LAKON TANDA SILANG
TEATER LHO INDONESIA
Produksi 1995
TANDA SILANG
(WHERE THE CROSS IS MADE)
Karya : EUGENE O’NEILL
Saduran : W.S. RENDRA
Pelaku:
DARPO Anak Kapten
KAPTEN Ayah Darpo
NANI Adik Darpo
DOKTER
Kabin Kapten, sebuah kamar yang dibangun sebagai tempat peninjauan dipuncak rumah Kapten itu, yang terletak di tanah yang meninggi, di salah satu tempat di sebelah utara pulau jawa. keadaan di dalam kamar ini diatur seperti di dalam sebuah kabin seorang Kapten di sebuah perahu layar yang besar. di dinding kiri ke depan, terdapat sebuah jendela kapal yang bundar. lebih ke belakang, terdapat tangga ke atas yang seolah-olah jalan menuju dek. jauh ke belakang lagi, terdapat dua buah jendela bundar, di kiri belakang terdapat ebuah buffet yang mukanya dari pualam dan di atas buffet terdapat lentera kapal.
Di tengah belakang, di lantai, terdapat sebuah lubang pintu, di atas tangga yang menuju ke ruang bawah. sebuah dipan rendah dan ringan membujur dari dinding sampai ke kanan pintu itu. Di atas dipan terdapat sebuah selimut, di dinding sebelah kanan terdapat dua buah jendela bundar. Persis di bawah jendela itu, terdapat bangku kayu, dan di depannya terdapat sebuah meja panjang dengan kursi bersandaran lurus, ke depan dan di kirinya permadani yang murah dan berwarna gelap terhampar di lantai. di atas. Di atap, tengah-tengah terdapat sebuah jendela yang membujur dari tempat lubang pintu sampai ke sisi kiri meja. Di sebelah kanan atap meja itu terdapat sebuah kompas kapal, lampu tempat kompas menyinari tempat ini dari atas, sedang terus ke bawah ke kamar, sambil membuat bayangan bundar yang kabur dari kompas itu di atas lantai.
Waktu itu adalah jam-jam permulaan dari sebuah malam terang dan berangin, di musim kemarau cahaya bulan di saring angin yang meratap membentur pojok rumah yang kukuh. Merambat pelan dengan lesu menembus kaca jendela-jendela bundar dan istirahat seperti debu yang lelah, merupakan lingkaran-lingkaran terang di atas lantai dan meja. Bunyi pukulan ombak yang tetap, menyergap dan menjauh terbawa ke atas dari pantai di bawah.
Sesudah layar dibuka, pintu di belakang terbuka pelan-pelan dan tampak muncul kepala dan bahu Darpo. Ia melemparkan pandang dengan cepat ke sekeliling kamar, dan setelah tidak melihat siapapun di situ, ia terus naik dan masuk. Ia memberikan tanda pada seseorang di tempat gelap, di bawah “mari Dokter”. Dokter itu mengikuti ke atas, ke kamar dan setelah menutupkan pintu ia berdiri, menengok ke sekeliling dengan penuh perhatian. Ia sedikit kurus dan tingginya sedang, tampangnya tampang orang pandai dan umurnya kira-kira tiga puluh lima, Darpo sangat tinggi dan rusak. lengan kanannya telah terpotong, hingga bahu dan lengan jaketnya yang tebal. tergantung lesu atau melambai-lambai di samping badannya apabila ia bergerak. Tampaknya ia lebih tua dari umur yang sebenarnya, pundaknya luruh seolah-olah kecapaian mengangkat kepalanya yang berat oleh beban rambut hitam yang kusut. mukanya panjang. Bertulang. Pucat dengan mata hitam yang dalam, mulut lebar tipis dengan diteduhi oleh seberkas kumis tebal yang tak terpelihara. Suaranya rendah dan dalam, kosong dan merasuk seperti suara logam, disamping itu ia memakai celana tebal dan kasar dengan bersepatu karet untuk tenis.
DARPO
Tuan Dokter dapat melihat?
DOKTER
(Dengan suara dibikin-bikin biasa dan menyembunyikan tak enak yang dikandungnya). Ya cukup terang, jangan susah. Bulan purnama sangat benderang.
DARPO
Untung juga, (Berjalan pelan-pelan
ke meja) Ia tidak suka terang akhir-akhir ini. Hanya sinar dari tempat kompas
itu.
DOKTER
Ia? Oh… maksud saudara ayah saudara?
DARPO
(Kasar) Siapa lagi?
DOKTER
(Sedikit heran, menengok ke sekeliling dengan sedikit malu) Saya kira semua ini dimaksudkan seperti cabin sebuah kapal, ya?
DARPO
Ya, seperti yang sudah saya
peringatkan sebelumnya.
DOKTER
(Heran) Diperingatkan? Mengapa diperingatkan? Saya kira rekaan ini tidak mengejutkan, malah cukup menarik.
DARPO
(Penuh maksud) Menarik, ya mungkin.
DOKTER
Dan ia tinggal di sini, seperti kata
saudara, tidak pernah turun.
DARPO
Tidak, tidak pernah turun, sudah hampir tiga tahun. Adik perempuan saya yang membawakan makanan ke atas. (Ia duduk di kursi kiri meja) Ada lentera-lentera di atas buffet itu dokter. Tolong bawakan ke sini dan silahkan duduk. Kita terangi saja kamar ini. Saya minta maaf karena telah membawa tuan ke kamar di atap ini, tapi percayalah, takkan seorangpun bisa mendengar kita di sini. Dan dengan melihat cara hidupnya yang gila dengan mata kepala tuan sendiri, tuan akan mengerti bahwa saya ingin tuan tahu hal yang sebenarnya, tidak lebih dari itu, kebenaran dan untuk itu lentera sangat penting. Tanpa itu di kamar ini semua hanya menjadi impian-impian, Dokter.
DOKTER
(Dengan senyum lega membawa lentera) Sedikit angker di sini.
