Arsitektur Kata
Arsitektur Kata
Karya : R. Eko Wahono
ADEGAN 1
SEBUAH RUANG
SEBUAH PERMAINAN BARU SAJA USAI. MALAM MENYISAHKAN
KEKACAUAN DI SUDUT-SUDUT PANGGUNG YANG MURAM. LANTAS CAHAYA SURUT BERSAMA HENING.
SISA GEMURUH MESIN MASIH TERDENGAR, MESKI SANGAT LIRIH. DI BELAKANG PANGGUNG,
TAMPAK CAHAYA BERKEDAP-KEDIP LEMAH.
DI SALAH SATU POJOK PANGGUNG, PIKO BANGKIT SECARA
PERLAHAN. CAHAYA TIPIS LURUH DI ATAS
TUBUHNYA YANG MIRIP UNDUKAN PULAU. IA MEMANDANG SETIAP SUDUT RUANG SECARA
NANAR.
DI SUDUT PANGGUNG LAINNYA, TAMPAK BEBERAPA ORANG
MELAKUKAN LAYAKNYA ORANG SEDANG MEMBERSIHKAN RUANGAN YANG KOTOR. MEREKA
MELAKUKAN BERSAMA SECARA RITMIS HINGGA MEMBENTUK ANSAMBEL TERTENTU. SEPARUH
WAJAH MEREKA TERTUTUP MASKER. KEDUA TANGAN MEREKA MENGGENGGAM SAPU LIDI.
GERAKANNYA SANGAT RITMIS. SEPERTI RITUAL AIR YANG MENGIKUTI ARUS SUNGAI.
CAHAYA MURAM
PIKO
(Perlahan ia bangun dari tidurnya) Sumbi..
Sumbi..Terkutuklah kalian menelantarkan aku seperti mumi paling durjana.Otakku
jadi sampai beku begini.Sumbi, tak bisakah kau lebih cepat kemari?Cahaya senja
telah melumat seluruh daya hidupku.
ORANG-ORANG
(Diam saja.Terus bekerja. Hanya terdengar desis
sapu yang menggesek lantai)
PIKO
Sumbi.Aku ingin kau ceritakan kembali kisah-kisah
itu lagi.Sungguh.Aku tak ingin jadi keledai, Sumbi.
(Terkejut) Ah, cahaya. Aku benci cahaya. Bedebah!
Siapa mengirim cahaya padaku. (Ia bergerak ke tempat lain. Tapi cahaya itu
terus membuntutinya).Sumpah.Aku tak ingin mengucapkan lagi kata senja.Aku lebih
memilih pagi.Kau tahu, betapa kecemasan kerap menelikung menjadi sosok
mengerikan.
(Cahaya itu terus membuntuti Tokoh I, meski ia
memuntahkan sumpah serapah) Singkirkan cahaya itu dari tubuhku.Demi tuhan,
mengapa kau kirim orang-orang berkepala batu.Tidakkah kalian jera dengan
permainan cambuk di tubuh kuda?Baiklah. Jika itu yang kalian inginkan, maka malam telah aku rebahkan diberanda kalian; tapi
bayang hitam di tubuh kalian lebih pekatdari segelas kopi bercampur asam
nitrat; riuh manusia mencari kepala mereka setelah deru truk menampar ujung
malam; poster stalin pada hari yang merah; yang tentu saja, lebih muram dari
yang kalian duga.
(Cahaya itu terus membuntutinya) Singkirkan cahaya
itu, jahanam!
(Berdiri tegap.Membunyikan peluit) Terkutuklah
Kalian.
SEKUMPULAN ORANG-ORANG
(Serentak) Tindakan segera dilakukan.
PIKO
Singkirkan cahaya itu dari tubuhku.
SEKUMPULAN ORANG-ORANG
Tindakan segera dilakukan!
SEKUMPULAN ORANG-ORANG BERPENCAR KE SETIAP SUDUT
PANGGUNG. MEREKA BERLARIAN TANPA ARAH. KELUAR MASUK PANGGUNG SECARA TIDAK
BERATURAN.
SEKUMPULAN ORANG II
Dimana saklarnya?Sebelah Timur atau Barat? (Berlari
lagi ke arah berlawanan) Apakah di sini juga ada saklarnya.Aku tidak menemukan
apa-apa. (Berlari ke tengah panggung)
SEKUMPULAN ORANG III
Di sini sangat gelap.Aku tak melihat apa-apa.
(Berlari lagi ke arah berlawanan) Ada tangga dan dua pintu.Yang kiri atau
kanan. Pintu itu sama catnya. Apa mesti aku dobrak? (Berlari ke tengah
panggung)
SEKUMPULAN ORANG IV
Aku tak menemukan apa-apa.Seluruh jendela tertutup
kain hitam. (Berlari ke arah berlawanan) Aku sudah bertanya pada mereka.Tapi
mereka diam saja.Katanya, tidak tahu.Apa perlu saya paksa? (Karena tak ada
jawaban, ia berlari ke tengah panggung)
SEKUMPULAN ORANG I
(Mendekati Piko. Meminjam peluit itu lalu meniup
memanggil teman-temannya. Lalu menghadap Piko dengan rasa hormat yang tinggi)
Kata orang di belakang, ini kemauan sutradara, tuan. Pertunjukan ini harus
terus berjalan.Meski badai mengamuk di atas gedung ini. (Berlagak) Katanya, the
show must go on. Gitu.
