Catatan Pentas Tour Keliling Teater Lho Indonesia 2013 - 2014

Tak Sekedar Mengisi Ruang Sunyi


Perjalanan pentas keliling Teater Lho Indonesia di desa Gondang, Kecamatan Gangga, Kabupaten Lombok Utara, merupakan catatan peristiwa kebudayaan yang penting. Menjadi penting dari aspek potensi KLU hingga minimnya kalender seni pertunjukan di KLU. Walau terbilang penting, kegiatan ini baru terlaksana 2014, sejak kelahirannya 1990 lalu. Catatan serta pertanyaan retoris itu, tentu menggoda saya untuk membuat catatan. Banyak hal bisa dipetik untuk menjadi catatan penting. Tentu saja, sebagai salah satu peristiwa kebudayaan, ada beberapa catatan lain yang saya kira cukup untuk dijadikan pemikiran para pekerja seni (baca: teater) dan pemerintah KLU selaku pemegang policy.

Melirik Potensi KLU
Desa Gondang, ditinjau dari aspek geografis bukan sebuah lokasi yang tealienasi atau terpencil. Ia masih berada dialur jalan protokol. Jalan penghubung ke ibukota provinsi NTB, Mataram. Itu artinya, bahwa banyak peristiwa penting dilalui para pejabat baik lokal maupun dari pusat. Bahkan, saya bilang pada Kabag Humas Pemda Lombok Utara, bahwa secara geografis, KLU merupakan daerah yang sangat potensial untuk digarap. Cukup seksi dalam peta geografis. Baik secara ekonomi, pariwisata serta kebudayaan.  

Secara ekonomi, daerah ini terkenal dengan areal pertanian dengan lahan subur. Hamparan padang luas membentang. Dipagari bebukitan menghampar hijau bak karpet permadani. Pohon-pohon kelapa membentang seluas mata memandang. Dan, tentu saja pemandangan gunung Rinjani yang telah terkenal sejak zaman dahulu kala. Pendek kata, kita dapat mengkalkulasi bahwa daerah ini tak akan mungkin menelantarkan penghuninya. Sepanjang perjalanan dari Tanjung hingga Senaru, kita dimanjakan pemandangan yang hijau serta asri.

Dari aspek pariwisata, KLU tak kalah dengan kabupaten-kabupaten lain di daerah Nusa Tenggara Barat. Daerah ini dapat menawarkan kepada pengunjung dengan andalan destinasi seperti pantai, daerah bebukitan yang hijau, air terjun, serta tracking (pendakian gunung Rinjani). Tentu saja, potensi kuliner untuk kabupaten Lombok Utara tidak bisa dianggap sebelah mata. Kita sudah mengenal cita rasat sate ikan Tanjung yang terkenal unik serta lezat. Kuliner yang diolah dari bahan baku ikan. Tak diragukan lagi protein yang terkandung pada salah satu jenis kuliner andalan daerah KLU.  Tentu saja, masyarakat dan pemerintah daerah masih dapat menggali serta mengekplorasi kuliner yang diperoleh dari kekayaan laut yang begitu melimpah.

Daerah pesisir yang masih sepi itu, akan terasa lebih indah jika masyarakat diberdayakan (diberi skill dan modal) untuk menyajikan makanan khas lain seperti ikan bakar. Selain sebagai tempat untuk peristirahatan bagi turis, juga dapat memperindah sepanjang pesisir pantai. Bayangkan, dari Tanjung hingga Senaru, terutama di desa Gondang, tak banyak warung yang menyajikan makanan khas daerah Lombok Utara. Untuk mengisi perut kosong (dari Senaru), kita harus menuju Tanjung untuk mencari rumah makan yang repesentatif. Dan, tentu saja, untuk menuju kesana butuh waktu yang lumayan lama. Saya berharap, pemerintah kabupaten Lombok Utara bisa menggerakan potensi ini lebih dinamis, agar sepanjang pesisir tidak lagi menjadi tempat yang sepi serta terkesan teralienasi.  

Saya kira potensi alam daerah KLU tak akan pernah habis untuk dieksplorasi jika seluruh elemen baik pemerintah KLU dan warganya mau bekerja lebih keras lagi. Mengesampingkan aspek politik dan untuk kepentingan segelintir kelompok dan orang-orang tertentu saja. Kita belum lagi melihat potensi yang ada di dalam komunitas masyarakatnya yang sangat plural. Sebagaimana kita ketahui, bahwa di daerah KLU kita dapat menemukan berbagai komunitas keyakinan baik dari Islam, Hindu, kristen dan Budha. Mereka dapat hidup berdampingan secara damai secara turun-temurun. Tanpa ada rasa kecemburuan atau teralienasi sebagai warga KLU. Saya kira ini juga merupakan salah satu potensi kebudayaan yang tidak ternilai.

