Terjebak Belukar Imaji
Di bawah atap asbes panas itu, dua puluh tahun lalu ternyata membuat jalan hidup saya berubah. Saya tidak menduga sama sekali bahwa akan membuat satu keputusan bahwa saya berada di jalur yang oleh orang tua dianggap tidak wajar. Menjadi seniman, apalagi seorang penulis cerita pendek atau lakon teater.
Mengapa saya menulis
Menulis, baik itu prosa maupun naskah lakon teater, bagi saya adalah tamasya yang menyenangkan. Dengan menulis itu secara tidak langsung telah mengasah alam bawah sadar saya untuk tetap terjaga. Saya harus peka terhadap apa saja yang terjadi di luar. Juga perubahan "cuaca serta iklim" yang kerap tidak pernah kita duga.
Menulis adalah dorongan aktif sebagaimana halnya kita bernapas. Dengan begitu apa saja bisa saya tulis, termasuk di dalamnya cerita pendek. Dengan menyelesaikan satu cerita pendek, saya merasa menjadi manusia baru. Entahlah, mungkin hanya perasaan saja. Tetapi secara jujur, bahwa dengan menulis apalagi menyelesaikan secara utuh (dimuat dikoran) saya merasa hidup begitu lempeng. Semua makhluk hidup menyapa saya secara positif. Dan pada akhirnya, energi yang ada dimuka bumi ini terserap secara alami ke dalam tubuh dan pikiran saya. Mungkin ini juga salah satu akibat, saya terlalu banyak nonton film kungfu.
Ya, saya suka film kungfu. Ilmu bela diri itu tidak saja mengajarkan si pemakai dapat melindungi diri dari sesuatu membahayakan dirinya. Lepas dari itu semua, bahwa dampak dari apa yang ia lakukan adalah merupakan energi positif. Sungguh, saya membutuhkan perangkat lunak dan keras seperti itu. Semua itu, tentu saja saya dapatkan dari pengalaman selama saya menulis. Efek buruk tentu saja ada. Saya menjadi orang penyendiri. Suka melamun. Sensitif. Kurang gaul. Susah bicara di depan banyak orang. Menghayal hal-hal yang tidak dipikirkan manusia pada umumnya. Dan dampak paling buruk adalah dari faktor sosial. Saya tidak dianggap sebagai orang yang berdomisili di satu tempat. Bahkan, para tetangga baru ada yang tahu setelah 8 tahun bahwa saya menetap di salah satu kota kecil.
Bagaimana saya menulis
Saya tidak pernah merasa kesulitan (selama masa produktif) untuk melakukan aktifitas menulis. Saya dapat menulis disembarang tempat. Di rumah kawan (biasanya di kediaman (alm) Imtihan Taufan). Oya, berkunjung ke rumah kawan sastrawan merupakan kiat tersendiri saya ketika mengalami kebuntuan berkarya. Saya kira itu obat paling sederhana dengan multiefek yang maksimal. Saya membutuhkan charge setiap saat. Dengan berjalan kaki sekitar 15 hingga 30 menit saya sudah menjumpai banyak hal di jalanan. Otak saya membidik serta merekam secara otomatis hal-hal yang sekiranya dibutuhkan dalam proses pengkaryaan.
Ditambah dengan dialog ringan seputar perkembangan sastra bersama rekan-rekan sastrawan. Bagi saya itu sudah lebih dari cukup. Dari hasil diskusi ringan itu saya mendapat pengalaman bathin baru. Referensi baru. Disamping buku-buku yang saya lahap secara reguler. Saya menyebutnya sebagai protein hidup dalam dunia sastra. Tanpa gesekan intens itu tentu saya merasa ada yang kurang lengkap. Saya kira, para penulis atau sastrawan memiliki seribu bahkan sejuta kiat untuk melakukan apa saja, agar karya-karya mereka tetap survive dan berbicara mewakili jamannya.
Kapan Waktu Tepat Untuk Menulis
Dari pengalaman selama ini, saya tidak membutuhkan waktu khusus untuk menulis. Menulis bagi saya adalah kebutuhan. Seperti halnya saya perlu makan. Bernafas. Saya melakukan dengan perasaan riang.