PIKO
(Memukul kepala Sekumpulan Orang I) Bego! Aku juga
sudah ngerti dari tadi.Itu tadi akting.Bagaimana, sudah panas?Baiklah.Sekarang
kita mulai. (Membunyikan Peluit) Tindakan segera dilakukan!
SEKUMPULAN ORANG-ORANG
(Kembali dalam formasi. Serentak) Tindakan segera
dilakukan!
PIKO
(Berdiri angkuh seperti sedang berada di puncak
bukit.Suaranya sangat lantang) Matilah kalian ke dalam kerak neraka bersama
iblis-iblis paling durjana.Kalian tahu, cahaya itu berkali-kali merusak sel-sel
kulitku.Tapi kalian tetap saja tidak menghiraukan.Kalian bukan Jerry rubin. Si
negro yang selalu ngotot memamer-kan nyali dan berteriak di depan papan nama
perusahaan dengan yel-yel memuakkan.
Lihatlah, kulitku bertambah lebam. Dan rambutku,
oh! Rambutku rontok satu persatu.Aku butuh dokter.Ini gawat.Kalian betul-betul
tak tahu diri.Tak tahu berterima kasih.Membiarkan aku terlelap seperti bangkai
busuk. (Tersadar) Pukul berapa sekarang?
SEKUMPULAN ORANG I
Mereka telah membunuh pagi secara kejam.
PIKO
Inilah gairahku pada pagi
Dengan kepal nyala birahi
Menyongsong jejak matahari
(Ia mengangkat kaki sebelah) Lalu kuangkat
sebelah kaki
Seperti anjing betina milik Houdini
Sambil berteriak lantang: SELAMAT PAGI
SEKUMPULAN ORANG-ORANG
(Serentak Bersama) Selamat pagi.Demi kepala,
tangan, jantung dan seluruh tubuh, kami siap bekerja seperti mesin-mesin yang
tak kenal lelah.
SEKUMPULAN ORANG III
Hati-hati tuan. Pantat tuan ada anunya…
PIKO
Anu apa? Bicara yang jelas, singkat, padat.Ini
bukan saatnya bicara pakai kata-kata bersayap.Memangnya kalian punya sayap?
Kalau ada yang tidak beres, katakan apa adanya. Aku tidak suka
bertele-tele.Paham?
SEKUMPULAN ORANG III
Ampurayan, tuan.
PIKO
(Bergaya mengejek) Aduh, itu lagi.Bodoh benar,
kau.Mental agrarismu selalu menjebak dirimu menjadi manusia dungu serta
bebal.Sudah.Jangan pakai sembah-sembahan.Aku tidak suka.Yang harus kau lakukan
hanya bekerja.Bekerja.Dengan segenap kecintaan dan militansi yang
bersungguh-sungguh.Aku hanya mencintai gemuruh mesin pabik yang tak kenal
lelah.Katakan sekarang dengan jelas.
SEKUMPULAN ORANG-ORANG SALING SIKUT.AKHIRNYA SALAH
SATU DARI MEREKA ANGKAT BICARA.
PIKO
Bicaralah, bego!
SEKUMPULAN ORANG IV
Pantat tuan ada bisulnya…
PIKO MERABA PANTATNYA. IA TERSADAR. MERASAKAN
SESUATU YANG MENONJOL DI SALAH SATU DUBURNYA. IA MERASAKAN SAKIT YANG LUAR
BIASA.
PIKO
(Mengerang) Ooooo… duburku.Virus itu ternyata benar
adanya.Mereka memang ahli nujum yang sangat lihai.Tindakan mereka sudah sangat
keterlaluan.Tak bisa dibiarkan begitu saja.
SEKUMPULAN ORANG I
Tuan hanya butuh obat mujarab untuk menghilangkah
bisul yang ada di dubur itu. Mereka secara sengaja telah menyusupkan virus itu
pada dubur tuan untuk merusak citra perusahaan. Sangat tidak elegan, orang kaya
koq punya bisul di dubur. Hahahahahaha…
SEKUMPULAN ORANG-ORANG IKUT PULA TERTAWA.
PIKO
(Memukul kepala Sekumpulan Orang I) Bajingan! Atas
dasar apa kau menghinaku? Aku telah mengeluarkan biaya yang tidak sedikit untuk
menghadapi situasi yang tidak nyaman.Kau tahu, berapa besar biaya yang kau
hadapi untuk menghindari kecemasan dalam dirimu? Oh, tentu saja kau tidak
mengerti, tolol.
SEKUMPULAN ORANG I
(Merunduk) Ampurayan, tuan.
PIKO
(Merasakan sakit yang luar biasa pada duburnya. Ia
berjalan sambil mengerang sejadinya dengan gaya norak) Aduh.. Gama inaq… Bisul
itu seakan hendak membunuhku dengan cara menikam secara perlahan-lahan.
SEKUMPULAN ORANG I
Tak ada yang lebih bijak selain membinasakan virus
itu, tuan. Jika anda biarkan ia akan melumpuhkan seluruh system yang ada di
perusahaan tuan. Mereka kini lebih cerdik menyusup, bersiasat, bahkan tak
segan-segan menghancurkan perusahaan. Dan, jika tuan lengah mereka akan menikam
tuan dari belakang.
