan lamaku. Aku berharap ia telah menerima dan segera membalasnya. Jika ia tak membalas? Amboi anakku, aku akan mati kesepian. Sudah lama aku tak menerima surat dalam hidupku. Surat terakhir aku terima dari Rimba. Aku menunggu hampir sepuluh tahun. Sepuluh tahun, ayah? Cccckkk… Aku kira ia telah melupakan ayah. Aku merasa seperti sedang jatuh cinta. Seluruh darah dalam kelenjarku bergerak cepat menuju jantung dan memaksanya untuk tetap berdegup kencang. Lantas aku merasa muda kembali. Setelah itu tak ada surat lagi. Juga petugas pos itu. Barangkali ia telah pensiun. Atau mungkin juga mati. Bukankah kita semua pada akhirnya tua. Lantas mati.
Kau tahu, betapa pentingnya sebuah surat dalam hidupku. Coba kau bayangkan, pintu rumahmu tiba-tiba diketuk oleh seseorang. Saat kau buka seorang lelaki berseragam dengan senyuman yang khas menyerahkan selembar surat untukmu. Bukankah surat itu sudah lama kau tunggu-tunggu?Jantungmu akan segera berdegup mencoba menebak isinya. Khabar gembira atau duka. Apakah itu penting dalam hidup ayah? Aku tak tahu. Tetapi aku masih harus menunggu surat itu. Suara bel sepeda. Petugas pos yang berdiri di depan pintu. Aku betul-betul merindukannya. Seperti kerinduanku kepada malaikat utusan Tuhan yang menjemputku untuk mengantar ke rumah-Nya.  
Udara di sini sangat buruk, anakku. Kita harus segera masuk. Tapi aku lebih suka di sini, ayah. Tapi kita harus masuk. Di luar angin sangat jahat. Roh-roh iblis berhati jahat telah menguasai jagad bumi. Sayap-sayap hitamnya yang semula cungkup kini mengembang merenangi malam yang pekat. Halilintar menghardik. Tak jelas kepada siapa. Dengan sayap-sayap mereka, ayah? Ya. Hanya tikus dan kecoa yang berkuasa di dunia hitam. Mereka makan sambil mengencingi dinding tembok serta meninggalkan aroma yang menyengat. Apa ayah takut pada mereka? Takut? Tentu saja tidak, anakku. Ayah hanya takut pada kecemasan yang membuncah dalam pikiran. Kita tak perlu ngoyo menaklukkan apalagi membinasakan mereka. Karena mereka akan tumbuh lagi bahkan lebih subur dari jenis rumput atau ilalang manapun di dunia ini.
(Anakku akhirnya tertidur pulas. Wajahnya yang lelah seperti ingin berteriak “Eureka!”). Telah kutemukan dunia binal dan liar. Mungkin ia ingin lihat sesuatu lebih jujur. Lebih menyentuh emosi purbanya yang gegap gempita. Namun lebih sering membabi-buta hingga pertanyaan-pertanyaan yang muncul sekonyon-konyong menghentikan nafasku.Tapi mungkin juga tidak ia temukan apa-apa di sana. Kalau pun ada hanya ruang hampa yang menjebak kita seperti orang yang didera tipus akut. Aku terlalu memaksakan imajinasiku tumbuh liar di dalam pikirannya. Terlalu menuntut sesuatu yang kadang-kadang membuat aku justru menjadi mahluk tua dan aneh. Ya, memang kini aku mahluk tua dan aneh. Yang merayap tertatih-tatih sambil memegangi tembok di seluruh ruangan kamar. Aku akan kirim surat kepada Tuhan perihal ini. Apakah ini ‘tamu’ yang Ia maksud sebelum utusan malaikat maut datang padaku?
(Mendadak pintu depan terdengar diketuk seseorang. Anakku terbangun. Kami berdua hanya saling berpandangan). Siapa? (Aku menggeleng. Anakku melirik ke arah kiri). Tak tahu. Mungkin petugas pos. Aku tak yakin. Bagaimana meyakinkannya, ayah. Entahlah. Yang pasti bagaimana menghadirkan tubuhmu di pintu itu. Aku kira seluruh teka-teki ini akan tuntas terjawab. (Ia segera bangkit dan meninggalkan aku di kamar sendirian). Siapa? Siapa pengirim suratnya? (Aku berteriak dari dalam kamar.). Bukan ayah. Ia bukan seorang petugas pos. Lantas siapa! (Aku berteriak lebih lantang) Lelakikah? Perempuankah? Siapa?(Ia tak menjawab. Aku benar-benar merasa kamarku benar-benar hampa. Aku mulai tak sabaran). Suruh ia segera masuk. Katakan padanya agar jangan sungkan-sungkan. (Aku mencoba bersabar. Menunggu. Tetapi ia tak segera muncul). Siapa itu, anakku. Biarkan ia masuk. Jangan biarkan pintu itu terbuka lama-lama. Kau tahu aku tak suka! (Kupingku menangkap langkah-langkah mendekati kamar. Lorong-lorong dalam rumah tampak mulai terang benderang. Aku benar-benar tak suka pemandangan seperti ini. Tapi cahaya itu nampaknya terus berjalan mengendap-endap. Ketika cahaya itu berhenti di tengah pintu telapak kananku menutup sebagian wajahku. Setelah beberapa lama, sepasang mata tuaku mulai melihat dengan jelas siapa yang datang. Mendadak jantungku seperti mau pecah ketika anakku memperkenalkan tamu itu padaku). Perkenalkan, ini Ujair yang aku ceritakan di dalam mimpi itu, ayah.   


 Mataram, 2003 




Catatan:
­1} Kedebong = (bhs. suku Sasak-Lombok)  Batang pisang.

Komentar

Postingan Populer