BURUNG-BURUNG PADANG PASIR


Cerpen R. Eko Wahono




HANYA tinggal sebatang rokok di asbak. Ra bakar. Paginanar. Angin tenggara menyeret asapke dalam hutanlebat. Ra mendengus depan kalender merah. Jendela berembun. Jantungnya serasa meledak. Puluhan mata bor menakik-nakik liar punggung Ra. Berkali-ulang ditempat sama. Serupa lobang tambang raksasa dibius bisa kemarau. Kedua sayap Ra basah. Melepuh. Kedua tangannya gemetar membuka jendela. Fajar terusik gemerisik engsel berkarat.

***

BAYANGAN hutan gelap surut di ambang kamar. Perempuan subur bertubuh pendek menjinjing magma. Aroma kondrosit meruap dari punggungnya yang bungkuk. Juga balsem semalam seusai rintik panjang. Meninggalkan remah-remah roti tawar. Lantai bertabur serbuk kayu kelapa. Seterika panas di atas hambal bercorak tumbuhan melanjar. Ketegangan menjalar sepanjang kedua lengannya. Serupa cacing hijau bermain petak umpat disebalik kelenjar kulit.

Kelopak Sabtu mengembang. Kedua mata Ra terpejam. Meninggalkan kamar kosong. Berdebu. Derik engsel pintu-jendela. Kepak gaduh burung-burung buta. Kutukan sekretum pada sepasang matareptil. Hitam pekat. Serupa goa-goa menyimpan kenangan buruk. Gugur bersama daun-daun tropis berselimut hara. Tempat sembunyi ulat pemakan nangka. Langkah Ra terhenti di situ.

Pagi terlipat. Seterika panas menatap sinis. Udara tak bergerak. Lipatan pagi menjelma serupa burung-burung padang pasir. Isteri Ra menjelma taifun. Berputar-putar di kepala Ra.

Sontak, burung betina itu teringat akan mempelainya. Yang mati di malam pertama. Burung betina itu lantas bertanya, "Apakah kita menikah di hari kelahiran burung-burung padang pasir," konon, burung-burung padang pasir gemar berperang. Saling membunuh karena alasan memperebutkan wilayah serta kelamin.

Burung-burung padang pasir berkumpul di perut baskom. Menjelma istri Ra yang basah. Kedua kakinya tergantung di tembok. Merapal kata-kata serupa mantra. Menjelma gambar-gambar aneh seperti peta tak bernama.

Istri Ra begitu mudah muntahkan kata-kata aneh secara membabi-buta. Semacam mitraliyur berisi karsinogen diarahkan ke batok kepala Ra. Isi otak Ra berhamburan di lantai pecah-pecah. Ra sakaratul maut. Lalu perlahan secara pastimati membusuk. Dagingnya lumat digerigiti ribuan belatung lapar.Tetapi istri Ra tetap tidak peduli. Mulutnya semakin deras menghanyutkan ribuan gelondong kata-kata ke sungai magma.

Merelakan semua perihal untuk lumat dalam sekejap. Kedua tangannya bagai api memeluk poster teater, rak buku, foto sepasang pengantin, kursi tamu jepara, gorden serta lampu gantung. Api di dalam rumah kertas Ra bergemuruh. Gemeretak.

Tetapi, tubuh istri Rayang putih bagai porselin itu membelah delapan. Menguap ke udara untuk terbang bebas. Mulutnya tak berhenti bergumam. Serupa magma.

Apakah istri Ra keturunan burung-burung padang pasir?
"Jadi TKI jelas penghasilannya.Mana bisa kita hidup dari satu pekerjaan.Negara tidak peduli dengan nasib penulis seperti dirimu, Ra,"perempuan bertubuh pendek itu terus menggosok pakaian.Seterika panas menghasut pikirannya yang kusut.

Mungkin Ra tak hanya cakap jadi TKI.Tetapiperca-perca ulet.Tangguh menghadapi cincinapidalam kelompok sirkus. Perca-perca penghibur anak-anak yangtersesat di dalam kurikulum sekolah. Perca-perca yang setia menjalani kutukan dihari tanpa nama.Perca-perca yang melebur pesta badut-badut pada perayaan festival burung dan cahaya.

"Berhentilah sebentar menulis.Kau selalu meninggalkan aku sendirian di waktu malam.Kau tidak peduli ketika asmaku kambuh.Ini musim penghujan.Apa kau tidak dengar kata-kataku. Setidaknya, kamu jadi karyawan Tek Sun. Mengabdi untuk perusahaan yang menggaji dengan upah standar.Agar kita bisa cicil hutang bank.Rekreasi rutin ke pantai pink seperti tetangga sebelah.Bisa tidur nyenyak tanpa memikirkan neraka jahanam."

***

Ra kerap bugil di depan kaca. Iamerasa telah menjadi Bob Kat sejati. Si tuksedo yang benci terhadap air. Tetapi ia memilih untuk berenang di dalam hutan Aokigahara. Tubuhnya mengapung.Sesekali angin mendorong dari celah-celah batuan vulkanik.Menjadi siulan aneh mengarak ke batang-batang sungai.Ra menjadi sandera hutan gelap.Semakin terasing.Sewaktuburung cangak bertengger sambil merumuk dirimbunan dahan.Lalu bergegas mencuri ikan-ikan nelayan.