PIKO
(Dengan sikap amarah) Ganyang!
SEKUMPULAN ORANG I
(Berlagak) Oh, no..no.. Itu tidak mudah, tuan.
Tentu saja dia memiliki otak dan integritas yang tinggi.
PIKO
(Berdiri. Mengangkangi Sekumpulan Orang I) Aku
butuh prelude dari suatu permainan. Dengarlah, semua persyaratan itu hanya kau
dapatkan pada satu kata: pagi. Bukan sekedar fajar menyongsong atau seruan
aba-aba.Untuk itu, aku butuh obat mujarab itu sekarang juga.
SEKUMPULAN ORANG I
(Menahan sakit punggungnya) Ampurayan, tuan. Tentu
saja.Ia telah menunggu sejak pagi tadi. Bahkan, ia akan turut dalam permainan
Arsitektur Kata yang biasa tuan lakukan.
PIKO
(Berteriak girang) Eureka! Pagi yang merah, aku
bersumpah untuk menuntaskan permainan Arsitektur Kata itu dengan lebih
bergairah.Dengarlah bodoh, dengan kesetiaan dan militansi kuat, kamu bakal jadi
prajurit tangguh.Melindungi inci demi inci setiap aset perusahaan.Aku tidak
butuh pria cengeng.Mudah merengek seperti banci kalah judi.
(Ia duduk layaknya seorang koboi di punggung
Sekumpulan Orang I) Bagai tank panser Amerika, akan kuludahi tanah-tanah mereka
hingga otak mereka jadi beku. Si vegetarian kambuhan akan melempar laso ke
daratan Tenggara. Ke daratan yang subur serta hijau.Kalian harus melakukan
tindakan sekarang juga. Tindakan segera dilakukan!
TERDENGAR SUARA SIRENE DITINGKAHI PELUIT. PARA
SEKUMPULAN ORANG BEKERJA LAKSANA MESIN. PATUH.DINAMIS DAN TENTU SAJA MEKANIS.
KILATAN DI BELAKANG PANGGUNG MENANDAI MESIN
PERUSAHAAN TELAH DIHIDUPKAN.
PERLAHAN-LAHAN LAMPU FADE OUT.
ADEGAN 2
LAMPU FADE IN
PANGGUNG DI
PENUHI PAKAIAN ANEKA WARNA DAN JENIS UKURAN YANG BERBEDA. DARI UKURAN KECIL
HINGGA BESAR. DARI JENIS KAOS HINGGA YANG FORMAL SEPERTI TUKSEDO. SELURUH
BENDA-BENDA ITU MEMBENTANG DI BELAKANG PANGGUNG.
PIKO BERADA DI
POJOK KANAN MEMANDANG TOKOH ABU. SEORANG KARYAWAN BARU. PENUH GAIRAH MESKI
DIRINYA SEDIKIT AGAK RAGU.IA BERHARAP ABU MENJADI MESIN BARU. BUKAN MENJADI
RACUN DARI DONGENG TENTANG PERLAWANAN SI NEGRO YANG MENGAKU BABU.
TOKOH ABU BERADA
SENTRAL. BERDIRI SAMBIL MENGGENGGAM SEHELAI HANDUK DI ATAS KEPALA. SEKUMPULAN
ORANG-ORANG BERADA DI POJOK SEBELAH KIRI PANGGUNG. ATAS PERINTAH PIKO, MEREKA
MENUNGGU DENGAN KECEMASAN TERHADAP PERILAKU ABU, SEBAGAI KARYAWAN BARU.
BUNYI TRI ANGLE
ABU
Keganjilan apalagi yang hendak kau tawarkan
kepadaku
Angka-angka itu sudah cukup membuat mataku mabuk
Otot-otot rahangku mengejang
Memaksa menelan keganjilan bagai pil pahit
Dia tawarkan sebuah parang sebagai tanda perdamaian
Lalu memaksa aku untuk meneriakkan secara lantang
kata PERDAMAIAN secara berulang-ulang
Seperti tokoh politik yang tak pernah yakin pada
setiap kata yang keluar dari mulutnya
Inilah perdamaian
Inilah perdamaian
Tanpa muatan slogan
atau iklan murahan
lantas, setiba di kamar ia merenung seorang diri
memaki serta menghujat diri sendiri:
“Beginikah caramu menyikapi hidup
Mempekerjakan kedua tanganmu
Kedua kakimu
Tubuhmu
Jantungmu
Pikiranmu”
Kau taruh di mana matamu
kedua tanganmu
otakmu
nuranimu
tubuhmu
MENDADAK SUARA
ABU TERSEKAT. IA MENCOBA MENGELUARKAN SUARA, TETAPI TETAP SAJA GAGAL. SEMAKIN
IA PAKSA, SUARA ITU SEMAKIN MENYESAK DADA.
Kau taruh di mana mataku.Otakku.Kedua tanganku.Jantungku.Kedua
kakiku.Tubuhku.Pikiranku.Hentikan semua omong kosong ini. (MENCOBA MENDEKATI
PIKO) Kembalikan mataku, otakku.Kedua tanganku.Jantungku.Kedua
kakiku.Tubuhku.Pikiranku. Aku tak mau jadi budak atas semua omong kosongmu,
bedebah!