DARPO
(Tampaknya tak memperhatikan) Ia tidak akan melihat cahaya ini. Matanya terlalu sibuk, kearah jauh sana (Ia mengayuhkan tangan kirinya membuat isyarat menuding ke laut) Dan bila ia melihatnya, biar saja ia turun. Tuan toh harus menemuinya sekarang atau nanti (Ia menggoreskan korek menyalakan lentera)
DOKTER
Dimana dia?
DARPO
(Menunjuk ke atas) Di atas, di geladak. Silahkan duduk bung… dia tidak akan turun.
DOKTER
(Duduk dengan agak hati-hati di atas kursi di depan meja) Jadi ia punya atap yang sangat sempurna seperti kapal?
DARPO
Ya, seperti yang sudah saya
ceritakan pada tuan, seperti dek. Ada kemudi, kompas, tempat kompas berlampu,
tangga ke dek sana (ia menuding), jembatan yang bisa dibuat jalan-jalan hilir
mudik semalam suntuk. (Dengan keras yang mendadak) Sudah saya katakan bukan,
kalau dia gila?
DOKTER
(Dengan lagu orang pandai) Itu bukan sesuatu yang baru. Saya sudah mendengar seluruhnya tentang dia sejak saya pertamakali datang ke rumah sakit gila di sana. Saudara bilang ia hanya jalan-jalan di malam hari saja, di atas sana?
DARPO
Ya, hanya di malam hari. (penuh
kebencian) Barang yang ingin dilihatnya tak bisa dibayangkan siang hari-impian
dan semacam itu.
DOKTER
Tapi apa yang ia coba untuk
dilihatnya? Apa ada orang yang tahu?
DARPO
(Kasar) Apa? Semua orang tahu apa yang dicari bapak, tuan. Tentu saja kapal.
DOKTER
Kapal apa?
DARPO
Kapal bapak, Marlini – yang diberi
nama seperti nama ibu saya almarhum.
DOKTER
Tapi saya tidak mengerti, apa
kapalnya terlambat pulang atau bagaimana?
DARPO
Tenggelam dalam badai di sekitar
kepulauan Sampa dengan segala muatan dan penumpangnya. Tiga tahun yang lalu.
DOKTER
(Terpesona) Ah.. (Sesudah berhenti sejenak) Tapi ayah saudara masih tetap meragukan?
DARPO
Seorang kapten kapal pencari mutiara
melihat kapal bapak nungging, hancur seluruhnya. Itu terjadi dua pekan sesudah
badai. Mereka menghampirinya dengan perahu untuk memastikan kapal siapa yang
hancur itu.
DOKTER
Dan ayah saudara telah mendengarnya?
DARPO
Tentu saja, ia orang pertama yang
mendengar berita itu. Oh… apabila tuan ingin tahu, ia tahu betul tentang apa
yang terjadi pada kapalnya. (Menjulur ke arah Dokter, dengan tajam) Ia tahu
dokter, ia tahu, tapi ia tidak mau percaya… Ia tak bisa percaya dan terus hidup
begitu.
DOKTER
(tak sabar) Saudara Darpo, mari kita langsung ke soal pokok saja. Saudara membawa saya ke sini tiak untuk menambah mempergelap duduk perkaranya, bukan? Marilah kita bicarakan kebenarannya, seperti sudah saudara katakan tadi. Saya akan membutuhkannya untuk memperlakukan ayah saudara dengan simpatik apabila kami sudah membawanya ke rumah sakit gila.
DARPO
(Dengan kuatir, merendahkan suara) Dan tuan akan datang malam ini dengan pasti bukan?
DOKTER
Dua puluh menit setelah saya meninggalkan tempat ini, saya akan balik lagi
dengan mobil. Saya janji itu.
DARPO
Dan tuan tahu jalan ke rumah kami
bukan?
DOKTER
Tentu saja saya tahu, tapi…
DARPO
Pintu depan akan dibiarkan terbuka
untuk tuan, tuan harus langsung naik ke atas Adik perempuan saya dan saya akan
sudah berada di sini nanti. Dengan dia. Dan tuan tahu, tak seorangpun diantara
kita tahu menahu dalam soal ini. Maksud saya seolah-olah ini bukan atas anjuran
saya. Hal ini bukan kemauan saya, tapi kemauan orang lain. Ia sama sekali
jangan sampai tahu, bahwa…
DOKTER
Ya… ya… Tapi saya masih belum tahu,
apakah ia berhayal?
DARPO
Tidak, tidak… Ia selalu sangat
tenang, tapi mungkin ia berbuat sesuatu apa saja, bila ia tahu bahwa…
DOKTER
Percayalah, saya takkan membuka
mulut tentang itu, tapi saya akan membawa 2 orang pembantu untuk menjaga
kalau-kalau… (Ia merubah lagu suaranya dan kemudian melanjutkan dengan
terang-terangan). Dan saudara tahu kebenaran cerita ini, mudah-mudahan saudara
tidak keberatan menceritakannya.
DARPO
(Menggelengkan kepala penuh perasaan). Ada hal-hal yang sebenarnya. Yah, ini dia sekarang: pokok soal. Ayah adalah seorang kapten kapal pengangkut kopra, sebagaimana ayahnya, yaitu kakek saya. Pelayaran terakhir yang dibuatnya kira-kira tujuh tahun lalu. Menurut rencana ia akan berlayar 2 tahun. Tapi ternyata perpisahan kami menjadi 4 tahun. Kapalnya telah terdampar di lautan teduh. Ia dan enam orang lainnya, berusaha mencari pulau kecil, sebuah pulau tandus seperti neraka. Dokter, sesudah tujuh hari berlayar diatas biduk kecil yang tak beratap, anak buah lainnya tak ada beritanya sampai sekarang lenyap ditelan hiu. Dan diantara enam orang yang mengikuti ayah mencari pulau hanya empat orang saja yang hidup, waktu sebuah perahu dari Hawaii menolong mereka. Empat orang ini, akhirnya bisa pulang juga ke Jawa. (Dengan penuh tekanan). Mereka itu adalah ayah, Ilyas, Karto, dan Kanaka. Tak lebih dari empat orang. (Tertawa dibikin-bikin). Itulah kebenaran bagi tuan. Cerita ayah waktu ditulis orang disurat kabar.
