Pertanyaan Masif Pada Gerakan Teater
Mataram, 28 Maret 2014
Saya tidak tahu secara persis, apa yang menyebabkan menurunnya gairah teater di Mataram belakangan ini. Padahal, geliat itu sempat membuncah di era 90an. Tidak saja melahirkan karya-karya yang bermutu melainkan pula tulisan-tulisan baik essay serta tulisan pendek di media cetak. Grup-grup teater tidak saja lahir di dalam komunitas masyarakat tetapi juga di lingkungan sekolah.
Sebagai grup teater yang lahir dari komunitas masyarakat, setidak kita dapat menarik benang merah peta sosial, ekonomi dan geliat kegelisahan dalam masyarakat tertentu. Sehingga banyak peristiwa kebudayaan dapat tercover meski tidak secara utuh.
Peran Pemerintah
Sejak dulu saya kurang begitu yakin, bahwa pemerintah begitu benar-benar jujur dan bersemangat dalam memajukan perteateran di Indonesia. Keyakinan itu berdasarkan program-program yang digarap tidak berdasarkan data base dan research yang serius bagi perkembangan seni pertunjukan, khususnya pertunjukan teater.
Jika tak salah ingat, saya pernah mengikuti kegiatan yang diselenggarakan pemerintah berupa kegiatan Temu Teater Nasional (93) dan Festival Nasional Teater (96 dan 99). Kegiatan itu saya kira tidak saja sukses lebih dari itu kita secara tak sengaja telah mengidentifikasi jenis-jenis kebudayaan daerah melalui pertunjukan teater (modern). Dan, yang lebih penting ada suasana dialogis para pelaku teater di seluruh Indonesia dengan para sesepuh teater (saat itu) seperti Putu Wijaya, Bakdi Soemanto, Nano Riantiarno, Suyatna Anirun, Rachman Sabur, A. Kasim dll. Dan tidak ketinggalan tokoh-tokoh muda teater seperti Dindon, Rik A. Sakri, Irwan Jamal dsb.
Menyimak tulisan di atas, peran pemerintah saya kira cukup berperan dalam memajukan peta seni pertunjukan teater di Indonesia. Meski, dalam catatan kecil para aktor dan sutradara tidak bergantung pada cuaca baik yang dikabarkan dari Jakarta. Kegiatan pentas teater mesti berlangsung di setiap daerah meski ada atau tak adanya kegiatan teater yang diselenggarakan pemerintah.
Lost Generation
Ada hal ganjil saya perhatikan dalam peta teater di Indonesia, khususnya yang menyangkut teater yang tumbuh di sekolah. Hal ganjil itu adalah begitu semaraknya festival teater yang khusus diikuti para pelajar. Kegiatan ini tak pernah sepi bahkan pesertanya cenderung meningkat dari tahun ke tahun. Saya juga tidak tahu, apa yang menyebabkan mereka begitu bersemangatnya bergabung di teater dalam rangka festival teater pelajar itu. Yang membuat saya bergembira tentu saja bahwa anak-anak remaja mulai menggemari teater seperti mereka menggandrungi musik korea. Dan hal yang menyedihkan bahwa setelah festival teater, mereka kembali tenggelam dalam rutinitas. Kembali sebagai anak remaja dan siswa yang dibebani sekantong tugas. Kegiatan teater yang mereka lakoni di sekolah tidak lantas berkembang, meski sekolah mereka mengantongi piagam penghargaan sebagai grup penyaji terbaik. Tak ada kegelisahan mereka untuk menekuni lebih jauh apa itu teater sesungguhnya. Dengan mengantongi predikat aktor dan aktris terbaik sudah lebih dari cukup untuk mengatakan bahwa mereka adalah orang teater.
Yang terjadi berikutnya tentu saja, tak ada ketertarikan anak-anak muda untuk bersetubuh dengan teater lebih militan. Tapi, tunggu dulu. Mereka, anak-anak muda itu, tidak sepatutnya dipersalahkan. Sebab, jika mereka ingin menekuni teater lebih jauh, mereka akan dihadapkan pada persoalan berikutnya: adakah grup teater yang benar-benar mapan (mapan dengan program latihan rutin dan jadwal pentas) di kotanya? Jika ada, tentu saja mereka layak merasa bahagia untuk belajar lebih jauh. Dan sebaliknya, jika di kota itu tak ada lagi grup-grup teater yang eksis, ini yang menjadi soal. Saya kira, ini yang patut untuk kita identifikasi mengapa grup-grup teater itu tidak lagi se-eksis dijamannya? Apakah faktor ekonomi, sosial atau tuntutan jaman yang kian sulit? Kita tidak bisa berharap dan berharap seperti dalam lakon Waiting for Godot. Karena tidak ada kepastian dalam penantian. Kecuali putus asa atau melakukan sesuatu seperti mengikat tali sepatu atau memetik daun-daun kering di bebatuan. (rew)
Saya tidak tahu secara persis, apa yang menyebabkan menurunnya gairah teater di Mataram belakangan ini. Padahal, geliat itu sempat membuncah di era 90an. Tidak saja melahirkan karya-karya yang bermutu melainkan pula tulisan-tulisan baik essay serta tulisan pendek di media cetak. Grup-grup teater tidak saja lahir di dalam komunitas masyarakat tetapi juga di lingkungan sekolah.