PIKO GERAM. IA
MENYEMPROT GAS AIR MATA (simbolis dengan parfum) PADA TUBUH ABU. IA MULAI
DIANGGAP SEBAGAI PENGACAU DALAM PERMAINAN ARSITEKTUR KATA.
SEKUMPULAN
ORANG-ORANG MERASAKAN HAL YANG SAMA. MEREKA SEPERTI TERSEKAT LEHERNYA. MENCARI
ORGAN-ORGAN TUBUHNYA YANG HILANG.MEREKA SEOLAH MERASA ASING DENGAN TUBUHNYA
SENDIRI.
PIKO TAMPAK
GELISAH. TANPA BUANG WAKTU IA MENIUP PELUIT.SUARA SIRINE MEMANJAT DINDING
MALAM. SEKUMPULAN ORANG-ORANG ITU KEMBALI TENANG.
SETELAH SUASANA TERKENDALI ABU BICARA LAGI.
ABU
Saudara-saudara, dia seorang vegetarian
kambuhan.Yang memperlakukan sebongkah daging seperti sebuah perselingkuhan.
Jika kambuh ia akan bertingkah ganjil. “Pabrikku dipenuhi otak-otak aus,” lalu
dengan tegas ia suntik mereka dengan cairan insulin dosis tinggi hingga mereka
tampak seperti HEWAN DUNGU: “Doktrin dan investigasi adalah antibiotik mujarab
agar mereka patuh serta militan.”
(IA KE BELAKANG PANGGUNG MENGAMBIL SALAH SATU
PAKAIAN YANG TERGANTUNG) “Ganti pakaianmu!Kita harus bertindak!” Tindakan
segera dilakukan! Seperti ini, tuan? “Kau harus belajar makan sup yang lebih
sopan. Aku sangat suka buncis meski sedikit agak formalis.Beri pula aku kacang
polong agar ginjalku tetap sehat.” Baiklah, tuan. (KEMBALI IA KE BELAKANG PANGGUNG. MENGAMBIL PAKAIAN YANG LAIN DENGAN
UKURAN YANG LEBIH KECIL) Mungkin seperti ini, tuan. Oh, tidak tuan. (IA
KE BELAKANG PANGGUNG LAGI. MENCOBA YANG LAIN) Baiklah. Aku minta maaf. Seperti
ini tuan. Warna kesukaan anda.Sangat egaliter.(PIKO TERSENYUM SINIS). Oh, apa
kata-kataku telah menyinggung perasaan tuan. Baiklah.Aku minta maaf lagi.(IA KE
BELAKANG PANGGUNG. MENGAMBIL PAKAIAN YANG LAIN). Saya kira ini lebih pantas
untuk mencitrakan perusahaan yang mapan.Tidak?
(KEMBALI KE BELAKANG PANGGUNG. TAMPAK IA MULAI
LETIH) Seperti ini, tuan? (MENGIKUTI GAYA PIKO) “Perusahaan tak akan
memaafkanmu, bedebah!” Jangan marah, tuan. Nanti cepat tua.Kesempatan selalu
saja terbuka.Mereka masih menunggu masa-masa emas itu.Seperti di puncak bukit,
ya, seperti di puncak bukit.Mungkin ada sebuah bendera yang hendak kita
perebutkan.Lalu kita mendaki.Saling menjatuhkan untuk memperebutkan bendera di
puncak bukit itu.Tentu saja kita anggap itu sebagai sebuah puncak
prestasi.(KEMBALI IA KE BELAKANG PANGGUNG. MENCOBA PAKAIAN TUKSEDO). Ah,
mungkin seperti ini yang tuan inginkan. Aku kira anda akan sangat bahagia.
PIKO
Tidak perlu.Aku sudah bahagia.Lebih dari yang kau
bayangkan.Terlalu banyak kemungkinan.Terlalu banyak permainan.Hari sudah
siang.Kami tidak butuh pahlawan.Dengarlah, dungu. Kami hanya butuh satu kata:
PENGABDIAN. Semua jawaban yang kau paparkan terlalu lunak dan mudah untuk
dihancurkan.Apa yang hendak kau perjuangkan jika dirimu hanya seekor belatung?
Aku hanya ingin katakan bahwa kita adalah predator
yang pandai menutupi setiap kebusukan.Setiap kebusukan yang kita simpan
rapat-rapat, mendidik kita menjadi lebih cermat.Dan tentu saja pada akhirnya
menjadi terhormat. (Berseru kepada Sekumpulan Orang-orang) Kalian jangan hanya
diam saja. Angkat tangan kalian dan ucapkan: Tindakan harus dilakukan!
SEKUMPULAN ORANG-ORANG
Tindakan segera dilakukan!
PIKO
(Santai.Sambil membersihkan kotoran digiginya) Nah,
begitu.Jangan macam kambing congek yang kurang gizi. Hiks.. (Tersedak) Di sini,
waktu begitu sangat berharga.Jangan gunakan perasaan dan hati jika kalian ingin
selamat.Gunakan otot serta instrument sesuai dengan yang telah diberlakukan
perusahaan.Hiks (Tersedak) Lakukan pekerjaan sesuai prosedur dan perintah
standar. SOP. Jangan abaikan perintah itu. Mari kita bertindak!