DOKTER
Tapi bagaimana halnya dengan ketiga
orang lainnya di pulau itu?
DARPO
(Dengan kejam). Mungkin mati kapiran… Mungkin edan terjun ke laut… Begitu cerita yang kami dengar, namun ada pula bisikan yang kami dengar, bahwa mereka dijagal dan dimakan, barangkali… tapi yang terang hilang - punah, itu tak bisa dibantah lagi. Itulah kebenaran Dokter. Lain dari itu, kenapa dipusingkan benar?
DOKTER
(Penuh kengerian). Saya kira itu perlu dipusingkan, betul perlu.
DARPO
(Ganas). Kita berbicara tentang kebenaran Dokter. (Tertawa). Dan ini ada beberapa kebenaran lagi untuk tuan. Ayah membawa ketiga orang itu kemari, ke rumah ini: Ilyas, Karto, dan Kanaka. Kami hampir-hampir tak mengenal ayah lagi. Ia telah pergi ke neraka dimana kami menyaksikannya. Rambutnya telah putih, tapi tuan akan segera melihatnya sendiri, segera. Dan yang lain, mereka sedikit sinting juga, – – katakan saja edan. (Tertawa lagi). Kebenaran yang sangat terlalu, Dokter. Mereka meninggalkan tempat itu dan impianpun dimulai.
DOKTER
(Bimbang). Tampaknya, cukup sekian kebenaran cerita itu.
DARPO
Tunggu (Dengan sengaja memulai
lagi). Pada suatu hari ayah memanggil saya di depan orang-orang itu
menceritakan impiannya. Saya menjadi ahli waris dari rahasia itu. Pada hari
kedua mereka tinggal di pulau itu, katanya, mereka menemukan sebuah perahu
tersembunyi di dalam sebuah teluk, perahu itu kepunyaan bangsa bumi putra yang
telah hancur, rapuk dan penuh air. Sebuah perahu perang yang biasa digunakan
oleh para perompak. Tuhan juga yang tahu, berapa lama sudah perahu itu
membusuk. Tuhan juga yang tahu apakah anak buahnya telah musnah, karena di
pulau itu tak ada tanda orang pernah menginjaknya. Lalu Kanaka pergi ke perahu
itu, ia sangat betah menyelam, seperti orang telah tahu dan di dalam dua buah
peti ia menemukan. (Ia menyandarkan badannya ke kursi dan tersenyum dengan
penuh ironi). Coba terka: apa Dokter?
DOKTER
(Dengan jawaban penuh senyum). Tentu saja harta.
DARPO
(Menjulur ke depan dan menudingkan jarinya secara menuduh). Tuan lihat, akar kepercayaan tertanam juga pada tuan. (Bersandar lagi dengan gelak ditahan). Ah, ya. Harta, tentu saja, apa pula kalau bukan? Ia membawa harta itu ke atas daratan dan selebihnya, bisa tuan terka juga: intan berlian, zamrud, manikam, perhiasan, tak terbatas, tentu saja. Kenapa sebuah mimpi mesti dibatasi? Hahahahaha… (Tertawa sardonis, seolah mengejek dirinya sendiri).
DOKTER
(Sangat tertarik). Lalu?
DARPO
Mereka lalu mulai gila, lapar,
dahaga dan sebagainya, dan mereka mulai lupa. Mereka telah melupakan banyak hal
dan barang kali untung bagi mereka karena berlupa. Tapi, ketika ayah insyaf
akan apa yang terjadi pada mereka, begitu katanya: bahwa selagi mereka sadar
sebaiknya mereka – terka lagi sekarang, Dokter. Hahahahaha…
DOKTER
Menanam harta itu?
DARPO
(Penuh ironi). Gampang bukan? Hahaha… Lalu mereka membuat peta dengan arang kayu. Impian yang itu-itu juga dan ayah menyimpan peta itu. Segera sesudah itu mereka dijemput orang dalam keadaan edan seperti binatang, oleh beberapa orang Hawaii, sebagaimana sudah saya ceritakan… (Menghentikan suara ejekannya. Kemudian mencoba tenang, bicara dengan lagu sadar lagi). Tapi peta itu bukan impian Dokter. Sekarang kita kembali pada kebenaran. (Membentangkan peta di meja).
DOKTER
(Mengulurkan lehernya penuh perhatian). Gila betul… ini sangat menarik. Harta itu saya kira terletak di….
DARPO
(Menuding kertas). Di tempat tanda silang.
DOKTER
Dan ini tanda tangan- tanda tangannya.
O… begitu? Dan gambar ini?
DARPO
Tanda tangan Kanaka, ia tidak bisa
menulis.
DOKTER
Dan yang terbawah ini tanda tangan
saudara bukan?
DARPO
Ya, sebagai ahli waris dari rahasia.
Kami semua menandatanganinya, pada pagi-pagi hari, ketika kapal Marlini yang
diperbaiki ayah dengan cara menggadaikan rumah ini. Pergi berlayar untuk
mengambil harta itu. Hahahaha…
DOKTER
Kapal yang masih dinantikannya, yang
sudah tenggelam tiga tahun yang lalu?
DARPO
Ya, Marlini… Ketiga orang lainnya
itu ikut berlayar. Hanya ayah dan Ilyas yang tahu agak tepat tentang perjalanan
di pulau itu, dan juga saya sebagai ahli waris. Kira-kira…. (Bimbang, lalu
mengerutkan dahinya). Tak apa, saya akan menyimpan rahasia edan itu. Ayah pada
waktu itu ingin pergi bersama mereka, namun ibu sakit keras. Dan saya tak
berani pergi sendirian.