Kepercayaan diri warga KLU dalam mengembangkan potensi kebudayaan harus segera dipulihkan. Bahwa mereka punya identitas diri yang berbeda dengan daerah lain. Identitas diri itu merupakan warisan budaya yang sudah mereka terima sejak mereka lahir. Saya kira, tidak semua identitas kebudayaan itu bagus. Tetapi, sejatinya kebudayaan yang baik akan terus hidup berdampingan dan disanggah elemen pendukungnya secara apik melewati masa demi masa. Dan sebaliknya, kebudayaan yang tidak baik akan punah ditelan jaman. Karena tidak mampu mengikuti arus perkembangan jaman yang semakin kompleks.

Di sisi lain, mereka harus siap berhadapan dengan serangan kebudayaan modern yang setiap waktu dapat mengintervensi pola pikir serta laku keseharian. Arus pintu masuk globalisasi ke suatu daerah begitu sangat terbuka. Apalagi, media transformasi budaya global sangat mudah ditemukan, baik melalui jaringan media sosial atau internet. Lagi pula, siapa yang tidak ingin melihat secara dekat keindahan gunung Rinjani dan kebudayaan masyarakat Lombok Utara. Jika masyarakat tidak dipersiapkan secara mental, tidak mengherankan jika suatu hari mereka akan menjadi manusia asing di tanah kelahirannya sendiri. Persis seperti yang dialami warga di Senggigi atau daerah pariwisata umumnya di Indonesia.

Lahan-lahan subur yang tak mampu mereka garap perlahan-lahan berpindah tangan ke investor asing atau dari Jakarta. Jika hal ini didiamkan berlarut-larut maka kepercayaan diri masyarakat secara perlahan akan aus. Hingga menjadi krisis akut dalam proses percepatan pembangunan mental karakter bangsa. Apalagi yang mereka dapat banggakan, jika mereka sendiri sudah merasa asing di tanah kelahirannya sendiri.

Minimnya Intensitas Seni Pertunjukan (Teater)
Saya begitu yakin, bahwa dengan menggiatkan kelompok-kelompok seni di dalam masyarakat KLU, daerah ini akan lebih cepat maju. Daerah ini dapat lebih mudah dikenali tinimbang dengan kegiatan melulu berpolitik di masing-masing konstituen. Gerakan yang sangat seragam dan tidak kreatif dilakukan para tokoh politik (nyaris) di seluruh daerah di Indonesia, tak terkecuali di Lombok Utara.

Saya sempat mengalami kesulitan untuk mencari gedung pertunjukan (teater). Dari diskusi dengan beberapa kawan di Lombok Utara, akhirnya pilihan ditujukan pada gedung Serba Guna KLU. Gedung ini dianggap cukup representatif jika dibandingkan dengan tempat-tempat lain di Lombok Utara. Pertimbangan untuk dilakukan pentas secara out door juga penuh pertimbangan. Salah satunya, cuaca. Kami tidak ingin merepotkan diri sendiri dan panitia lokal. Dengan segala keterbatasan, kami coba rancang sebuah kegiatan yang diberi tajuk Workshop dan Pertunjukan Teater.

Yang menarik di sini bahwa pertunjukan teater di Gedung Serba Guna KLU baru pertama kali dilakukan oleh Teater Lho Indonesia. Maka, berlangsunglah kegiatan workshop teater dihadiri puluhan pelajar se KLU. Animo para pelajar begitu tinggi untuk mengikuti kegiatan workshop teater. Mereka berharap kegiatan serupa dapat dilakukan tidak hanya sekali itu saja. Namun, dapat dibuat program kesinambungan. Dengan harapan para pelajar dapat mengenal teater lebih jauh dan dapat menggelar pertunjukan teater di Gondang.

Minimnya jumlah pertunjukan seni di KLU menyebabkan rendahnya daya apresiasi masyarakat. Tentu saja, ini tantangan para pekerja seni (baca: teater) dan buat pemerintah KLU itu sendiri. Kabag Humas dan Protokol KLU, bapak Ihwan Budiman menegaskan dalam sambutannya bahwa ia berharap kegiatan pentas teater dan workshop tidak berhenti sampai di sini saja. Ia berharap kegiatan serupa dapat dilakukan kembali untuk lebih menggairahkan kegiatan kepemudaan di KLU. Hal senada juga disampaikan Sekretaris Dinas Kebudayaan Pemuda dan Olah Raga (Sekdis Dikpora) Kabupaten Lombok Utara, Adenan MPd (25/1/2014), bahwa ia akan mendukung secara penuh pendanaan kegiatan yang berhubungan dengan pelajar, khususnya workshop pelatihan teater dan festival teater di Kabupaten Lombok Utara.

Tentu saja, saya berharap apa yang disampaikan pejabat dari KLU tidak sekedar janji. Lebih dari itu ada bukti kongkrit untuk mewujudkan harapan para guru dan pelajar yang ingin mengenal seni pertunjukan lebih serius. Dan pertemuan awal bersama teater Lho Indonesia, bukan pertama dan akhir. Melainkan babak baru untuk mewujudkan KLU yang maju serta berkualitas. Mampu bersaing dengan daerah lain di provinsi NTB yang lebih maju. 








Komentar

Postingan Populer