SEKUMPULAN ORANG-ORANG
(Serentak) Tindakan seharusnya sudah dilakukan!
SEKUMPULAN ORANG I
Dia begitu sangat potensial, tuan. Penuh
semangat.Ambisius.
PIKO
Aku menganggapnya sebagai gangguan syaraf stadium
empat.Persis seperti yang aku bayangkan jika senja mendadak berubah menjadi
ancaman.
SEKUMPULAN ORANG I
Kita akan melumatnya, tuan. Jika terjadi apa-apa
kita ganyang.
SEKUMPULAN ORANG II
Bagaimana jika kita mulai permainan itu, tuan. Kami
sudah tidak sabar lagi.Dia tidak saja alot, tapi punya pendirian yang kuat.
SEKUMPULAN ORANG II
Aku akan menjadikannya kuda troya..permainan perang
yang ditaburi bubuk merah. Medan perang diteriaki ringkik kuda dari pulau
Sumba.
SEKUMPULAN ORANG III
(Memotong) Cihaaa… cihaa…. Tarik kekangnya yang kuat.Jangan biarkan dia
lolos.
SEKUMPULAN ORANG IV
Amuk badai! Tarik layar yang kencang. Semacam
pinisi, begitu tuan. Tubuhnya adalah pinisi.Ia pasti tahan bentur, aku kira.
PIKO
(Membentak) Kalian tolol, semua.Siapa yang memimpin
permainan ini?
SEKUMPULAN ORANG-ORANG
Tentu saja yang mulia, tuan.
PIKO
(Menunjuk ke salah satu arah.Sekumpulan Orang-orang
membopong tubuh Piko ke arah yang dia inginkan) Apakah kamu Abu?
ABU
Benar.Tepat sekali.
PIKO
(Menunjuk lagi ke satu arah) Bukan ke situ, tolol.
Ke sana. Bukan. Ke sana lagi. Cukup. (Kepada Abu) Aku tak pernah melihat wajah
orientalis seperti kamu. Hiks! Apa yang mendorong dirimu berada di tempat
seperti ini?
ABU
Mencari kerja.Saya ingin bekerja.
PIKO
Bekerja untuk siapa?
ABU
Untuk keluarga
PIKO
(Tertawa terbahak-bahak)
SEKUMPULAN ORANG-ORANG
JUGA IKUT TERTAWA DENGAN MASING-MASING GAYA YANG NORAK DAN UNIK.
SEKUMPULAN ORANG II
(Tertawa mengejek) Aku suka daging kambing.
SEKUMPULAN ORANG III
(Tertawa mengejek) Tapi bukan yang congek.
PIKO
(Kepada Sekumpulan Orang-orang) Diam, bangsat!
(Kepada Abu) Coba ulangi sekali lagi.Mungkin kupingku agak sedikit budeg.
ABU
Aku bekerja untuk menghidupi keluarga
SEKUMPULAN ORANG-ORANG KEMBALI TERTAWA.
PIKO
(TERTAWA TERBAHAK-BAHAK) Dengarlah.Si dungu ini
mencintai keluarganya. (TERTAWA TERBAHAK-BAHAK
HINGGA ASMANYA KUMAT. SEKUMPULAN ORANG-ORANG DIBUAT SIBUK DAN PANIK. TAK LAMA,
PIKO KEMBALI NORMAL.IA BERDIRI PERLAHAN-LAHAN DIBANTU SEKUMPULAN ORANG-ORANG.
LANTAS PIKO BERSERU DENGAN LANTANG) hiks! Berilah ia prelude dari
permainan kita. Jangan terlalu dalam. Cukup sebagai perkenalan!
SEKUMPULAN
ORANG-ORANG MEMEGANG KEPALA ABU. SEKUMPULAN ORANG I MENGEBOR KEPALA
ABU.MENCEKIK LEHER ABU DENGAN MENGGUNAKAN SAPU LIDI. SEKUMPULAN LAINNYA BERJAGA
DALAM POSISI YANG RAPAT.
PIKO
Aku bertanya kepadamu: dalam bahasa yang jelas.
Untuk siapa kau bekerja?
ABU
Untuk keluarga
SEKUMPULAN ORANG
I KEMBALI MENGEBOR KEPALA ABU. SETIAP JAWABAN YANG SALAH, SAPU ITU SEAKAN
MENCEKIK LEHERNYA HINGGA IA KESULITAN BERNAPAS.
PIKO
(Dengan gaya yang khas dan unik. Mungkin agak
sedikit feminis) Oooohhh..jawabanmu telah melukai hatiku. Kau membuat seluruh
otot diperutku mengejang.Jangan buat aku tertawa lagi.Dengarlah, semua orang di
sini menyerahkan tubuh dan pikirannya kepada hal-hal kongkrit.Bukan untuk
keluarga.Apa keluargamu memberi masa depan yang pasti? Jawab pertanyaanku
secara tegas dan artikulasi yang jelas.Kamu ke sini untuk siapa?
ABU
Untuk perusahaan.