DOKTER
Jadi saudara ingin pergi? Kalau
begitu saudara percaya akan adanya harta itu?
DARPO
Tentu saja. Hahaha… bagaimana
mungkin saya mencegahnya? Saya percaya sampai saat kematian ibu. Lalu ayah
menjadi gila, ia membangun kabin kapal ini untuk menanti dan ia curiga karena
saya semakin bimbang. Akhirnya, sebagai bukti terakhir, supaya saya tidak
bimbang lagi, ia berikan kepada saya sebuah benda yang telah lama ia sembunyikan
terhadap anak buahnya. Sebuah contoh kekayaan dari harta itu. Hahahaha…
lihatlah Dokter (Dari sakunya mengambil sebuah gelang yang berat, tebal
bertahtakan batu-batuan dan melemparkannya ke atas meja di depan lentera).
DOKTER
(Memungutnya dengan rasa ingin tahu dan berkata seolah-olah pada dirinya sendiri). Permata tulen?
DARPO
Hahaha… Tuan ingin percaya juga,
bukan. Batu murah dan logamnya pun kuningan perhiasan orang-orang Samoa.
DOKTER
Saudara sudah menelitinya?
DARPO
Yah, seperti orang tolol. (Menyimpan
kembali gelang, kemudian menggelengkan kepala seolah hendak melemparkan sesuatu
beban).sekarang tuan tahu, kenapa ia menjadi gila. Ya, karena menunggu kapal
itu. Dan kenapa pada akhirnya saya minta pada tuan untuk membawanya pergi ke
tempat yang aman baginya. Rumah ini, yang dulu digadaikan untuk memperbaiki
kapal itu, sekarang sudah sampai pada batas waktunya. Kami harus segera pindah.
Adik perempuan saya dan saya. Kami tak bisa membawa ayah, adik perempuan saya
akan segera menikah. Mungkin dengan jauh dari pemandangan laut ayah akan…
DOKTER
(Sambil lalu) Mari kita harapkan yang baik-baik saja. Dan saya menghargai tindakan saudara. (ia bangkit dan tersenyum) Terima kasih untuk cerita yang menarik itu, saya tahu bagaimana cara menghiburnya bila ia mengigau tentang harta itu.
DARPO
(Muram) Ia selalu tenang, terlalu tenang. Ia hanya berjalan hilir mudik saja menanti…
DOKTER
Nah, saya harus pergi. Apakah
menurut pertimbangan saudara betul-betul tepat mengambil ayah saudara malam ini
juga?
DARPO
(Membujuk) Ya, Dokter. Para tetangga itu, mereka memang jauh, tapi… demi kebaikan adik perempuan saya, ah… Tuan tentu mengerti.
DOKTER
Saya mengerti. Tentu sangat berat
bagi adik perempuan saudara. Hal macam begini… Nah… (Ia pergi ke pintu yang
telah lebih dahulu dibukakan Darpo) Saya akan segera kembali. (Ia mulai turun
keluar)
DARPO
(Sungguh-sungguh) Jangan sampai gagal, Dokter, dan datanglah langsung ke atas ia akan ada di sini. (Ia menutup pintu dan bersijingkat dengan hati-hati ke tangga dek. Ia naik beberapa tapak dan mendengarkan satu suara dari atas. Lalu pergi ke meja. meredupkan lampu lentera hingga sangat redup dan duduk. Memperistirahatkan sikutnya, dagunya diletakkan di atas tangannya dan menatap ke muka dengan pandangan yang muram. Pintu di belakang terbuka perlahan-lahan, pintu berdenyit dan Darpo terloncat dari duduknya. Dengan suara ketakutan yang tertelan)
Siapa itu? (Pintu terbuka lebar-lebar, kelihatan Nanti. ia naik ke kamar dan menutupkan pintu itu kembali. Nani, tinggi semampai, berumur dua puluh lima. bermuka pucat dan sedih, muka ini diteduhi oleh rambut yang hitam pekat dan lebat. Hanya rambut yang hitam inilah, satu-atunya warna yang menghiasi dirinya. Bibirnya yang penuh itu pucat, warna matanya yang lebar dan cerdik itu, sudah mengabur antara hitam dan coklat. Suaranya rendah dan melankoli. Ia memakai gaun putih dan sandal).
NANI
(Berdiri dan menatap kakaknya dengan pandangan menuduh) Cuma saya. Apa yang kamu takutkan?
DARPO
(Membuang pandang dan kembali terbenam ke kursinya) Tidak apa-apa. Saya tidak tahu, saya kira ada tamu di dalam kamarmu.
NANI
(Datang ke meja) Saya sedang membaca, lalu saya dengar orang turun tangga dan pergi keluar. Siapa itu? (Dengan kekuatiran yang mendadak) Bukan ayah kan?
DARPO
Bukan. Ia ada di atas, menanti, seperti
biasa kerjanya.
NANI
(Duduk, mendesak) Siapa tadi?
DARPO
(Menghindar) Lelaki. Kenalan saya!
NANI
Lelaki bagaimana? Orang apa dia? Kau
menyembunyikan sesuatu, katakan.
DARPO
(Menatap dengan menantang) Seorang Dokter.
NANI
(terkejut) Ohh.. (dengan terkaan yang cepat) Kau bawa ke sini supaya saya tidak tahu.
DARPO
(Bersikeras) Tidak. Saya bawa kemari supaya dapat melihat kebenaran, untuk saya tanyai sesuatu tentang ayah.
NANI
(Seolah takut akan jawaban yang didapatnya dari Darpo) Apakah ia dokter dari rumah sakit gila? Oh Darpo. Kau kan tidak…
DARPO
(Menyela dengan serak) Tidak, tidak. Diamlah kau.
NANI
Ini adalah… adalah kengerian yang
terakhir.