”Ra. Aku baru tahu, kita benar-benar miskin.Miskin tanpa tobat.Shampo dan sabun mandi habis.Di ember, tak sebiji beras pun kutemui.Hanya aroma biji plastik ember merah.Ini awal bulan mencekam.Mau pinjam uang kemana lagi kita, Ra?"

Pada garis marka lurus dan berkelok itu, ketika matahari terpancang tegak, Ra masih menunggu dengan setia seorang dermawan.Berparas aristokratis.Tetapi ia bukan seorang parlemen atau pengusaha.Bukan pula abdi negara atau pamong praja.Tubuhnyaberlumur aroma kenanga.Entah dari timur atau tenggara.Dipunggungnya melekat sepasang sayap.Mendengung halus seperti lebah.

Dari jam sepuluh pagi hingga enam sore ia menuai gagal. Ia seperti merasa ditampar mitos-mitos sesat itu.Kedua kakinya gemetar. Tak ada apa-apa di sana. Tak ada siapa-siapa selain kegaduhan siang aneh.Ketika Ra beranjak kedua kakinya seperti tertancap ke dalam tanah.Orang-orang bergegas berlari menuju tubuh Ra. Untuk sekedar berteduhsemberi bercakap tentang lotre dan perubahan cuaca.

"Berapa kali kukatakan, kita bisa mati karena menanam harapan, Ra. Biar orang parlemen saja memberi harapan palsu itu.Kamu nggak usah ikut-ikutan.Karena lidah mereka sudah biasalentur berbohong.Memangnya kamu sudahpintar bohong?Ah, jangan-jangan kamu punya gundik sekarang?"

Semacam pertukaran nyawa tidak tercatat.Kau cabut atau catut.Lalu mainkan sepenggal-sepenggal irama sungsang.Sepasang matamu menjala liar layar laptop.Lalu menebar cemas dikedalaman putih pucat itu.Ketika jala diangkat kau tak mendapatkan apa-apa.Hanya dengung tak teratur kipas laptop.

Ra berharap ada satu huruf berdiri gagah di sana.Seperti gladiator mengalahkan seekor singa.Kedap-kedip krusor seperti ribuan tepuk tangan penonton.

Krusor bergerak ke situ, berhenti di situ saja. Seperti mewariskan garis-garis tegas merah sampai ke padang Sabana.Merindukan ringkik kuda jantan.Membawasepotong kepala yang berkhianat pada betina.Odelirih Rite yang menyeret matahari kembar ke puncak bukit gersang."Weli pangaha apae...." lengkingnya menjauh.Hilangdisebalik kabut subuh.

Ra memilih di dalam hutan gelap.Tubuhnya kerap menyeret bayangan hutan di siang hari.Tumpah ruah ke jalan raya.Gemuruh mesinsaling berburu.Seperti sekerumunan lalat merangsak isi perut bangkai anjing.Mengais daging hingga ke dalam rongga-rongga merah gelap.

Malammenyisahkansebungkus cahaya.Langkahnya menyadarkan tentang sebuah kutukan perih.Kembali sendiri dalam sunyi.Cahaya perlahan muram.Langit menitis air duka. Padahal hujan tak mengirim tanda-tanda.Semakin keras usahanya, cahaya muram dan air duka membiak serupa kelopak bunga.Ra sadar bahwa semuanya bermula dari dirinya sendiri.

"Kamu tidak harus menjadi pencuri.Bekerjalah.Demi waktu."

"Kita tak bisa menghitung jumlah bintang.Tetapi kamu dapat membaca rasi-rasi bintang.Seperti kita lakukan sewaktu kita pacaran.Secara cermat.Hidupteramat rumit dijabarkan secara logika.Kita pernah jatuh.Berkali-kali di jalan berbeda.Pada musim berbeda.Tetapi kita tidak bisa menebak kemana kita melangkah.Aku telah bekerja.Demi waktu!" suara Ra menggelegar.Sepasang mata istri Raseperti dipatuk ular.

"Kamu ngomong apa, Ra. Aku nggak ngerti..."

Ra bagai seekor sapi kehilangan birahi.Cuping hidungnya bergetar di siang jahat.Angin tenggara menggiring cuaca aneh.Ia hendak melawan arah.Tetapiiatetap seekor sapi kehilangan birahi. Ladang-ladang telah lama ditinggal petani.Bermigrasi ke ladang-ladang baru.Ladang-ladang yang telah merubah kelamin serta wajahnya.Ra kembali sendiri.

Di ladang-ladang baru itu, Ra tak lagi mendengus derap sepatu tentara. Gemuruh rantai tank.Teriak liar pemuda di jalan raya.Tangan-tangan mengacung ke langit.Untuk satu peristiwa besar dan harga diri.Ia hanya melihat ikan-ikan cantik berduyun-duyun ke salon. Beruang putih yang selalu menghindar dari ultra violet.Tak ada kerumunan anjing liar yang merangsak tong-tong sampah.Mereka telah dimusnahkan untuk alasan ketertiban.

