EVAKUASI INGATAN
e v a k u a s i
i n g a t a n
(tiga fragmentasi)
naskah: R. EkoWahono
s i n o p s i s
evakuasi ingatan
Suara benturan keras. Tumbukan berulang dalam gelap.
Pekik malam berhamburan dari gang-gang kecil hingga jalan raya. Listrik mendengus
lemah. Hingga akhirnya menyisakan teriak panik.
Sepanjang jalan, aspal seakan hendak membuka cerita lama. Serupa dongeng
purba yang memburam dirinyalewat retaka npanjang. Lewat tangis anak-anak di
tengah tanah lapang. Langit seakan memeram angin dari empat penjuru. Semuanya mengendap
rapi menjadi kenangan.
Setiap yang hidup memiliki memori yang berbeda. Baik
dari segi jumlah kapasitas ingatan maupun rupanya. Semua terekam apik pasca gempa
7,0 magnitudo. Ada yang cukup mengingat sekitar beranda rumah. Bangku. Meja makan.
Jam dinding. Telapak tangan di tembok. Penjarah berdasi. Kursi goyang. Rak buku.
Semua terpagar rapi serta kokoh dalam evakuasi ingatan.
Evakuasi ingatan, sebuah upaya untuk memindahkan kenangan-kenangan
buruk pada tempatnya. Dan mengembalikan kenangan indah sebagai momentum untuk menata
hidup menjadi lebih baik.
Bentuk Pertunjukan tiga fragmentasi :
e v a k u a s i
i n g a t a n
(tigafragmentasi)
Adegan 1:
1. SEKELOMPOK ORANG berlarian kearah panggung.
Mencari sesuatu yang hilang. Sesuatu yang begitu mereka cintai mendadak lenyap.
Suara-suara hadir seperti udara terpapar di sebuah ruang. Membentur dinding pucat
serta tiang-tiang beku.
Adegan 2:
2. SEKELOMPOK ORANG I on stage di
panggung. Menggunakan sarung sebagai media apa saja. Diharapkan satu orang
dengan lainnya saling berbeda. Misalnya, sarung sebagai umumnya sarung. Sarung sebagai
buntalan. Sarung sebagai cadar. Sarung sebagai peronda. Sarung sebagai ikat pinggang.
Sarung sebagai pelindung hawa dingin.
Dari
arah panggung sebelah timur, datang SEKELOMPOK
ORANG II menggenggam bambu mencuri sarung mereka. Lalu dengan bangga mempertontonkan
hasil curian kepada yang lainnya. Mereka bekerjasama dengan pola media bambu sebagai
level satu dengan lainnya.
Adegan 3:
3. SESEORANG mengabarkan tentang keniscayaan
yang terjadi pada semesta alam. Yang pergi tak dapat dicegah dan yang datang tak
dapat dihindari. Semua hadir melengkapi kehidupan itu sendiri. Seperti sebuah siklus
kelahiran atau kematian. Bencana dan rahmat. Kebohongan dan kejujuran. Semua melengkapi
yang kosong.
e v a k u a s i
i n g a t a n
Naskah : R. EkoWahono
Pema i n :
SEORANG PEREMPUAN
ORANG I
ORANG II
ORANG III
ORANG IV
ORANG V
SEKELOMPOK ORANG I
SEKELOMPOK ORANG II
Adegan 1
PANGGUNG DALAM KEADAAN KOSONG
CAHAYA FADE IN
(Tipis dan general)
PANGGUNG MENYERUPAI SEBUAH TEMPAT YANG PORAK
PORANDA.SEBUAH TEMPAT YANG LULUH LANTAK AKIBAT DIGUNCANG KEKUATAN MAHA DAHSYAT.
PERMUKAAN TANAH SEPERTI HENDAK BERSUARA. MARAH. SERTA MENGELUARKAN SELURUH ISI
YANG TERSIMPAN JUTAAN TAHUN. DI BELAKANG TAMPAK LAYAR PUTIH DENGAN PEMBATAS
LEVEL DI DEPANNYA.
DI SEBELAH KIRI PANGGUNG, TAMPAK SEKELOMPOK ORANG
BERGERAK RITMIS. WAJAH YANG MENYIMPAN BEBAN SARAT. DENGAN MENYIMPAN SELURUH
KENANGAN BURUK DI KEPALANYA. MEREKA SEPERTI SEDANG MENCARI SESUATU YANG BEGITU PENTING MELEKAT
PADA HIDUPNYA.
TRI ANGLE
SEKELOMPOK ORANG I BERLARI DIAGONAL DARI SUDUT
PANGGUNG.MEREKA BERHENTI DI TENGAH PANGGUNG.MENATAP SEKITARNYA SECARA NANARLALU
BERDERAP KELUAR KE SUDUT PANGGUNG.