DARPO
(Menantang) Kenapa? Kau selalu bilang begitu. Apalagi yang lebih ngeri kalau hal ini terus didiamkan? Saya percaya, akan lebih baik bagi dia, apabila dia pergi dimana dia tidak melihat laut lagi. Dia akan melupakan pikirannya yang gila; menunggu kapal yang telah tenggelam dan harta yang tidak pernah ada. (Seolah menyakitkan dirinya sendiri dengan bernafsu) Saya percaya ini…
NANI
(Menyerang) Tidak, kamu tidak percaya Darpo. Kau tahu bahwa ia akan mati jika tidak hidup di dekat laut lagi.
DARPO
(Pahit) Dan kau tahu Umar akan menuntut uangnya? Apa itu bukan apa-apa? Kita tak bisa bayar. Ia kemarin datang dan berunding dengan saya, ia sadar bahwa rumah ini sudah dapat disitanya, dari sudut apapun. Caranya bicara, kita ini seakan-akan penyewa saja, laknat dia itu. Dan dia bersumpah akan segera menyita rumah ini, kecuali kalau…
NANI
(Ingin tahu) Apa?
DARPO
(Dengan suara berat) Kecuali kalau… ayah… dibawa pergi dari sini.
NANI
(Sedih) Oh… Tapi mengapa, mengapa? Baginya ayah itu apa?
DARPO
Harga barang miliknya, rumah kita
ini, yang sebenarnya sudah jadi milik umar. Para tetangga takut, mereka balik
ke perumahan mereka dari kota, melewati jalan itu di waktu malam. Mereka
melihat ayah di atas atap berjalan hilir mudik melambai-lambaikan tangannya ke
langit. Mereka takut, mereka mengeluh, mereka bilang, untuk kebaikan ayah
sendiri, ia harrus dibawa pergi. Bahkan mereka mulai berbisik kalau rumah ini
berhantu. Si Umar takut akan barang miliknya, rumahnya ini. Ia kawatir, ayah
akan membakar rumah ini, atau melakukan hal-hal yang membahayakan…
NANI
(Putus asa) Tapi kau katakan pada Umar bahwa pikiran itu tolol sekali, bukan? Bahwa ayah selalu tenang-tenang saja?
DARPO
Apa gunanya mengatakan, apabila
mereka percaya, apabila mereka takut? (Nanti menutup muka dengan tangannya,
berhenti sejenak, Darpo bergumam dengan serak) Saya sendiri juga takut,
berulang kali takut…
NANI
Oh.. Darpo, takut apa?
DARPO
(Kejam) Takut dia dan laut yang selalu diteriakinya. Takut pada laut yang laknat, yang selalu dipaksakan kepadaku ketika aku masih bocah, laut yang merampas tanganku dan menjadikan aku barang rusak tak berharga.
NANI
(Memohon) Kau tidak bisa menyalahkan ayah atas nasibmu yang malang.
DARPO
Kenapa tak bisa? Ia keluarkan saya
dari sekolah dan memaksa saya untuk ikut dengan kapalnya, bukan? Apa akan
jadinya saya sekarang, kecuali pelaut sombong macam dia, bila dia berhasil
memaksa saya? Tidak, saya tidak bisa menyalahkan laut yang menggagalkan maksud
ayah dengan merampas tanganku dan mendamparkan saya kedaratan sebagai tambahan
korbannya lagi.
NANI
(Sambil tersedu) Kau pahit, Darpo, kau kejam. Hal itu sudah lama terjadi. Mengapa tidak bisa kau lupakan?
DARPO
(Pahit) Lupa? Asal omong saja. Kalau Tomo sudah pulang dari berlayar kau akan kawin dengan dia dan meninggalkan kehidupanmu yang biasa. Lalu menjadi istri kapten seperti halnya ibu kita. Saya harap saja kau bahagia.
NANI
(Memohon) Dan kau akan tinggal bersama kami, Darpo dan ayah, lalu…
DARPO
Apa? Apa kau akan membebani suamimu
yang muda itu dengan orang gila dan orang buntung macam saya? (keras dan kejam)
Tidak, saya tidak (penuh dendam) Dan ia juga tidak (tiba-tiba ada maksud lain,
berkata dengan sadar) Saya harus tinggal di sini. Bukuku sudah tiga perempat
jadi, buku yang akan membebaskan saya. Tapi saya tahu, saya merasa seyakin saya
hidup dan berdiri di depanmu ini, bahwa saya harus menyelesaikannya di sini.
Tak bisa kelihatan hidup bagiku di luar rumah ini, di mana saya di lahirkan.
(Menatap adiknya dengan tajam) Jadi saya akan tetap di sini menjauhi neraka. (Nani tersedu putus asa; sesudah diam sebentar Darpo meneruskan) Si umar, mengatakan saya boleh tinggal di sini, menumpang tanpa membayar, sebagai penjaga rumah, bila…
NANI
(Dengan ngeri, seperti gema yang dibisikkan) Bila?
DARPO
(Menatap adiknya, dengan suara bunuh diri) Bila saya bawa pergi ia dari sini, di mana ia tidak lagi membahayakan dirinya dan orang-orang yang lain.
NANI
(Dengan kengerian dan kejijikan) Tidak, jangan Darpo, demi ibu kita almarhum.
DARPO
(Membela diri) Apa saya bilang sudah? Mengapa kau memandang saya begitu?
NANI
Darpo, jangan. Demi ibu kita
almarhum.
DARPO
(Kacau) Diamlah, diam… Ibu telah mati dan telah damai. Apakah nyawanya yang telah akan kau panggil lagi padanya untuk diremuki dan dilukai?
NANI
Darpo…
DARPO
(Mencengkram tenggorokkannya seolah menahan sesuatu dalam dirinya, bersuara serak) Nani… Nani… Ampuni saya
(Adiknya menatap dengan firasat yang tak enak. sementara Darpo menenangkan dirinya dengan susah payah. kemudian melanjutkan omongannya dengan sadar)
Si Umar bilang, ia akan memberikan uang 20.000, bila saya mau sekalian menjual rumah ini kepadanya dan ia akan membolehkan saya tinggal, bebas sewa sebagai penjaga.