Sekitar awal 80-an, ketika masih tinggal di perumnas saya sempat mengeluh. Sebab, jika musim kemarau, atap rumah terbuat dari asbes cukup mengganggu. Saya merasa seperti berada dalam oven dengan temperatur tidak nyaman. Punggung serta kepala saya penuh peluh. Dan jika hujan, suaranya begitu berisik. Orang-orang di rumah berbicara dengan suara memekakkan telinga. Saya coba menenangkan diri. Bersabar. Duduk di depan mesin tik tua. Menghadap lorong gang yang lengang. Hampir satu jam saya mematut memandangi kertas HVS yang masih kosong. Tak lama, jari saya melepaskan huruf "A". Saya belum menemukan gagasan apa-apa di situ. Tetapi huruf "A" itu memancing perdebatan sengit di dalam pikiran saya. Hujan masih mengguyur dengan deras disertai gemerisik atas asbes. Halilintar. Angin menyeruak segala sudut ruang tamu.
Cerpen di atas berjudul "Wanita Itu Masih Ada di Kamarku" dimuat di harian umum Suara Pembaruan, 27 Oktober 1996. Sementara cerpen saya kirim pada 1995. Jadi, hampir setahun kemudian baru dimuat. Saya nyaris lupa ketika mampir di perpustakaan daerah NTB, ekor mata saya tertumbuk pada halaman sastra itu. Seperti judul cerpen yang saya kirim setahun lalu. Sumpah, saya terkejut bahwa cerpen itu ternyata diterima redaktur.
Cerpen di atas, seperti halnya cerpen-cerpen yang saya ciptakan lebih banyak menceritakan peristiwa psikis. Juga pada cerita pendek Ujair Memeluk Matahari. Satu cerpen yang menceritakan tentang lelaki berdiri di atas sebongkah batu besar. Ia mengenakan jubah gelap. Kerap berdiri secara angkuh membelakangi matahari. Saya coba menjabarkan tentang kecenderungan manusia dengan perangkap keyakinan untuk menguasai dunia. Cobalah tengok penggalan dialog antara anak dan ayah yang terkejut pintunya diketuk seseorang:
"Siapa? Siapa pengirim suratnya? (Aku berteriak dari dalam kamar.). Bukan ayah. Ia bukan seorang petugas pos. Lantas siapa! (Aku berteriak lebih lantang) Lelakikah? Perempuankah? Siapa?(Ia tak menjawab. Aku benar-benar merasa kamarku benar-benar hampa. Aku mulai tak sabaran). Suruh ia segera masuk. Katakan padanya agar jangan sungkan-sungkan. (Aku mencoba bersabar. Menunggu. Tetapi ia tak segera muncul). Siapa itu, anakku. Biarkan ia masuk. Jangan biarkan pintu itu terbuka lama-lama. Kau tahu aku tak suka! (Kupingku menangkap langkah-langkah mendekati kamar. Lorong-lorong dalam rumah tampak mulai terang benderang. Aku benar-benar tak suka pemandangan seperti ini. Tapi cahaya itu nampaknya terus berjalan mengendap-endap. Ketika cahaya itu berhenti di tengah pintu telapak kananku menutup sebagian wajahku. Setelah beberapa lama, sepasang mata tuaku mulai melihat dengan jelas siapa yang datang. Mendadak jantungku seperti mau pecah ketika anakku memperkenalkan tamu itu padaku). Perkenalkan, ini Ujair yang aku ceritakan di dalam mimpi itu, ayah..."
Juga pada cerita pendek "Seseorang yang Membawa Api". Cerpen ini mengisahkan betapa tidak mudahnya menciptakan keharmonisan. Setiap saat, televisi menghidangkan kekerasan dan fenomena banal di ruang domestik (baca: ruang keluarga). Mereka adalah kita sendiri. Istri dan anak-anak. Menyaksikan kekerasan, sikap hedonis dan pertikaian antar suku. Media elektronik dan cetak menghadirkan seluruhnya bagai tanpa dosa. Seakan kekerasan merupakan bagian terdekat, seperti urat nadi yang melekat erat di tangan kita. Perisitiwa-peristiwa itu melesat sedemikian cepat. Laksana kilat. Saya harus segera menangkap. Jika tidak maka segera terhisap. Terganti isu-isu lain yang lebih memikat.