TRI ANGLE
SEKELOMPOK ORANG II MENYAMBUNG BERLARI DIAGONAL KE
TENGAH PANGGUNG. BERHENTI DI TENGAH PANGGUNG SEJENAK LALU BERLARI KELUAR SECARA
DIAGONAL PULA KE SUDUT PANGGUNG.
TRI ANGLE
SEKELOMPOK ORANG MEMASUKI PANGGUNG SECARA RITMIS. MEREKA
MENYEBUT SESUATU SECARA BERBISIK. PANDANGAN MEREKA FOKUS KE ATAS.
KELOMPOK I
Tuhan, dimana engkau…
(DIUCAP SECARA REPETITIF)
EXIT
SEKELOMPOK ORANG LAIN MEMASUKI PANGGUNG DARI ARAH
BERLAWANAN SECARA DIAGONAL. MEREKA JUGA BICARA DENGAN SUARA BERBISIK. LALU
PERLAHAN SUARA MEREKA MEMENUHI RUANG DAN WAKTU. PANDANGAN MEREKA MENYEBAR KE
SEGALA ARAH.
KELOMPOK II
(Memanggil nama-nama yang ada dalam ingatan mereka)
(DIUCAP SECARA REPETITIF)
EXIT
TRI ANGLE
KELOMPOK II KELUAR SECARA RITMIS KE SUDUT
PANGGUNG.MASUK KELOMPOK I MASUK SECARA DIAGONAL DARI ARAH BERLAWANAN.
KELOMPOK I
BERSAMA
Yang datang darimu kembali kepadamu
SESEORANG 1
Kepak burung-burung memberi petanda dari tenggara
BERSAMA
Yang datang darimu kembali kepadamu
SESEORANG 2
Ranting dan dedaunan gelisah memaknai tanda-tanda
BERSAMA
Yang datang darimu kembali kepadamu
SESEORANG 3
Tembok-tembok menatap beku sebelum akhirnya rebah ketanah
BERSAMA
Yang datang darimu kembali kepadamu
(DIUCAP SECARA REPETITIF)
MEREKA BERHENTI DI TENGAH PANGGUNG. LALU MENUTUPI
SEBAGIAN WAJAH MEREKA MENGGUNAKAN SARUNG DI TUBUH MEREKA.
TRI ANGLE
Adegan2
DARI SUDUT PANGGUNG KIRI, ORANG-ORANG BERLARI
MENUJU TENGAH PANGGUNG. WAJAH MEREKA TAMPAK GUSAR. SEAKAN SEDANG MENCARI
SESUATU YANG HILANG.
KELOMPOK I
ORANG I
Lewat sana. Ya, lewat sana.
ORANG IV
Bukan. Ke situ. Cepat sebelum gelap menyelimuti tubuhnya.
ORANG II
Keterlaluan. Sungguh biadab!
ORANG III
Hampir tak bisa dipercaya. Kita sudah tak berdaya masih
pula tega melakukan pada kami.
Orang IV
Itu dia!
MEREKA BERGERAK BERSAMA KE DEPAN KANAN PANGGUNG
ORANG V
Aku mencium aroma tak sedap.
ORANG I
Ia pasti tak jauh dari tempat kita berdiri.
ORANG II
Kau ingat apa yang kau lihat sebelumnya?
ORANG I
Sebentar. Aku coba mengingatnya. (Berusaha keras mengingat)
ORANG III
Jangan terlalu lama mengingat. Keburu lenyap.
ORANG I
Aku sedang mencoba mengingatnya.
ORANG III
Jangan terlalu lama.
ORANG I
Jangan ajak aku bicara. Aku sedang mencoba mengingat.
ORANG II
Kaki terasa berat dibawa melangkah (Wajahnya kesakitan)
ORANG V
Jangan bercanda. Kakimu terinjak kakinya (Menunjuk Seseorang
disebelahnya)
ORANG III
(Kepada ORANG I) Bagaimana? Sudah?
ORANG I
Sudah dibilang jangan bicara terus. Lupa lagi saya.
ORANG III
Ah, sudahlah. Aku tidak tahan. Terlalu lama. Bisa-bisa
aku jadi idiot.
ORANG I
(Sedikit kecewa. Tubuhnya lunglai. Ia berjalan kebelakang
dengan lemah)
ORANG IV
Kita harus tetap waspada.
ORANG III
Jangan sampai lengah apalagi tertidur. Kedatangannya
selalu membuat kita seakan menjadi seekor keledai dungu.
ORANG II
Kita selalu tertipu ketika kita terlena.