NANI
(Menghina) Dua puluh ribu? Itu kan malah jumlah yang lebih besar dari gadai rumah ini.
DARPO
Soalnya bukan perbandingan. Solanya,
apa yang bisa saya dapat kontan, untuk bukuku, untuk kemerdekaanku.
NANI
Jadi itulah sebabnya ia menginginkan
ayah pergi? Bangsat dia… Ia tentu tahu surat warisan ayah…
DARPO
Ya, bahwa rumah diwariskan pada
saya. Ia tahu, saya ceritakan kepadanya.
NANI
(Sedih) Betapa kejinya lelaki itu.
DARPO
(Membujuk) Seandainya hal itu terjadi, seandainya… saya akan berikan separohnya buat kau, untuk biaya kawinmu dan itu sudah cukup adil.
NANI
(Kalap) Uang haram… Kau kira saya mau menyentuhnya?
DARPO
(Membujuk) Itu kulakukan untuk adilnya, saya akan mau membaginya pada kau.
NANI
Ya, Allah, Darpo… Apa kau mencoba
menyuap saya?
DARPO
Tidak. Itu bagianmu dengan segala
kejujuran (dengan senyum yang aneh) Kau lupa bahwa saya juga ahli waris dari
harta yang terpendam itu dan saya akan cukup kaya untuk bermurah hati. Ha..
ha..ha..
NANI
(Kuatir) Darpo, kau ganjil, kau sakit, mas. Kau tak pernah bicara begitu jika sadar. Oh… kita harus pergi dari sini, kau dan ayah juga saya. Biar Umar menyita rumah ini. Akan ada yang lebih baik dari rumah ini dan kita akan pindah ke sebuah pondok kecil, di tepi laut, supaya ayah bisa…
DARPO
Bisa bermain gila-gilaan dengan saya.
Membisikkan impian-impiannya pada saya. Memandangi laut dan mengejek seperti
ini? (Ia mengambil gelang dari sakunya, Nani memandangnya, membuat ia mundur ke
sudut dan bicara ngeri) Tidak… Tidak… Sudah terlambat untuk bermimpi. Sangat
terlambat. Akan kutenggelamkan mimpi-mimpi itu di malam ini juga, untuk
selama-lamanya.
NANI
(Memandangnya dan sadar apa yang ditakutinya selama ini, menjadi kenyataan. Ia mengeluh hampir pingsan) Jadi kau telah melakukannya? Oh.. Darpo. Terkutuklah kau. Kau telah menjual ayah.
DARPO
Ssstt. Apa katamu? Dia lebih baik
lenyap dari laut.
NANI
Kau telah menjual dia.
DARPO
Tidak. Tidak (Mengambil peta dari
saku) Dengar kau, Nani. Demi Tuhan dengarkan saya. Lihat peta pulau itu dan
tanda silang di mana harta itu terpendam. Aku telah membawanya bertahun-tahun.
Tak ada gunanya. Kau tak mengerti, apa artinya. Peta ini terbeber antara diriku
dan buku-bukuku, antara diriku dengan kehidupan dan menderaku menjadi gila.
Ayah mengajariku untuk menunggu dan berharap, menunggu dan berharap hari demi hari. Ayah membuatku ragu terhadap daya otakku dan menipu mataku. Ketika harapan lenyap. Maka aku baru sadar bahwa segalanya itu Cuma mimpi. Dan aku tak kuaa membunuhnya. Namun aku selalu tetap yakin kalau Tuhan mengampuniku. Dan ini namanya gila-gila. Dengar kau?
NANI
Dan itu sebabnya kau membenci ayah?
DARPO
Bukan. Tidak begitu (Gila) Ya.
Memang aku membenci dia, yang telah mencuri otakku. Aku harus membebaskan diri
dari kegilaannya.
NANI
Darpo, jangan. Kau bicara
seolah-olah…
DARPO
Seolah-olah saya gila? Kau memang
benar, tapi aku tidak mau gila lagi. Lihat (Ia membakar peta dan keduanya
memandangi peta terbakar)
Lihatlah, bagaimana aku membebaskan diri dan untuk fakta-fakta itu, seperti kata dokter. Dokter dari rumah sakit jiwa. Lihat! Betapa peta itu hangus terbakar, lenyap. Berkas terakhir peta itu dan satu-satunya salinan dibawa oleh Ilyas di dasar laut. Musnah. Akhirnya aku bebas darinya. Ya, aku telah jual dia untuk menyelamatkan jiwaku. Mereka telah berangkat dari rumah sakit gila, kemari, untuk mengambil ayah.
(Tiba-tiba terdengar teriakan “Ahoyyyyyyy” di atas dan derap sepatu, terdengar pintu ditutup kembali dengan keras. Nani dan Darpo terkejut dan membantu Kapten menuruni tangga, menuju ruangan)
NANI
Yaa Allah dengarkah dia?
DARPO
Ssstttt.
(Kapten masuk)
KAPTEN
Sedang berpikir bahwa saya
gila,bukan? Berpikir bahwa selama tiga tahun ini kapal “MARLINI” telah
tenggelam?
DARPO
Tidak. Ayah. Saya…
KAPTEN
Jangan dusta. Engkau yang telah
kuputuskan untuk menjadi ahli warisku, merencanakan untuk menyingkirkan diriku.
Merencanakan untuk menjebloskan ayahmu ke dalam penjara.
NANI
Tidak ayah.
KAPTEN
Bukan engkau, anak manis. Engkau
anak ibumu…
DARPO
Ayah berpikir bahwa saya…
KAPTEN
Ada dusta di matamu, aku baca di
sana. Kukutuk kau…
NANI
Ayah jangan.
