Lakon Orang Asing Rupert Brook Sutradara R. Eko Wahono



Banalitas Dalam Rumah Tangga

Kemiskinan baik secara fisik dan psikis kerap menjadi sumber malapetaka. Dari sini segalanya bermula. Segala bentuk wujud eksistensi manusia diuji. Seberapa jauh ia mampu bertahan serta menyiasati peristiwa itu. Lewat lobang jarum atau ia mati terjebak dalam lingkaran mematikan itu. Banalitas dalam wilayah domestik kerap terjadi. Sumber malapetakanya sungguh purbawi dan manusiawi. Mendapatkan satu bentuk kepuasan dari sisi ekonomi hingga nafsu purbawi (sahwat). Itu dilakukan saban hari baik melalui ucapan kasar hingga perlakuan fisik secara keras. Perlakuan ulang-berulang itu menjadi hal biasa dan dipertontonkan dengan sikap egaliter.

Kehadiran banalitas dalam rumah tangga menjadi impresi mendalam dalam lakon Orang Asing besutan Rupert Brook dan disutradarai R. Eko Wahono. Lakon ini akan dipentaskan Teater Lho Indonesia, mulai 13 hingga 14 Desember 2013 di gedung teater tertutup Taman Budaya NTB.

Alkisah, Orang Asing itu mendadak hadir di sebuah rumah yang terletak di tengah hutan. Ia membawa sebuah kopor berisi kertas kerja dan uang yang jumlahnya tidak sedikit. Tokoh Ibu, Bapak dan Anak merasa heran dengan perilaku Orang Asing di dalam rumahnya. Cara ia berpakain dan sejumlah uang dalam kopor kulit itu, membuat mereka berpikiran lain. Pertama, siapakah sebenarnya Orang Asing yang menumpang tidur dan makan malam di rumahnya. Bahkan, ia keluarkan sebuah arloji berlapis emas. Sebuah benda yang belum pernah mereka lihat sebelumnya.

Kedua, kopor berisi tumpukan kertas dan sejumlah uang yang tidak sedikit itu, sungguh-sungguh pemandangan ganjil. Ditambah berjalan dalam hutan dengan alasan nyasar. Dan, ia melihat cahaya dalam rumah tak jauh dari tempat ia berdiri. Lalu, ia memilih untuk bermalam dan sekedar menumpang makan.

Kehadiran Orang Asing di dalam rumah, menimbulkan konspirasi antara Tokoh Bapak, Ibu dan Sinah (Anak). Mereka berencana untuk membunuh Orang Asing yang sedang terlelap di kamar tidur. Alasan mereka, ia tak lebih seorang maling. Apa haknya arloji dan uang yang ada dalam kopor. Itu sebabnya, banyak orang kelaparan karena dia maling. 

Ketegangan untuk meng-eksekusi siapa sepantasnya membunuh pun menjadi bahan perdebatan. Si Bapak, menganggap bahwa dirinyalah yang layak untuk membunuh tamu yang sedang tidur pulas itu. Tapi, nyalinya mendadak surut. Ia merasa sakit. Ia butuh minum tuak untuk melakukan pembunuhan itu. "Aku pernah bunuh orang sekali dalam perkelahian. Sekali..." Ia lalu pergi meninggalkan rumah untuk membeli tuak.

Sinah merasa bahwa Bapak hanya cari alasan untuk tidak jadi membunuh Orang Asing itu. Dan tuak jadi kompensasi untuk menutupi rasa takutnya. Malam semakin larut. Sinah mulai tak sabar. Ibu coba menghalangi anaknya untuk melakukan perbuatan terkutuk itu. Tapi apa daya, sebuah kapak sudah ada di tangannya. "Ambil sarung itu. Lempar dan tutup kepalanya dengan sarung itu," perintah Sinah kepada Ibunya.

Apakah Sinah akan melakukan pembunuhan terhadap Orang Asing itu? Dan, siapakah sesungguhnya Orang Asing yang tertidur lelap dalam kamar tidur itu? 





Komentar

Postingan Populer