Sayup-sayup ia dengar radiomengumandangkan mars Indonesia Raya.Ra kembali sendiri.

"Belajarlah dari peristiwa tetes air itu, Ra.Setetes demi setetes. Menghujam tajam.Terus pada kedalaman yoni punggung batu itu."

Tak lama setelah mewarisi wejangan itu, orang bijak itu mati.Ra tak sempat bertanya.Ra kembali sendiri.Mengapaorang-orang baik begitu cepat pergi.Sementara itu, menunggu orang baik seperti menunggu hujan salju di negeri tropis.Hanya keajaiban dan kemurahan jaman orang-orang baik hadir.Mencurahkan segala bentuk derma dan darma.Dunia yang rumit juga kadang melahirkan hal-hal aneh serta tak terduga.

Mendadak Ra ingin jadi Hitler.Punya kekuasaan.Ditakutimelebihi iblis paling durjana di muka bumi.Menggembala ribuan tank-tank menjalar liar di kota Leningrad. Atau tidak ada salahnya sesekali mencuri bola mata domba-domba itu.Untukdilempar menjadi dadu.Bukankah malam tampak sepi tanpa permainan dadu.Dadu yang selalu berpihak kepada hidup mapan.

Ini benar-benar terjadi di negeri Ra. Ra ingin kenang segala bentuk kepahitan itu.Meski bulan tampak pucat ketakutan.Ribuankelelawar penghisap darah mengencingi tanah-tanah subur.Berbau amis hingga pelataran taman istana. Kebun-kebun bunga.Pagitak lagi menjanjikan kenikmatan kanthil atau kenanga.Siapa sesungguhnya pemilik musim itu?

Ra Berdiri di tengah marka.Menunggu seseorang yang baik hati.Entah dari timur atau tenggara.Dengan sepasang sayap dipunggung.Paruhnya menjepit mitos cacing dari selatan.Tentang seorang putri cantik berbaju sunyi.Ia tanggalkan baju itu untuk dapat melihat dunia yang lebih tenteram. Masihkah orang-orang kota menyisahkan beranda yang lebih tenteram?

"Apa dan siapa musuhku?"

"Kamu tidak perlu mencari musuh.Yang kamu cari itu uang.Agar kita dapat makan.Titik."

Tiga puluh menit lumer.Mendung menebar asin.Sebuah mangga jatuh menimpa atap seng.Suaranya berdentamkeras.Menghantam tepat ke dalam pikiran Ra. Istri Ra benar."Kamu tidak perlu mencari musuh, Ra. Yang kamu butuhkan itu uang.Agar dapat makan."

Ra kini menjelma menjadi kuda putih tua.Berlari.Ringkiknya membentur dinding batu.Berderak dari abad gelap.Ia tak mungkin menemukan ksatria seperti dalam mimpinya. Otot-ototnya berkelejatan untuk terus berlari.Berburuatau diburu ke dalam hutan.Ra butuh 100 purnama mencapai puncak bukit itu. Memberi nama-nama jalan agar sampai ke titik api.

Ra memintal sangkar dengan tangannya sendiri.Setelahkelamin dan jantungnya diletakkan di ambang jendela. Menunggu matahari membakar di atas suhu 46,7 derajat celcius. Serbuk pagi menguap di udara.Tanpawarna.Burung-burung padang pasir itu menukik deras. Menuju Ra yang terpaku menatap matahari.Salah satu dari mereka menjerat leher Ra dengan cakarnya.Ra tercekat.Meronta liar.Kedua kakinya menghentak liar. Jam dinding mengelupas hari.

"Apa yang kau tulis Ra!Seluruh omonganku kau tulis dimonitor.Kau benar-benar sangat keterlaluan.Sungguh-sungguh keterlaluan. Aku marah..."

Ra baru sadar.Kini tak tersisa sebatang rokok.

Sepasang mata burung padang pasir menatap sinis. Kepak kedua sayapnya menyimpan aroma api. Mungkin ia harus segera menuju ke titik api.Secepatnya bertemu anakistri.Untuk memadamkan titik api di dalam rumah kertas Ra.Setelahburung-burung padang pasir itubermigrasi ke tenggara.

Tetapi semua terlambat.Istri Ra tak henti-hentinya mengumpat di sebalik lidah api.Kedua tangannya bagai api memeluk poster teater, rak buku, foto sepasang pengantin, kursi tamu, gorden serta lampu gantung. Api di dalam rumah kertas Ra bergemuruh. Gemeretak.

Tetapi tubuh istri Ra yang indah bagai porselin itu membelah delapan.Menguap ke udara untuk terbang bebas. (*)



Mataram, 2016


R. Eko Wahonoberdomisili di Mataram, NTB.
Buku-bukunya antara lain Potret Kita
(kumpulan cerita pendek, 2000)
dan Bibir Perkusi ((kumpulan cerita pendek, 2005).

Komentar

Postingan Populer