KAPTEN
Biarkan ayahmu, anak manis. Dia
percaya bukan? Dan ayah tidak mau dia jadi penghianat, mengejekku dan
mengatakan bahwa semua ini hanya suatu kebohongan belaka. Ia telah mengejek
dirinya sendirinya, telah menganggap dirinya bodoh untuk mempercayai bahwa
semua ini cuma impian.
DARPO
Ayah keliru, aku mempercayainya.
KAPTEN
Ya, sekarang kau akui. Siapa yang
tidak mempercayai matanya sendiri?
DARPO
Mataku?
KAPTEN
Engkau tidak melihat kapal itu?
Engkau tidak mendengar aku memanggilmu?
DARPO
Panggilan? Aku mendengar teriakan.
Tapi panggilan apa? Melihat apa?
KAPTEN
Yah, kini hukumanmu pengkhianat.
Kapal “MARLINI” telah kembali dari laut Jawa, kapal itu kembali seperti pernah
kujanjikan.
NANI
Ayah, tenanglah. Tidak terlihat
apapun.
KAPTEN
(Tak peduli. matanya menatap hipnotis pada Darpo) Kapal “Marlini” telah kembali setengah jam yang lalu, sarat bermuatan emas. Tidak ada sekeping karang pun padanya. Marlini, merapat pelabuhan, nah seperti kujanjikan, Marlini membongkar sauhnya tepat ketika aku menyerunya.
DARPO
(Terhipnotis dan nyalang memandang ayahnya) Marlini ? Tapi bagaimana ayah tahu?
KAPTEN
Tidak mengenal kapalku sendiri? Kau
sudah gila…
DARPO
Tapi pada suatu malam seorang kelasi
telah…
KAPTEN
Tidak benar, kataku. Kapal “Marlini”
jelas kulihat di malam terang bulan purnama seperti sekarang. Dan perhatikan,
masih ingatkah kau sinyal yang aku berikan kepada Ilyas bila merapat pelabuhan
di waktu malam?
DARPO
(Pelan-pelan) Cahaya merah hijau di puncak layar…
KAPTEN
(Menang) Kalau begitu, lihatlah keluar. Engkau dapat melihatnya dengan jelas dari sini. Kau sudah mempercayai matamu sendiri? Lihatlah sendiri dan sebutlah bahwa saya gila. (Darpo melihat dari jendela dan terhenyak-terkejut)
DARPO
(Pelan-pelan) Cahaya merah dan hijau di puncak layar. Ya, amat jelas seperti siang hari.
NANI
(Khawatir pada Darpo) Coba kulihat (ke jendela)
KAPTEN
(Penuh kepuasan) Ya, kau kini telah melihatnya secara jelas, namun telah sangat terlambat bagimu. Dari sini aku melihat Ilyas dan Kanaka dengan sangat jelas berjalan hilir mudik di geladak, di tengah terang bulan sedang memandang padaku. Marilah (Kapten diiringi Darpo menuruni tangga. Nani berpaling dari jendela wajahnya mengekspresikan ketakutan. ia menggelengkan kepala. tiba-tiba terdengar teriakan Kapten, “Marlini, ahoooiii” kemudian disusul teriakan Darpo, Nani tampak menggigil dan menutup wajahnya dengan tangan. Darpo masuk matanya liar dan penuh gairah)
NANI
Malam ini keadaan sangat buruk, Darpo. Kau harus menghiburnya, itulah obat yang paling penting dan baik.
DARPO
(Liar) Menghiburnya? Persetan apa yang kau maksudkan?
NANI
(Menunjuk dari jendela) Tak tampak
apa-apa di sana, Darpo. Tak ada kapal apapun di pelabuhan sana.
DARPO
Goblok kau atau buta? Kapal
“Marlini” ada di sana di mata siapapun dengan cahaya merah dan hijau di puncak
layarnya. Orang-orang yang goblok telah menyebarkan berita bahwa “Marlini”
tenggelam dan aku telah dibodohi.
NANI
Tapi Darpo, tak ada apa-apa di sana
(ke jendela) Tidak ada kapal di sana.
DARPO
Aku melihatnya. Aku melihat kapal
itu. Dari atas sini semuanya kelihatan sangat jelas. (Darpo duduk dan Nani
mengikutinya)
NANI
Darpo, kau tidak boleh membiarkan
hal ini, kau berdua pada menggigil dan kesurupan, Darpo. (Nani meletakkan
tangan di dahi Darpo, memeriksa panas badan)
DARPO
(Mengelak) Kau si buta yang tolol (Kapten masuk, wajahnya telah kembali seperti telah mengalami mimpi yang menjadi kenyataan)
KAPTEN
Mereka telah menemukan sekoci,
Ilyas, Kanaka dan Karto. Mereka sedang berlabuh ke pantai. Aku mendengar desah
dayung mereka. Dengar… (hening)
DARPO
(Gembira) Aku mendengarnya.
NANI
(Duduk dekat Darpo, memperingatkan) Itu hanya suara angin dan ombak Darpo.
KAPTEN
(Tiba-tiba) Dengar. Mereka telah mendarat. Mereka telah kembali seperti aku janjikan, mereka akan segera ke kamar ini… (Kapten berdiri tegang, Darpo berdiri dari kursi. Suara angin dan ombak laut tiba-tiba berhenti, cahaya hijau memasuki ruangan seolah-olah melukiskan kedalaman laut)
DARPO
(Memegang tangan Nani) Lihatlah, bagaimana cahaya berubah hijau dan emas. (Menggigil) Jauh di bawah laut aku tenggelam bertahun-tahun (Histeris). Selamatkan aku, selamatkan… Selamatkan aku.. ohhh….
NANI
(Memegang tangan Darpo dan menghibur) Itu hanya cahaya bulan Darpo. Tidak ada yang berubah tenanglah, sayang. Tidak terjadi apa-apa.
KAPTEN
Mereka berjalan perlahan-lahan,
sangat perlahan-lahan. Beban mereka berat dua peti. Dengar mereka sudah ada di
bawah, kalian dengar?