PIKO
(Merasa sangat senang dengan jawaban itu)
Hahahahaha… Fantastik.Futuristik.Aku bangga bertemu dengan dirimu.Kau memiliki
visi dan misi yang jelas.Selera humormu tidak terlalu buruk. Apakah engkau
pernah bayangkan menelan semangkok sup buncis dalam keadaan lapar. Kau pernah
melakukannya?
ABU
Tentu saja, belum tuan.
PIKO
(LEBIH PUAS
LAGI. IA MENDEKATI ABU DENGAN SEGENAP PERASAAN YANG MENDALAM) Rasa lapar
itu suatu kondisi bersifat general.Tak ada filterisasi untuk menyaring segala
lobang yang ada di tubuhmu.Begitu ada kesempatan, segeralah beradaptasi.Sudah
sepantasnya kau memberikan jawaban yang memberi pencerahan dalam hidupmu.
(Kepada Sekumpulan Orang-orang) Beri tepuk tangan
yang meriah. Masa depan telah menanti kita. Selagi matahari bersinar, kejayaan
akan selalu berpihak pada dirimu. (Kepada seluruhnya) Mari kita bertindak! Mari
kita bertindak!
ABU DAN
SEKUMPULAN ORANG-ORANG MENJAWAB SERENTAK. MEREKA MEMBENTUK FORMASI DENGAN PIKO
BERADA PALING DEPAN. MEREKA BERNYANYI DENGAN SEMANGAT DAN JIWA PATRIOT YANG
CUKUP SERIUS.
Koor:
Singsingkan lengan bajumu
Luruskan arah tujuanmu
Satukan semangat satukan jiwa
Satukan suara
Singsingkan lengan bajumu
Masa depan tlah menunggu
Satukan semangat satukan jiwa
Satukan suara
Melangkah bersama
Piko: Mari kita bertindak!
Sekumpulan Orang-orang dan Abu: Mari Kita Bertindak!
LAMPU PERLAHAN-LAHAN FADE OUT
ADEGAN 4
PADA ADEGAN 4,
SPACE AREA ABU PENUH GAGANG TELEPON DIGANTUNG. JUMLAHNYA BISA 5 BISA JUGA
LEBIH.SEMAKIN BANYAK SEMAKIN BAGUS. INTINYA MENYERUPAI INSTALASI GAGANG TELEPON
DAN SUASANA KANTOR YANG RUMIT DAN PADAT AGENDA. KERTAS-KERTAS BERTUMPUK DAN
SISANYA BERSERAKAN DI LANTAI. DI PANGGUNG SEBELAH KIRI, TAMPAK PIKO
DIDAMPINGI SEKUMPULAN ORANG I.
LAMPU DALAM KEADAAN BLACK OUT.
SUARA TELEPON
BERDERING BERGANTIAN DALAM IRAMA YANG BERBEDA SATU DENGAN LAINNYA. SUARANYA
MENGGAMBARKAN KANTOR ITU TAK PERNAH BERHENTI MELAYANI PARA KONSUMEN.
LAMPU FADE IN
ABU
Halo.Benar.Tunggu sebentar.Halo.Iya.Akan saya
sampaikan sesegera mungkin.Halo. O, bukan. Anda salah sambung.Halo.Maaf, untuk
komplain anda bisa langsung menghubungi 0370 bla.bla.. bla.. Halo.Tagihan listrik?Saya kira perusahaan
sebesar ini tak mungkin melakukan tindakan yang keji.Halo.Apa? Betul.Iya.Tapi
saya baru saja bekerja di sini.Jadi saya tidak tahu menahu soal
perselingkuhan.Halo.KPK?Benar.Saya tidak yakin.Mungkin hadir mungkin juga
tidak.Tapi, benar.Beliau tidak ada di tempat.Entahlah.Halo.Saya kira saya bukan
orang yang tepat.Anda bisa mencari pasangan hidup yang lebih menjanjikan.Halo.
O, bukan. Ini bukan kamar mayat.Ini perusahaan besar. (Semakin lama dering
telepon semakin ramai) Halo... Halo... Halo...
DARI LUAR PANGGUNG, PIKO MENIUP PELUIT. TOKOH ABU
STATIS
SEKUMPULAN ORANG-ORANG
Kucing hitam
mangsa tikus hitam
Berburu ke
padang datar
Digaligali
menjadijadi
Mata nyalang
sukma bergetar
SUARA TRIANGLE
SEKUMPULAN ORANG-ORANG EXIT.
ABU
Aku harus segera sikat gigi.Aku tak tahan bau
mulutku sendiri.(IA MENGAMBIL ODOL DAN SIKAT GIGI. SAMBIL ITU IA MELANJUTKAN
KATA-KATA YANG BELUM IA TUNTASKAN)
Kita berada di negeri pasta.Dansa busa dan retorika
kata-kata.Perjamuan para raja atau baginda.Kemarilah tuan-tuan.Berdansalah
bersama salsa dan busa kata-kata.La..la.. la.. INILAH NEGERI BUSA DAN RETORIKA
KATA-KATA.
Aku akan selalu membersihkan gigimu agar seputih
busa. Kau takkan percaya jika mereka kagum padamu.Gigi putih karena pasta.Tubuh
putih karena busa.Semua kotoran lenyap di meja persidangan, karena busa dan
retorika kata-kata. INILAH TARIAN SALSA DAN BUSA KATA-KATA: la..la.. la.. (IA
MENARI SAMBIL MEMAINKAN AIR DI TENGGOROKANNYA)
TERDENGAN SUARA PELUIT DARI MULUT PIKO.