Saya sadar, bahwa kehadiran cerita pendek begitu sangat terbatas. Kehadirannya bukan satu-satunya solusi atau jalar keluar dari setiap persoalan. Tetapi setidaknya masyarakat pembaca dapat melihat serta merasakan peristiwa itu dari perspektif estetik bahasa. Bukan hanya sekedar akrobatik keindahan kata. Lebih dari itu adalah upaya untuk lebih mencerdaskan kehidupan berbangsa. Sebuah cita-cita yang tidak sederhana. Tetapi, saya yakin para sastrawan melakukan upaya yang sama. Bahwa bangsa yang besar ini, harus ditopang oleh masyarakatnya yang gemar membaca, terutama karya-karya sastra bermutu.
Demikian pula cerpen "Lelaki di Bawah Tiang Listrik". Mengisahkan tentang seorang lelaki yang selalu berbicara dengan sebuah tiang listrik di malam hari. Cerpen ini saya buat pada masa orde baru berkuasa, 1995. Suatu jaman keemasan rezim Soeharto. Kita dapat melihat dengan mata telanjang, bahwa pembangunan yang diregulasi selalu tidak berpihak kepada yang lemah. Rezim ini bersama kroni-kroninya membangun perusahaan gurita. Yang membuat jurang antara kaya dan miskin semakin menganga.
Saya dengan secara tidak sengaja menghadirkannya sebagai sebuah monolog, seperti kebanyakan cerpen-cerpen yang saya buat. Tetapi menghadirkan dengan apa adanya. Saya coba untuk tidak bermain metafora terlalu padat. Melainkan bermain dengan suasana. Lelaki yang gagal membina rumah tangganya lantaran persoalan ekonomi. Anak dan istrinya meninggalkan dirinya dalam keadaan tragis. Cerpen ini tentu saja bukan rekayasa imajinasi murni. Melainkan dari perjalanan saya yang biasa saya lakukan pada malam hari.
Suatu malam, saya bertemu kawan Adam Gautar (Geger Prahara). Kami memutuskan untuk berjalan membelah malam. Tanpa tujuan. Tepat di daerah Kekalik, sebuah kelurahan kecil di Tanjung Karang, kami berjumpa sosok aneh. Seorang lelaki kurus bicara sendiri di depan tiang listrik. Tangan kanannya memegang sebuah tongkat. Entah kayu. Mungkin sebatang besi. Selesai bicara, tentu saja dalam bahasa meracau, ia memukul batang besi itu ke tubuh tiang listrik. Sesampai di rumah, saya tidak bisa tidur nyenyak. Pikiran saya tertuju pada lelaki misterius itu. Dari pergulatan bathin dan observasi singkat itu, saya coba hadirkan cerpen Lelaki Di Bawah Tiang Listrik. Cerpen ini dikemudian hari saya ikut sertakan dalam lomba penulisan cerpen di harian umum Bali Post. Saya cukup beruntung, karena cerpen tersebut masuk dalam 10 besar naskah terbaik. Saya kira ini menjadi momentum yang signifikan untuk memacu saya kelak menjadi penulis prosa.
Tetapi, saya tidak berhenti pada tahap dipenulisan cerita pendek. Saya kerap merasa tidak puas dengan satu pekerjaan. Satu cerpen, terkadang membuat saya menjadi gelisah untuk merevitalisasi menjadi karya lain. Seperti halnya "Bibir Perkusi" yang saya buat pada kurun waktu yang cukup lama yakni, April 2004 hingga Desember 2012. Dengan tokoh utama Fredo dan Lora. Cerpen ini lalu saya pindahkan ke atas panggung bersama Teater Lho Indonesia. Saya merasa bahwa cerpen ini masih ingin berbicara dalam bentuk yang lebih luas. Tidak hanya berhenti pada teks secara absolut. Tetapi menjelma menjadi bentuk gerak, vokal, rupa dan bentuk estetika lainnya. Tentu saja, saya tidak berhenti sampai di sini. Karena, di suatu masa yang lain, salah satu bentuk prosa yang saya ciptakan bersiap-siap bermigrasi dalam bentuk estetika lain.