DARPO
(Beranjak ke pintu) Ya, saya mendengarnya. Pintu telah saya biarkan terbuka.
KAPTEN
Untuk mereka.
DARPO
Ya, untuk mereka.
NANI
Ssttt… (Terdengar suara pintu
dibanting di ruangan bawah)
DARPO
(Pada Nanti, gembira) Itu mereka, Engkau dengar?
NANI
Hanya hempasan angin Darpo…
KAPTEN
Mereka telah naik (berteriak)
Naiklah anak-anak. Mereka keberatan membawa peti itu. (Terdengar kaki-kaki
telanjang menaiki tangga)
DARPO
Sekarang kau dengr mereka?
NANI
Hanya tikus-tikus berlarian, tidak
ada apa-apa Darpo…
KAPTEN
(Menuju ke pintu dan membukanya) Ayolah anak-anak. Masuklah dan selamat datang dirumahku. (Nampak tubuh ilyas, karto dan kanaka membawa peti yang berat. Semua telanjang kaki, pakaian mereka basah dan air masih kelihatan menetes, rambut mereka dikotori oleh ganggang laut. Mata mereka menatap kosong dan gerakan tubuh mereka di bawah cahaya hijau sangat lamban dan berirama seolah merupakan gerak teratur dari kedalaman laut)
DARPO
(Menyongsong mereka) Lihat! (Gila) Selamat
datang anak-anak.
NANI
Duduklah, Darpo. Tidak ada apa-apa.
Tak seorangpun ada di sini. Ayah, duduklah.
KAPTEN
(Menaruh jari di mulutnya) Jangan-jangan di sana, anak-anak di sini, jangan di depan dia (Menunjuk Darpo). Dia tidak punya hak sekarang, mari harta itu milik kita. Kita akan pergi jauh bersama-sama. Mari,.. mari (Kapten menggabungkan diri dengan mereka. Bergerak ke atas diikuti ketiga anak buahnya. Ilyas menepuk bahu Kapten lalu menyerahkan secarik kertas. Kapten menerimanya dan tersenyum) Benar… benar.. (dia naik diikuti ketiga anak buahnya)
DARPO
(Gila) Tunggu. (Bergerak menuju mereka, Nani menariknya)
NANI
Darpo, jangan… ayah, kembalilah…
DARPO
(Melepaskan diri dari Nani) Ayah. (Lari naik)
NANI
(Histeris, lari mengejar ke arah tangga) Tolong… Tolong… (Ketika sampai di tangga, Dokter masuk tergea-gesa)
DOKTER
Tunggu nona. Apa yang terjadi?
NANI
Ayah di atas sana.
DOKTER
Aku tidak melihat, di mana senterku.
(Dokter menyenter wajah Nanti yang kena teror. Kemudian menyenter seluruh
ruangan. Cahaya hijau lenyap. Suara angin dan laut terdengar kembali. Cahaya bulan
masuk melalui lubang-lubang jendela-jendela bundar, Darpo mengetuk-ngetuk daun
pintu dia di atas tangga) Kesini. Darpo. Coba saya tolong.
DARPO
(Melihat ke bawah, kepada Dokter) Mereka telah mengunci pintu ini.
DOKTER
(Menaiki tangga) Apa yang terjadi, Darpo? Semua pintu terbuka lebar.
DARPO
(Berlari turun memperingatkan) Hati-hati bung, hati-hati terhadap mereka.
DOKTER
(Bicara dari atas) Mereka? Mereka siapa? Tak seorangpun ada di sini. (Tiba-tiba ada bahaya) Naiklah tolong dia pingsan (Darpo naik pelan-pelan. Nani menyalakan lentera. Terdengar suara ribut di atas. Mereka muncul kembali menggotong Kapten menuruni tangga) Hati-hati. (Mereka menaruh Kapten di bale-bale. Nani menaruh lentera di bale itu. Dokter mendengarkan detak jantung Kapten, kemudian menggelengkan kepalanya dengan ekspresi wajah pasti)
NANI
Meninggal?
DOKTER
(Mengangguk) Serangan jantung saya kira. Saya kira akan lebih baik.
DARPO
(Seolah-olah trance) Ilyas tadi memberikan sesuatu padanya. Engkau melihatnya bukan?
NANI
Oh.. Darpo. Diamlah ayah telah
meninggal
(Memohon kepada Dokter) Silahkan meninggalkan kami, Dokter.
DOKTER
Apakah tidak ada yang dapat kubantu
lagi?
NANI
Maaf, Dokter. Silahkan, silahkan Dokter,
meninggalkan kami Dokter.
DARPO
Tidakkah engkau melihat Ilyas
memberikan sesuatu padanya?
NANI
(Menangis) Darpo pergilah, pergi! Jangan kau sentuh ayah, Darpo. (Darpo tidak ambil peduli matanya menatap tangan Kapten yang tergantung di samping tempat tidur, Darpo dengan terpaksa membuka jari-jari tangan Kapten untuk mengambil secarik kertas yang digenggamnya).
DARPO
(Melambaikan kertas tersebut dan
berteriak dengan penuh kemenangan)
Lihat! (MENUJU KE LENTERA UNTUK DAPAT MELIHAT APA YANG TERTERA DALAM KERTAS
TERSEBUT) Peta pulau itu. Lihat. Peta ini tidak akan lepas dariku
selama-lamanya. Masih ada kesempatan, yaitu kesempatanku.
(DENGAN KEGILAAN) Jika rumah ini telah terjual aku akan pergi dan aku akan mendapatkan harta itu. Bacalah di sini tertulis dengan tulisan tangan ayah “Harta karun terpendam di tempat tanda silang”
NANI
(MENUTUP MUKANYA, MENANGIS SEJADI-JADINYA)
Oh, Tuhan. Pergi.. pergi.. Pergilah, Darpo. Pergi!
SELESAI






Komentar
Posting Komentar