LAMPU DI AREA PIKO DAN SEKUMPULAN ORANG I FADE IN
SEKUMPULAN ORANG I TAMPAK GUSAR DENGAN PERILAKU
ABU. TAPI PIKO COBA MENENANGKANNYA. MEREKA BICARA DALAM BAHASA YANG TAK
JELAS.ABU TAMPAK SEDIKIT KETAKUTAN MELIHAT WAJAH SEKUMPULAN ORANG I.
PIKO
(Kepada Abu) Tenang.Ia tidak seburuk wajah dan
geramnya. Aku cukup kenal tabiat dan karakternya. Karena ia telah mengabdi selama
hampir separuh usianya padaku. Sebenarnya ia orang yang ramah kepada siapa
saja. Rajin dan memiliki sikap empati yang tinggi.(Sekumpuluan Orang I merasa
tersanjung.Buru-buru kepalanya dipukul Piko.Ia kembali seperti biasa) Tapi dia
juga bisa marah layaknya seekor harimau terluka. (Kepada Sekumpulan Orang I)
Ayo, perkenalkan dirimu. Jangan malu-malu… (Sekumpulan Orang I menggeram.Hendak
Mencakar) Sudahlah. Cukup kataku!
TIBA-TIBA PIKO MERASA HENDAK MENGELUARKAN
DAHAKNYA.BURU-BURU SEKUMPULAN ORANG-ORANG MENCOBA MENADAHNYA. TAPI TAK JADI.
Apapun pikiranmu, kau harus menjawab sesuai SOP.
Tak lebih.Tak kurang.Kau harus belajar banyak bagaimana mengeja setiap
huruf-huruf yang aku pajang di sudut-sudut tembok.Tak ada yang sulit.Semuanya
seperti penjumlahan aritmatika dan logaritma dibangku sekolah. Menghafal nama
ibukota dunia. Tokoh-tokoh berpengaruh.Dan tak lupa, kuliner yang menyangkut
buncis.Kau tahu, aku suka buncis. Oh, buncisku…
MENDADAK PIKO KEMBALI MERASA HARUS MENGELUARKAN
DAHAKNYA.BERKALI-KALI IA COBA DENGAN CARA DAN SUARA YANG AMAT JOROK. BURU-BURU
SEKUMPULAN ORANG-ORANG BEREBUTAN MENCOBA MENADAH DENGAN KEDUA TANGANNYA. TAPI
NIAT ITU IA URUNGKAN.
Ucapkan kembali semangat kerja pagi itu secara baik
dan benar.
ABU
Tindakan segera dilakukan!
PIKO
Payah.Nafasmu berbau semangat agraris.Kurang
mencitrakan semangat perusahaan yang modern serta ambisius.
PIKO HENDAK BERSIN. BURU-BURU SEKUMPULAN
ORANG-ORANG BERBURU BEREBUTAN MENADAHNYA. IA COBA MEMAKSA MENGELUARKAN DENGAN
SUARA DAN CARA YANG SANGAT JOROK. TAPI TAK JADI.
Lebih bersemangat lagi, Abu!
ABU
Tindakan seharusnya sudah dilakukan!
PIKO
Kemarilah, Abu. Tunjukkan padaku bagaimana sikap
patuh itu menjadi satu pertunjukan yang menarik.Tubuhmu tidak saja kuat, tetapi
elastis.Lidahmu harus terampil dan lentur dalam menghadapi satu situasi yang
membuat diri kita terpojok.Bagaimana pun perusahaan ini harus terus
berjalan.Dan kita harus mampu menghadapinya, meski mereka berteriak untuk satu
permintaan yang paling sederhana sekalipun.Sekarang tunjukkan padaku bagaimana
engkau bersikap.
ABU KEMBALI MENGGOSOK GIGINYA. LALU MENAHAN AIR
DALAM TENGGOROKAN HINGGA MEMBENTUK SUARA-SUARA ANEH.
SEKUMPULAN ORANG-ORANG MENGANGKAT TUBUH PIKO DI
ATAS KURSI.MEREKA MENGIKUTI ARAH ABU BERJALAN.
SEKUMPULAN ORANG I
Kemana, tuan?
PIKO
Ke situ
SEKUMPULAN ORANG II
Di sini, tuan?
PIKO
Bukan di sini, bebal. Ini Utara. Ke sana! Ya.Cukup
di sini. (Kepada Abu) Berjalan ke arah sana. Jangan ke situ bodoh.Perlebar
langkahmu.Jangan terlalu cepat, bego.Ya.Pelan-pelan tapi tetap berjalan.Jangan
cepat.Itu berlari namanya, tolol.Nah, seperti itu.Jangan lakukan secara
sembrono.Gunakan irama.Keraskan suara di tenggorokanmu.Lebih keras.Lebih keras
lagi.
SEKUMPULAN ORANG IV
Ciha..ciha.. perahu pinisiku berlayar!
SEKUMPULAN ORANG II
Ia benar-benar kuda troya yang tangguh!