Entahlah, kenapa saya memilih nama-nama tersebut. Tak ada alasan spesifik tetapi lahir begitu saja. Mungkin soal diksi, barangkali. Tokoh Fredo mewakili pemuda di jaman yang serba digital. Ia merasa teralienasi dengan begitu cepatnya informasi dan peristiwa yang berkelebat depan mata. Ia senang keliling dunia. Bertemu wanita-wanita cantik. Berdansa. Bertukar cerita. Dari satu hotel ke hotel lainnya. Sambil lalu, sebenarnya ia sedang merencanakan sesuatu yang penting dalam hidupnya. Ia hendak membunuh seorang pemuda. Lalu ia bertemu seorang wanita bernama Lora. Darinya ia dapatkan informasi yang sejujurnya ia bahkan belum bertemu dengan lelaki dimaksud. Hingga puncaknya, ia bersiap untuk bertemu lelaki itu di sebuah lantai dansa. Setelah menemukan waktu yang ia anggap tepat, ia sodorkan moncong senjata ke arah lelaki itu. Ia menggertak sambil menanyakan namanya: "Siapa kamu?" lelaki itu awalnya diam saja. Lalu terpojok. Keringat dingin mengalir deras di pelipisnya. "Siapa kamu?!" lelaki itu akhirnya menjawab: "Saya Fredo!".
Mungkin ini yang menjadi ciri khas dalam setiap penciptaan karya-karya cerita pendek saya. Tapi, mungkin pula saya tidak benar. Karena dalam beberapa cerpen, terutama dalam antologi Potret Kita, saya menawarkan beberapa peristiwa yang begitu kita akrabi. Semisal dalam cerpen Bredel dan KTP. Dan, tentu saja dalam lain waktu, saya melompat dari gagasan satu ke gagasan lain. Semua saya lakukan dengan riang. Tanpa beban. Maka, lahirlah cerita pendek Ayahku (Katanya) Seorang Pelaut yang dimuat di majalah Gadang (Riau). Juga cerpen Tikus dimuat harian umum Suara Pembaruan, Minggu, 1 Mei 2011. Dan, cerpen Seseorang yang Membawa Api direinterpresikan musisi Ary Juliyant menjadi musikalisasi cerpen.
Seluruh proses penciptaan baik prosa dan penulisan lakon yang saya jalani, ibaratnya saya kadung terjebak dalam belukar imaji. Saya tidak dapat melakukan apa-apa yang berkaitan dengan estetika berkesenian. Dunia kepenulisan menjadikan diri saya seperti hari ini. Tak lebih juga tak kurang. Apa saja yang saya geluti, baik itu upaya pendokumentasian dalam bentuk visual sekalipun, dunia teks terus menggelayuti alam pikir saya. Saya bersyukur, bahwa Tuhan telah memberi apa yang saya butuhkan. Terutama kebutuhan saya sebagai penulis prosa.
Demikian, saya kira ini hanya salah satu kiat sederhana bagaimana kita menempatkan profesi kita secara proporsional dan wajar. Seperti halnya dokter atau seorang arsitek. Ia menjadi penting, jika kita sendiri menganggapnya penting. Dan saya kira, masih banyak lagi cara atau kiat untuk menjadi seorang penulis prosa. Karena yang saya jabarkan tentu saja merupakan pengalaman bathin. Selebihnya kembali kepada kita masing-masing, apakah kita serius atau hanya sekedar menulis untuk perkara iseng. Salam takzim.
R. Eko Wahono
Mataram, Mei 2015


Komentar
Posting Komentar