ORANG V
Ini negeri mafia. Sesuatu yang tidak ada bisa menjadi
ada. Sebaliknya, sesuatu yang ada bisa mendadak menjadi tidak ada.
ORANG III
Berarti apa yang kita cari sia-sia, bung.
ORANG V
Bukan begitu maksud saya. Kita harus tetap ikhtiar.
Berusaha.
ORANG III
Meski pada akhirnya tetap menjadi sia-sia. Karena semuanya
sudah diatur oleh mereka. Iyakan? Ala, sudahlah. Inikan bagian dari permainan kotor
mereka. Akui saja. Kita semua juga bukan orang bodoh kawan.
ORANG II
Kita seperti Sisipus yang menggelindingkan batu ke puncak
bukit. Tetapi batu itu tetap saja menggelinding ke bawah. Tenaga kita tak pernah
sempurna menyelesaikan hidup.
ORANG V
Bencana gempa membuat kemanusiaan kita seperti diaduk-aduk.
Kita tidak lagi bisa membedakan mana yang baik dan mana yang benar.
SEKELOMPOK ORANG YANG BERADA DI DEPAN LAYAR MENGHIDUPKAN
SENTER DARI KEGELAPAN. CAHAYA-CAHAYA ITU SEAKAN HENDAK MENGUTARAKAN SESUATU.
ORANG IV
Lihat cahaya-cahaya itu.
ORANG I
Mereka seperti mengolok-olok kedunguan kita semua. Jangan
biarkan mereka terus melakukan semua itu.
ORANG V
Benar. Mereka telah menelanjangi kita di tengah keramaian
dengan cahaya-cahaya itu. Kita harus membalasnya.
ORANG IV
Apalagi yang kita tunggu. Segera kita habisi saja mereka.
CAHAYA DI ATAS LEVEL (DEPAN LAYAR) PERLAHAN SURUT
HINGGA MENJADI BENTUK SILHUET
SEKELOMPOK ORANG-ORANG ITU BERGEGAS MENUJU
SEKELOMPOK ORANG YANG MEMAINKAN CAHAYA SENTER. TERJADI PERGULATAN ANTARA
KELOMPOK ORANG-ORANG DALAM KEGELAPAN.CAHAYA-CAHAYA ITU BERTABRAKAN DI
LANGIT-LANGIT.
DALAM BENTUK SILHUT, SEKELOMPOK ORANG SALING
BERTIKAI.
SEMENTARA, LAYAR PUTIH DI BELAKANG TUBUH MEREKA
MENAMPAKKAN GAMBAR-GAMBAR SISA RERUNTUHAN AKIBAT GEMPA. ANAK-ANAK KECIL YANG
KEHILANGAN ORANG TUANYA.RUMAH-RUMAH YANG TIDUR SEJAJAR DENGAN TANAH.
SESEORANG KELUAR DARI KELOMPOKNYA. TUBUHNYA
TERTUTUP SARUNG. IA BERGERAK KE TENGAH PANGGUNG.MENCOBA MELEPAS TUBUHNYA DARI
SARUNG. SEMENTARA ITU BENDA-BENDA PERABOTAN RUMAH TANGGA, JERIGEN, GALON, BOTOL
MINERAL, CERET, BERJATUHAN DARI LANGIT.
IA BERPINDAH KE SUDUT KANAN PANGGUNG. TAPI
BENDA-BENDA ITU TERUS BERJATUHAN. BENDA-BENDA ITU SEPERTI MENGIKUTI ALUR
TUBUHNYA.PERLAHAN TUBUHNYA GEMBOS.CAHAYA IN FOKUS DI TUBUHNYA.
SESEORANG
(Dari balik layar) Sesuatu bergerak pasti. Bergemuruh
berat dan sesak. Dari ronggarongga gelap. Jauh. Sangatjauh. Seperti jarak dalam
mimpi buruk. Menjadi kenangan hitam. Berderak seperti kereta malam. Kenangan itu
harus terselamatkan. Agar tak hanyut menjadi berita buruk di koran koran esok pagi.
TRI ANGLE
Adegan3
SESEORANG
Tanah kini tak lagi bertuan. Meninggalkan sebuah keniscayaan.
Juga gurat tajam pada tanah berlumpur. Apakah kau masih ragu. Riwayat yang
kerap kau tutup hingga berdebu. Menjadi batuk meradang. Memuntahkan gelombang pasang.
Retakan luka pada jejak-jejak di pekarangan. Daun daun gugur sebelum masanya. Hujan
tangis memanjat dinding malam.
Dimana engkau tuhan...
Dimana engkau tuhan…
Dimana engkau tuhan…
TRI ANGLE
SUARA SUNYI
LAMPU FADE OUT
Komentar
Posting Komentar