PIKO
(Memerintahkan Sekumpulan Orang-orang untuk
berpindah tempat) Jangan lewatkan dadu di anak tangga turun ke kolom ular.Abu,
lompatlah lebih jauh.Ya.Itu terlalu mudah.Melompatlah lebih jauh lagi.
MEREKA TERLIBAT DALAM PUTARAN ARUS. ABU TERUS
MEMPERMAINKAN SUARA-SUARA ANEH PADA TENGGOROKANNYA. SEMENTARA PIKO DAN
SEKUMPULAN ORANG BERADA DI BELAKANG. DI SEBUAH KETINGGIAN. MENCOBA MENGATUR
IRAMA PERMAINAN.
SEKUMPULAN ORANG III
Badainya semakin kencang, tuan.
PIKO
Jangan berhenti,
tolol. Mereka akan memperolok-olok jika kita lemah. Kau harus berpura-pura kuat
dan tabah.
BERHENTI MEMAINKAN SUARA ANEH DI TENGGOROKANNYA.
TUBUHNYA TERIKAT OLEH SEKUMPULAN ORANG-ORANG.
ABU
Aku akan terus berpura-pura tabah. Aku akan terus
berpura-pura kuat, tuan. Waspadalah, di depan ada sebuah batu karang hitam.
SEKUMPULAN ORANG IV
Tarik tali layar. Di depan ada batu karang hitam.
SEKUMPULAN ORANG II
Biarkan saja.Ia kuda troya yang tangguh. Aku yakin
ia mampu menghadapi batu karang hitam itu.
ABU
Persetan dengan batu karang hitam. Aku akan
menghadapi hidup berdasarkan keyakinanku sendiri.
PIKO
Hati-hati dengan keputusanmu itu. Mereka akan
menghajarmu hingga tanpa rupa. Kau tak bisa menghindar dari aroma agrarismu itu
Abu.
ABU
Persetan dengan kata-katamu itu.Sistem di tubuhku
mulai kacau.Aku tak dapat melerai setiap kepentingan yang telah berpihak
kepadaku. Maka, telah kuputuskan..
PIKO
Apa yang telah kau putuskan?
ABU
Aku akan menjadi manusia merdeka!
PIKO
Tidak bisa begitu, tolol! Permainan ini belum
usai.Kau harus menyelesaikannya bila aku anggap ini telah usai.Apa kau bilang
tadi? Kau telah membuat keputusan? Ha..ha.. ha.. siapa yang lebih berkuasa di
sini. Engkau atau aku.Maka, alur permainan ini berada dalam tanganku. Ayolah..
Kemana kau akan menyandarkan masa depanmu. Keluarga?Ini jaman sulit.Semua
predator yang kau hadapi jauh lebih ganas dari yang kau duga.Maka, tak ada
kemerdekaan yang sesungguhnya dalam hidup ini.Jangan membuat perlawanan yang
pada akhirnya membuat masa depanmu hancur.Bergabunglah bersama kami.Tindakan
harus dilakukan.
ABU
Bedebah!
PIKO
Apa?
ABU
Persetan dengan tindakan itu!
SEKUMPULAN ORANG-ORANG SALING BERGANTIAN
BERSAHUTAN. MEREKA MENARIK TALI KEKANG DI TUBUH ABU SECARA KASAR. ABU COBA
BERONTAK.
SEKUMPULAN ORANG-ORANG (SALING BERSAHUTAN)
Ganyang! Hancurkan! Bakar hidup-hidup! Cincang
dagingnya! Akan aku lumat tulang-tulangnya!
PIKO
Kau telah mengecewakanku, Abu.Kau telah menghianati
kesetianmu sendiri.
TIBA-TIBA ASMA DAN JANTUNGNYA KUMAT.IA MENGERANG
KESAKITAN SEBELUM JATUH ROBOH.SEBELUMNYA IA SEMPAT SEMPOYONGAN.MENGUCAPKAN
KATA-KATA TAK JELAS.
LAMPU FADE OUT
SUASANA HENING
PANGGUNG DALAM KEADAAN GELAP. HANYA CAHAYA
BERKEDAP-KEDIP DI BELAKANG PANGGUNG. DI TENGAH PANGGUNG, SEKUMPULAN ORANG-ORANG
DALAM FORMASI SIAP MENUNGGU PERINTAH DARI PIMPINANNYA YANG BARU.
SUARA PELUIT DITINGKAHI SIRINE YANG MEMANJAT
DINDING MALAM.
SEKUMPULAN ORANG-ORANG
Tindakan segera dilakukan!
CAHAYA BLACK IN
DI PANGGUNG SEBELAH KANAN, TAMPAK ABU MENGENAKAN
KACA MATA HITAM DUDUK DENGAN ANGGUN MENGHADAP KE ARAH PENONTON.
ABU
Aku akan mengajarkan pada kalian bagaimana makan
sup buncis yang lebih sopan. Apakah kalian pernah merasakan sensasi semangkok
sup buncis dalam keadaan lapar. O, tentu saja tidak. Kalian tidak pernah
mengerti.
TAK ADA JAWABAN.
HENING.CAHAYA PERLAHAN-LAHAN SURUT DI TUBUH ABU.
CAHAYA FADE OUT
Mataram, September – Oktober 2003





Komentar
Posting Komentar