Sebagai grup teater yang lahir dari komunitas masyarakat, setidak kita dapat menarik benang merah peta sosial, ekonomi dan geliat kegelisahan dalam masyarakat tertentu. Sehingga banyak peristiwa kebudayaan dapat tercover meski tidak secara utuh.
Peran Pemerintah
Sejak dulu saya kurang begitu yakin, bahwa pemerintah begitu benar-benar jujur dan bersemangat dalam memajukan perteateran di Indonesia. Keyakinan itu berdasarkan program-program yang digarap tidak berdasarkan data base dan research yang serius bagi perkembangan seni pertunjukan, khususnya pertunjukan teater.
Jika tak salah ingat, saya pernah mengikuti kegiatan yang diselenggarakan pemerintah berupa kegiatan Temu Teater Nasional (93) dan Festival Nasional Teater (96 dan 99). Kegiatan itu saya kira tidak saja sukses lebih dari itu kita secara tak sengaja telah mengidentifikasi jenis-jenis kebudayaan daerah melalui pertunjukan teater (modern). Dan, yang lebih penting ada suasana dialogis para pelaku teater di seluruh Indonesia dengan para sesepuh teater (saat itu) seperti Putu Wijaya, Bakdi Soemanto, Nano Riantiarno, Suyatna Anirun, Rachman Sabur, A. Kasim dll. Dan tidak ketinggalan tokoh-tokoh muda teater seperti Dindon, Rik A. Sakri, Irwan Jamal dsb.
Menyimak tulisan di atas, peran pemerintah saya kira cukup berperan dalam memajukan peta seni pertunjukan teater di Indonesia. Meski, dalam catatan kecil para aktor dan sutradara tidak bergantung pada cuaca baik yang dikabarkan dari Jakarta. Kegiatan pentas teater mesti berlangsung di setiap daerah meski ada atau tak adanya kegiatan teater yang diselenggarakan pemerintah.
Lost Generation
Ada hal ganjil saya perhatikan dalam peta teater di Indonesia, khususnya yang menyangkut teater yang tumbuh di sekolah. Hal ganjil itu adalah begitu semaraknya festival teater yang khusus diikuti para pelajar. Kegiatan ini tak pernah sepi bahkan pesertanya cenderung meningkat dari tahun ke tahun. Saya juga tidak tahu, apa yang menyebabkan mereka begitu bersemangatnya bergabung di teater dalam rangka festival teater pelajar itu. Yang membuat saya bergembira tentu saja bahwa anak-anak remaja mulai menggemari teater seperti mereka menggandrungi musik korea. Dan hal yang menyedihkan bahwa setelah festival teater, mereka kembali tenggelam dalam rutinitas. Kembali sebagai anak remaja dan siswa yang dibebani sekantong tugas. Kegiatan teater yang mereka lakoni di sekolah tidak lantas berkembang, meski sekolah mereka mengantongi piagam penghargaan sebagai grup penyaji terbaik. Tak ada kegelisahan mereka untuk menekuni lebih jauh apa itu teater sesungguhnya. Dengan mengantongi predikat aktor dan aktris terbaik sudah lebih dari cukup untuk mengatakan bahwa mereka adalah orang teater.
Yang terjadi berikutnya tentu saja, tak ada ketertarikan anak-anak muda untuk bersetubuh dengan teater lebih militan. Tapi, tunggu dulu. Mereka, anak-anak muda itu, tidak sepatutnya dipersalahkan. Sebab, jika mereka ingin menekuni teater lebih jauh, mereka akan dihadapkan pada persoalan berikutnya: adakah grup teater yang benar-benar mapan (mapan dengan program latihan rutin dan jadwal pentas) di kotanya? Jika ada, tentu saja mereka layak merasa bahagia untuk belajar lebih jauh. Dan sebaliknya, jika di kota itu tak ada lagi grup-grup teater yang eksis, ini yang menjadi soal. Saya kira, ini yang patut untuk kita identifikasi mengapa grup-grup teater itu tidak lagi se-eksis dijamannya? Apakah faktor ekonomi, sosial atau tuntutan jaman yang kian sulit? Kita tidak bisa berharap dan berharap seperti dalam lakon Waiting for Godot. Karena tidak ada kepastian dalam penantian. Kecuali putus asa atau melakukan sesuatu seperti mengikat tali sepatu atau memetik daun-daun kering di bebatuan. (rew)
.jpg)



Komentar
Posting Komentar